Gaya Hidup Berbasis Tanaman Hapus Emisi CO2 Global Kebutuhan akan daging sangat burukk bagi lingkungan. (Foto: Unsplash/Michael Bourgault)

GAYA hidup berbasis tanaman telah dikampanyekan sebagai hal yang ramah lingkungan. Meskipun demikian, tak banyak yang memahami bagaimana gaya hidup berbasis tanaman bisa membantu Bumi.

Nah, sebuah studi baru menemukan bahwa beralih ke makanan nabati, seperti lentil dan kacang-kacangan, dapat membantu 'secara drastis' mengurangi efek emisi karbon selama bertahun-tahun. Hal itu akan amat berpengaruh pada iklim.

Baca juga:

Teknologi Ini Mampu Lacak Badak Lewat Foto Jejak Kaki

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability tersebut menyoroti mengapa kebutuhan akan daging sangat buruk bagi lingkungan. Studi itu menunjukkan bahwa meningkatkan pertumbuhan kembali vegetasi akibat mengandalkan pola makan nabati dapat menghilangkan 9 hingga 16 tahun emisi CO2 bahan bakar fosil global.

1
Vegetasi asli tertekan oleh kebutuhan akan makanan hewani. (Foto: Unsplash/Scott Goodwill)

Jumlah ruang yang dibutuhkan untuk menanam makanan yang bersumber dari hewani mencakup 83% dari lahan pertanian di Bumi. Banyaknya lahan yang dibutuhkan untuk memelihara dan memberi makan hewan, berarti makin luas juga vegetasi asli ditekan. Akibatnya, ekosistem tidak dapat berkembang.

Sebaliknya, dilansir Euro News, menanam makanan berprotein nabati seperti miju-miju dan kacang-kacangan dapat memberi kita nutrisi penting. Hanya sebagian kecil tanah yang digunakan untuk memproduksi daging dan susu.

Penelitian itu mengamati tempat-tempat yang mengubah apa yang tumbuh dan dimakan dapat membebaskan ruang bagi ekosistem untuk beregenerasi. Hal itu mengimbangi emisi CO2 dalam prosesnya. Jika permintaan daging anjlok di tahun-tahun mendatang, jumlah penghilangan CO2 itu akan secara efektif menggandakan anggaran karbon Bumi yang menyusut dengan cepat. Demikian penjelasan penelitian tersebut.

Baca juga:

Inovasi Kota Sustainable di Masa Depan Akan Hadir di Tiongkok

2
Peternakan berpotensi memullihkan ekosistem bumi. (Foto: Unsplash/Sam Carter)

“Potensi terbesar untuk pertumbuhan kembali hutan dan manfaat iklim yang ditimbulkannya ada di negara-negara berpenghasilan tinggi dan menengah ke atas. Di tempat itu, pengurangan konsumsi daging dan produk susu akan berdampak relatif kecil pada ketahanan pangan,” kata Matthew Hayek, penulis utama penelitian.

Ia mengatakan kita dapat memikirkan untuk mengubah kebiasaan makan ke pola makan ramah-lahan sebagai suplemen untuk peralihan energi, bukan sebagai penggantinya. “Memulihkan hutan asli dapat membeli waktu yang sangat dibutuhkan bagi negara-negara untuk mengalihkan jaringan energi mereka ke infrastruktur bebas fosil yang dapat diperbarui,” jelasnya.

Nathan Mueller, rekan penulis studi tersebut, menggambarkan potensi untuk memulihkan ekosistem Bumi sebagai sesuatu yang 'substansial'. "Penggunaan lahan merupakan tentang pengorbanan," kata Mueller.

Sambil mengakui manfaat ekonomi dari peternakan di banyak wilayah di seluruh dunia, ia menyimpulkan bahwa temuan studi tersebut dapat membantu menargetkan tempat-tempat untuk memulihkan ekosistem dan menghentikan deforestasi yang sedang berlangsung.(lgi)

Baca juga:

Robot Otonom Ini Siap Pungut Sampah Plastik di Dasar Laut

Kredit : leonard


Leonard

LAINNYA DARI MERAH PUTIH