Mahasiswa Undip Kembangkan Bioelektrik untuk Ukur Kontraksi Seorang mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Universitas Diponegoro (Undip) (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

MerahPutih.Com - Kolaborasi Universitas Diponegoro dan Politeknik Kesehatan Semarang menyempurnakan bioelektrik untuk pengukuran kontraksi rahim dengan cara menangkap sinyal dari aktivitas kelestarian rahim pada kehamilan dan persalinan.

"Dengan alat ini kita dapat mengetahui pasien untuk melahirkan secara normal atau tidak," kata inovator alat ukur kontraksi uterus digital dari Undip dr Suryono dalam keterangan tertulisnya diterima di Yogyakarta, Sabtu (12/8) kemarin.

Ia menjelaskan bahwa bioelektrik yang terdiri dari rangkaian sensor, perangkat keras dan perangkat lunak mikroprosesor ini dilengkapi dengan tiga elektroda permukaan bioelektrik bahan AgCI yang dapat disterilkan dan tidak beracun sehingga tidak menimbulkan alergi.

Elektroda ini bekerja dengan cara meneruskan aktivitas ion saat terjadi depolarisasi pada sel otot rahim melalui permukaan abdomen ibu.

Menurut Suryono, angka kematian ibu saat persalinan 359 berbanding 100.000 karena ibu yang sudah tidak kuat untuk melahirkan tetapi tetap dipaksakan sangat berisiko tinggi. Dengan adanya alat ini bisa meminimalkan angka kematian ibu saat melakukan persalinan.

Sementara itu, inisiator alat ukur kontraksi uterus digital dari Politeknik Kesehatan Semarang dr Melyana Nurul menambahkan, alat ini sudah diujicoba dan sudah divalidasi oleh dokter spesialis secara ilmiah. Selanjutnya alat ini diujicoba di Rumah Sakit Undip, tingkat Puskesmas dan juga menguji 50 pasien persalinan.

Pada akhirnya inovasi alat kesehatan yang juga dipamerkan di gelaran "Ritech Expo 2017" yang berlokasi di Center Point of Indonesia, Makassar, dapat membantu persalinan pasien secara akurat untuk melahirkan, baik secara normal ataupun Cesar.

Alat ini tidak bisa digunakan secara pribadi dan hanya bisa digunakan oleh bidan-bidan yang sudah mengikuti pelatihan. Ada prosedur tetap untuk bidan dalam memeriksa kontraksi.

"Dengan alat ini kita bisa lihat dari frekuensi yang dikeluarkan, apakah kontraksi ini bisa membuat pembukaan atau tidak. Karena untuk mendapatkan bukaan yang bagus harus mendapatkan 90 volt," ujar Tecky Afifah yang juga tim inisiator alat tersebut.

"Ritech Expo" yang digelar sejak 10 hingga 13 Agustus 2017 sebagai rangkaian dari peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tidak hanya memamerkan inovasi teknologi dari sejumlah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) maupun BUMN seperti PT Pindad tetapi juga hasil riset sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia.(*)

Sumber: ANTARA



Eddy Flo

YOU MAY ALSO LIKE