Mantan Jubir HTI Minta PA 212 Dipertahankan untuk Kritik Pemerintah Massa aksi dari Persaudaraan Alumni (PA) 212 berdatangan menuju gedung Mahkamah Konstitusi. Foto: MP/Kanu

MerahPutih.com - Mantan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto menilai Persaudaraan Alumni 212 harus dipertahankan. Terutama dalam mengkritisi program kerja pemerintahan.

Ia melihat antusias publik terhadap agenda-agenda 212 tersebut juga sangat besar. Jutaan umat Islam pernah sampai tumpah-ruah di Jakarta. Ismail Yusanto berharap agar brand 212 tidak diganti namanya dengan nama apapun.

Baca Juga: Sikapi Pertemuan Jokowi dan Prabowo, PA 212 Gelar Ijtima Ulama Keempat

Mantan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto

“Makanya saya harap ke teman-teman jangan diubah namanya 212. Karena tone-nya jelas yakni Aksi Bela Islam (ABI), Bela Quran, Bela Ulama, Bela Habaib, Bela Negara,” ujar Ismail di Jakarta, Jumat (19/7).

Sementara, Ketua bidang Humas Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Habib Novel Bamukmin menilai bahwa sampai kapanpun pihaknya tidak akan mengakui adanya rekonsiliasi antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo.

Ia menilai bahwa islah antara Prabowo dengan Jokowi usai Pilpres 2019 rampung justru melukai hati para pendukung Prabowo-Sandi.

Baca Juga: Pilpres Usai, Nasib Kelompok Alumni 212 dan Loyalis Prabowo Terancam Berakhir

“Ini yang sangat berbahaya, kita nggak bisa nerima toleransi terhadap ucapan selamat sebagian yang kita ramaikan itu adalah yang melukai kita,” kata Novel.

Novel menyatakan bahwa Pilpres 2019 masih menyisakan persoalan yakni kecurangan yang dinilai pihaknya Tersetruktus, Sistematis dan Masif (TSM). Jika Prabowo melakukan rekonsiliasi, maka pemahaman Novel bahwa Prabowo mencoba mencampur-adukkan antara yang baik dan benar.

Habib Novel Bamukmin (kanan) didampingi kuasa hukumnya Ali Lubis seusai menjalani pemeriksaan TPPU dana Yayasan Keadilan untuk Semua di Bareskrim Mabes Polri di Jakarta Pusat, Senin (13/2). (Foto MP/Yohanes Abimanyu)
Habib Novel Bamukmin (kanan) didampingi kuasa hukumnya Ali Lubis seusai menjalani pemeriksaan TPPU dana Yayasan Keadilan untuk Semua di Bareskrim Mabes Polri di Jakarta Pusat, Senin (13/2). (Foto MP/Yohanes Abimanyu)

“Artinya biasa kok haq dan yang bathil ini bisa dijadikan satu. Padahal (antara) haq dan bathil ini nggak bisa dijadikan satu. Biar bagaimana (jika) hak ya hak, bathil ya bathil,” ujar Novel.

Baca Juga: Lupakan Rizieq Shihab Saat Bertemu Jokowi, PA 212 Pastikan Tak Dukung Prabowo

“Kita harus punya sikap tegas, di tengah-tengah saja nggak bisa, di antara haq dan bathil," tandas Novel. (Knu)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH