Mahasiswa UIN Yogyakarta Beda Pendapat soal Pelarangan Bercadar Ilustrasi perempuan bercadar. Foto: Ist

MerahPutih.com - Pelarangan penggunaan cadar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menimbulkan perbedaan pendapat dari mahasiswa.

Salah seorang mahasiswi UIN Sunan Kalijaga yang memakai cadar, Umi Kalsum keberatan dengan pelarangan ini. Apalagi dengan langkah rektorat yang mengancam akan mengeluarkan mahasiswinya yang tak mau melepas cadar.

"Saya keberatan. Kita punya hak lah untuk pakai cadar," kata Umi melalui sambungan telepon di Yogyakarta, Kamis (8/3)

Namun ia tak keberatan jika kampus melakukan pendataan dan pembinaan asalkan dengan tujuan yang jelas. Ia mengaku tak tahu apa alasan kampus melakukan pendataan. Dugaannya hal ini dilakukan karena pihak kampus termakan isu adanya radikalisme didalam kampus UIN.

"Kalau dipanggil ya menghadap. Di data ga masalah. Ga perlu heboh,"ujar Umi.

Umi mengaku sudah mengenakan cadar sejak tahun 2016. Ia memutuskan memakai burka karena keinginan sendiri atas banyak pertimbangan. "Banyaklah alasannya. Tapi ini masalah pribadi,"tuturnya.

Selama menggunakan cadar, ia tak pernah mendapatkan diskriminasi dari warga kampus atau lingkungan sekitar. Pihak kampus pun selama ini tak pernah memberi perlakuan berbeda. Iapun merasa bebas bergaul dan berkegiatan dengan siapapun.

Andai diminta melepas cadar, Umi menegaskan tidak akan melakukannya.

"Kalau disuruh copot (cadar), saya akan tanya alasannya apa. Tapi kayaknya engga (tidak mau melepaskan cadar). Enggak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau tidak terlibat apa-apa kenapa mesti takut," tegas mahasiswi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga ini.

Terpisah Presiden Dewan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Moh Romli mengaku setuju dengan langkah kampus untuk melakukan pendataan terhadap mahasiswi yang bercadar. Menurutnya alasan kampus melakukan pendataan untuk mencegah paham radikalisme menyebar di kampus adalah hal yang tepat.

"Kita setuju langkah rektorat karena mencegah lebih baik dari mengobati. Kita dukung langkah rektor," ucap Romli.

Pendataan dan pembinaan mahasiswi bercadar dilakukan untuk mencegah mereka terpapar ideologi radikal. Pasalnya berdasarkan penelitian internal kampus, beberapa para mahasiswi bercadar diduga telah teracuni ideologi radikal kelompok tertentu.

Usai pembinaan, mahasiswi diminta membuka cadarnya. Mereka yang tetap ingin bercadar terancam dikeluarkan dari kampus.

Berita ini merupakan laporan Teresa Ika, kontributor merahputih.com, untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Baca juga artikel terkait di: Saran Sri Sultan kepada UIN Sunan Kalijaga soal Larangan Mahasiswi Bercadar



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH