Mahfud MD Kenang Mendiang Djaduk Saat Pembukaan Ngayogjazz Menko Polhukam Mahfud MD saat pembukaan Ngayogjazz (MP/Teresa Ika)

MerahPutih.Com - Suasana Ngayogjazz tahun ini tampak berbeda. Rasa duka beriringan bersama kemeriahan dan semangat Ngayogjazz pasca ditinggal Djaduk Ferianto.

Menko Polhukam Mahfud MD turut membagikan rasa dukanya saat membuka acara Ngayogjazz di Dusun Kwagon, Desa Sidorejo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman DIY. Mahfud mengatakan Ngayogjazz adalah bentuk pengabdian Djaduk pada masyarakat dan dunia seni.

Baca Juga:

Tahun ini, Djaduk Ferianto 'Dipaksa' Tidur Jelang Ngayogjazz

"Mas Djaduk telah berhasil membawa musik jazz yang dikenal sebagai musik kelompok elite, kelas atas ke desa-desa," kata Mahfud saat pembukaan Ngayogjazz, Sabtu (16/11).

Pembukaan Ngayogjazz di Sleman
Pembukaan Ngayogjazz di Sleman berlangsung penuh haru ketika mengenang salah satu tokohnya, mendiang Djaduk Ferianto (MP/Teresa Ika)

Hal iitu, lanjut Mahfud membuat suasana konser jazz jauh lebih hidup dan merakyat karena masyarakat setempat turut berpartisipasi mensukseskan acara.

Mahfud memuji Djaduk sebagai seorang senima berprestasi dan berpengaruh. Mantan ketua MK ini menambahkan walau raganya tak ada, semangat Djaduk tetap membekas dan bisa dirasakan disetiap lagu dan musik ciptannya.

"Dalam sebuah lagu ada pesan yang menyentuh hati biarpun yang bikin sudah Meninggal dunia,"katanya.

Ia sendiri mau hadir dalam acara ini untuk menghormati jasa - jasa Djaduk membesarkan musik jazz dibelantika Nusantara.

Dalam pembukaan ini, hadir pula istri Djaduk, Petra beserta kakaknya Butet Kartaredjasa. Mahfud sempat mengucapkan bela sungkawa dan menitipkan pesan kepada keluarga almarhum untuk tetap menjaga dan terus menggelorakan semangat bermusik dan berkarya.

Sementara itu Butet kartaredjasa dalam pidatonya mengajak semua hadirin dan panitia untuk kembali ceria dan bersemangat selama Ngayogjazz walau tanpa kehadiran Djaduk.

"Ngayogjazz harus menjadi kegembiraan bersama dengan simpati untuk Djaduk. kita jangan terlalu terlalu dalam dan lama dengan kesedihan. Karena ngayogjazz harus terus berkelanjutan untuk masyarakat. Kita pindah-pindah dari kampung ke kampung," kata Butet.

Baca Juga:

Djaduk Ferianto Berpulang Sebelum NGAYOGJAZZ

Omongan Butet mendapatkan riuh tepuk tangan dari penonton. Dan suasana duka pun mencair berganti kegembiraan.

Djaduk Ferianto meninggal dunia pada Rabu 13 November 2019 di rumahnya. Ia diduga terkena penyakit serangan jantung. Djaduk merupakan motor penggerak dan pendiri dari Ngayogjazz.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Teresa Ika, reporter dan kontributor merahputih.com untuk Yogyakarta dan sekitarnya.

Baca Juga:

Butet Kertaradjasa: Hasmi Sosok Seniman yang Mudah Berbagi Ilmu

Kredit : patricia


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH