Jepang Putuskan Tato Merupakan Seni, bukan Tindakan Medis Yakuza Jepang. (Foto: All That's Interesting.)

UNTUK pertama kalinya dalam sejarah, Mahkamah Agung Jepang telah mengakui tato sebagai seni ketimbang prosedur medis. Dilansir Japan Times, Mahkamah Agung Jepang telah memutuskan bahwa menato orang tanpa izin medis bukan lagi merupakan tindakan melanggar hukum praktisi medis. Keputusan itu membuat para tattoo artist di Jepang tidak harus memiliki lisensi medis untuk mentato orang.

Keputusan besar ini dibuat atas kasus Taiki Masuda, laki-laki berusia 32 tahun yang digugat karena mentato tiga perempuan di sebuah studio di Osaka antara Juli 2014 sampai Maret 2015. Jaksa berpendapat bahwa mentato orang adalah tindakan medis, maka dari itu pentato harus memiliki izin medis, sedangkan masuda tidak memilikinya.

Taiki Matsuda, (Foto Japan Times)
Taiki Matsuda, (Foto Japan Times)

Meski begitu, Second Petty Bench dari Mahkamah Agung Jepang berpendapat bahwa tindakan medis adalah tindakan yang dianggap sebagai perawatan medis atau panduan kesehatan yang bisa menyebabkan risiko higienitas jika tidak dilakukan oleh dokter.

"Tato memerlukan seni keterampilan yang berbeda dari kedokteran, dan tidak dapat diasumsikan bahwa hanya para dokter yang bisa melakukan tindakan itu secara eksklusif," ungkap Second Petty Bench Mahkamah Agung Jepang.

Pada Rabu (17/9) lalu, Second Petty Bench dari pengadilan tinggi memutuskan untuk menolak banding oleh jaksa penuntut umum atas gugatan terhadap Masuda. Akhirnya, putusan pengadilan distrik yang mendenda Masuda sebesar ¥150,000 atau sekitar Rp 21,2 juta ini dibatalkan.

BACA JUGA:

4 Inspirasi Tato yang Penuh akan Makna

Sebelumnya, Mahkamah Agung Jepang menyatakan bahwa orang-orang yang mentato orang lain tanpa izin medis sebagai bentuk pelanggaran hukum praktisi medis.

Ini merupakan kabar besar yang baik bagi para pecinta seni tato di Jepang. Meski begitu, ini belum waktunya bagi mereka untuk merayakannya. Meski keputusan diatas bisa melegalkan tato di Jepang secara efektif, Ketua Umum Koichi Kusano juga menyatakan bahwa diperlukan undang-undang baru untuk mengatur potensi risiko kesehatan terkait tato di Jepang.

Hal tersebut mengisyaratkan akan ada regulasi baru di masa depan yang sedang dibentuk. (SHN)

BACA JUGA:

Yakuza, Mafia Misterius Jepang dan 5 Fakta Menarik Dibaliknya


Tags Artikel Ini

shenna

LAINNYA DARI MERAH PUTIH