Mantan Anggota FPI Akui Munarman Hadiri Baiat ISIS di Makassar Densus 88 Antiteror Polri menangkap Munarman terkait dugaan aksi teroris. (ANTARA/HO-Polda Metro

MerahPutih.com- Pengadilan Negeri Jakarta Timur kembali menggelar sidang kasus dugaan tindak pidana terorisme yang menjerat mantan mantan Sekretaris Front Pembela Islam (FPI) Munarman.

Jaksa Penutut Umum (JPU) mendakwa Munarman dengan pasal 14 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme lantaran Munarman dianggap sebagai orang yang berpengaruh.

Baca Juga

Sidang Kasus Dugaan Terorisme, Saksi Ungkap Peran Munarman dan Rizieq Shihab

Dalam sidang ini, dihadirkan saksi AR selaku yang mantan anggota FPI. Di depan majelis hakim, AR dicecar pertanyaan untuk mengetahui acara baiat ISIS yang dihadiri Munarman pada 25 Januari 2015.

"Tanggal 25 ada baiat," tanya hakim kepada AR.

Namun, dia menyatakan mengikuti acara baiat itu bukan karena kehendak sendiri. Melainkan terpaksa karena keanggotaannya sebagai Laskar FPI pada saat itu.

"Ikut yang mulia, karena kondisi terpaksa yang Mulia. Bukan dengan kehendak saya yang Mulia," jawab AR santai.

Setelah mendengarkan kesaksian AR terkait acara baiat ISIS di Makassar, majelis hakim kembali bertanya kepada AR mengenai keberadaan Munarman saat acara berlangsung.

AR yang kebetulan berada dalam acara tersebut menjawab dengan lantang, "Ada yang Mulia. Ada".

Selanjutnya hakim menanyakan soal ceramah yang disampaikan Munarman dalam acara baiat tersebut. "Iya yang Mulia (Munarman memberikan ceramah)," ucapnya.

Kemudian hakim kembali bertanya soal tempat duduk Munarman pada saat memberikan ceramah. "Ngeliat yang Mulia, sepintas dia ngikut," jelas dia.

Baca Juga

Nada Munarman Meninggi ke Saksi, Hakim Putar Video Dugaan Baiat ISIS

Selanjutnya hakim bertanya soal tata cara baiat dilakukan. AR menjawab dilakukan dengan cara duduk dan berdiri. "Terus, ngacungkan jari?" cecar Hakim. "Iya yang Mulia, ngacungkan jari yang Mulia" jawab AR.

Kendati demikian, AR tak dapat menjawab saat hakim menanyakan apakah Munarman ikut mengacungkan jari saat baiat berlangsung.

"Tidak menyaksikan karena pandangan saya ke jamaah. Saya ada di sisi kanan yang mulia, jadi ketika melihat ke jamaah saya tidak sempat melihat (Munarman)," tuturnya.

Dia juga ditanya soal posisi Munarman yang dianggap memiliki pengaruh dan kedudukan tinggi di FPI.

JPU menyinggung Pasal 14 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme karena Pasal itu menerangkan hukuman mati baru dapat digunakan kepada seseorang yang berpengaruh dan memiliki kedudukan tinggi.

”Yang saya ketahui pertama itu Beliau (Munarman) ketua daripada lembaga hukum yang ada di FPI. Yang kedua beliau sekretaris. Jadi artinya terdakwa memiliki kedudukan yang terhormat dan pengaruh yang kuat di FPI,” ujar JPU.

Sebagai informasi, bunyi Pasal 14 yaitu "Setiap orang yang dengan sengaja menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 10A, Pasal 12, Pasal 12A, dan Pasal 12B, dipidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara 20 tahun.

Namun, di tengah persidangan saat JPU menanyakan hal tersebut kepada saksi, Majelis Hakim memotong pertanyaan JPU.

Majelis Hakim menegur JPU karena apa yang ditanyakan mengarahkan kepada kesimpulan.

”Penuntut umum itu kesimpulan ya, jangan disampaikan, lainnya pertanyaan silahkan,” ujar hakim.

Untuk diketahui, Munarman didakwa merencanakan dan menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme. Hal tersebut disampaikan Jaksa Penuntut Umum dalam sidang kasus dugaan terorisme.

Hal tersebut disampaikan Jaksa Penuntut Umum dalam sidang kasus dugaan tindak pidana terorisme yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (8/12) lalu.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan, jaksa menyebut bahwa Munarman pada medio 2015 terlibat dalam serangkaian kegiatan di beberapa tempat. Misalnya pada 24 dan 25 Januari 2015 dan beberapa kesempatan di tahun yang sama. (Knu)

Baca Juga

Eksepsi Munarman Ditolak, Hakim Minta Jaksa Hadirkan Saksi

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Legislator PDIP Minta Calon Anggota KPU Klarifikasi Pernyataan Parpol Tidak Berkontribusi
Indonesia
Legislator PDIP Minta Calon Anggota KPU Klarifikasi Pernyataan Parpol Tidak Berkontribusi

Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PDIP, Komarudin Watubun meminta August memberikan klarifikasi soal pernyataan partai politik tidak berkontribusi tersebut.

Polda Metro Jadwalkan Pemeriksaan Rachel Vennya Kamis Depan
Indonesia
Polda Metro Jadwalkan Pemeriksaan Rachel Vennya Kamis Depan

Penyidik Polda Metro Jaya dijadwalkan akan memeriksa selebgram Rachel Vennya pada Kamis (21/10) untuk dimintai keterangan lantaran kabur saat menjalani karantina di Wisma Atlet Pademangan usai berlibur dari luar negeri.

Kota Solo jadi Kiblat Dalami Ilmu Budaya Keroncong
Indonesia
Kota Solo jadi Kiblat Dalami Ilmu Budaya Keroncong

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki yang membuka langsung acara menyebut Kota Solo menjadi kiblat dalam mendalami ilmu budaya keroncong.

Alasan Polri tidak Beberkan Motif Pembunuhan Brigadir J
Indonesia
Alasan Polri tidak Beberkan Motif Pembunuhan Brigadir J

Menurutnya, informasi yang diterima hanya untuk kalangan penyidik. Ia berharap motif akan terbuka sendirinya di pengadilan.

Minyak Goreng Langka di Pasaran, Polri Minta Ibu-Ibu Berhati-hati
Indonesia
Minyak Goreng Langka di Pasaran, Polri Minta Ibu-Ibu Berhati-hati

Satgas Pangan Polri mengimbau masyarakat khususnya ibu-ibu untuk tidak terpancing dengan iklan minyak goreng murah di pasaran.

Anak Buah Anies Hormati DPRD Buat Pansus Perubahan 22 Nama Jalan di Jakarta
Indonesia
Anak Buah Anies Hormati DPRD Buat Pansus Perubahan 22 Nama Jalan di Jakarta

DPRD DKI Jakarta berencana membentuk panitia khusus (pansus) terkait pergantian 22 jalan di ibu kota dengan sejumlah nama tokoh Betawi.

KPK Periksa Mendagri Era SBY di Kasus Dugaan Korupsi E-KTP
Indonesia
KPK Periksa Mendagri Era SBY di Kasus Dugaan Korupsi E-KTP

KPK telah menetapkan Paulus Tannos sebagai tersangka dalam rasuah e-KTP. Namun, sampai saat ini KPK belum menahan dan memeriksa Paulus Tannos karena kabur ke Singapura.

Megawati Hadiri Pelantikan Presiden Korsel dan Gelar Pertemuan Bilateral
Indonesia
Megawati Hadiri Pelantikan Presiden Korsel dan Gelar Pertemuan Bilateral

Pesawat yang membawa rombongan Presiden Ke-5 RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mendarat di Seongnam, Seoul, Korea Selatan (Korsel), Minggu (8/5) waktu setempat.

DPRD DKI Semprot Anies Rekrut PJLP Melebihi Kapasitas
Indonesia
DPRD DKI Semprot Anies Rekrut PJLP Melebihi Kapasitas

Perekrutan Penyediaan Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) di lingkungan Pemprov DKI mendapat sorotan tajam dari Komisi A DPRD DKI Bidang Pemerintahan.

Menteri Sri Mulyani Wanti-wanti Jangan Sampai Aset BLBI Diserobot
Indonesia
Menteri Sri Mulyani Wanti-wanti Jangan Sampai Aset BLBI Diserobot

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan untuk memanfaatkan dengan baik aset sitaan utang obligor dan debitur eks BLBI.