Maknai Hari Musik Nasional, Project Pop Tekankan Soal Royalti Tika dan Udjo Project Pop. (Foto: MP/Raden Yusuf Nayamenggala)

HARI Musik Nasional yang jatuh pada hari ini, Jumat 9 Maret 2018, merupakan suatu momen yang sangat istimewa bagi pencinta musik Tanah Air. Memeringati Hari Musik Nasional, sederet musisi Tanah Air pun memaknainya dengan cara berbeda-beda.

Grup musik asal Bandung, Project Pop yang beranggotakan Udjo, Yosi, Odie, Tika, dan Gugum, misalnya. Mereka memaknai Hari Musik Nasional sebagai salah satu warisan budaya yang harus diapresiasi.

"Hari Musik Nasional nih menurut gue ini adalah suatu warisan budaya. Karena musik itu merupakan suatu budaya. Bentuk budaya yang berkembang secara terus menerus yang menemani kehidupan berbangsa dan bernegara di negara ini, di Indonesia," ucap Udjo Project Pop saat ditemui merahputih.com di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

"Jadi taun kapan kita berdiri sampai sekarang ada musiknya. Jadi ketika ada hari musik Nasional ini adalah bentuk apresiasi terhadap karya-karya itu," tambahnya.


Tika dan Udjo Project Pop. (Foto: MP/Raden Yusuf Nayamenggala)

Personel Project Pop lainnya, Tika Panggabean juga menambahkan. Di Hari Musik Nasional ini kita jangan hanya mengapresiasi musik, tapi juga seluruh aspek yang terlibat didalamnya.

"Tidak hanya karya, namun juga penciptanya. Para musisi yang terlibat di dalamnya. Kalau berbicara tentang Hari Musik Nasional tidak hanya dari karyanya, tapi juga para pelakunya, penyanyinya dan penciptanya. Karena gak mungkin gak ada sebuah lagu tanpa ada orang-orang itu di dalamnya," terang Tika.

Menyambut Hari Musik Nasional, Projet Pop menyentil pula persoalan Royalti yang telah lama menjadi pekerjaan rumah industri musik Tanah Air. Project Pop berharap adanya dukungan pemerintah untuk lebih memerhatikan royalti bagi kesejahteraan para musisi.

"Ini PR dari dulu sebenernya, kan ada konferensi musik nasional. Saya sih berharap para musisi muda ini bisa mendorong pemerintah yang membentuk undang-undang, ya. Sedikit banyak bagaimana royalti itu bisa berjalan. Gimana sistematikanya yang efektif sehingga bagian royalti itu bisa cukup sampai dan cukup untuk para pembuat lagu itu," papar Udjo.

Mengangkat persoalan royalti memang sangat penting, karena beberapa musisi tak mendapatkan hak-hak yang menjadi seharusnya jadi miliknya. Menurut Udjo, jika royalti diperketat, akan banyak orang yang memilih berprofesi sebagai pemusik.

"Banyak juga sih yang ngambil rights ini, rights itu tapi mungkin acara hasil ya misalnya aku dapet potongan royalti ternyata potongannya kecil banget dan gak bisa untuk menghidupi . Nah kalau caranya bener saya yakin sih para musisi ini gak akan menyesal untuk memilih profesi sebagai pemusik karena itu menjanjikan sampai tua," tambah Udjo.

Tika mengimbau jika bukan hanya penghargaan atau royalti yang perlu diperhatikan, tetapi juga hukuman pada para pelanggar.

"Yang saya pikir yang perlu diperhatikan ya tidak hanya acara rewarding, tapi juga efek jera dan punishment ke orang-orang yang justru melanggar hal ini. Hukum juga harus bertindak tegas akan hal ini," pungkas Tika. (ryn)

Baca juga yuk artikel menarik yang lainnya Anji Merayakan Hari Musik Nasional Tanpa Musik.

Kredit : raden_yusuf

Tags Artikel Ini

Raden Yusuf Nayamenggala

LAINNYA DARI MERAH PUTIH