Maestro Lukis Jeihan Sukmantoro Tutup Usia Jeihan Sukmantoro. (Foto: screenshot instagram.com/chandramaulana1964)

MerahPutih.com - Maestro lukis Jeihan Sukmantoro tutup usia, di Kota Bandung, Jumat (29/11), pukul 18.15 WIB. Seniman kelahiran Kota Surakarta, 26 September 1938 ini menghadapi sejumlah penyakit dan usia yang sudah tua.

Jeihan meninggalkan enam anak dan 11 cucu. "Dari dua hari yang lalu bapak sudah seperti yang tidak ada kesadaran," kata putra sulung Jeihan, Atasi Amin (51).

Baca Juga:

Melukis Menggunakan Kopi, Karya Seniman Muda Ini Jadi Viral

Sejak Rabu (27/11), Jeihan sudah dipulangkan setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Santo Borromeus Kota Bandung.

Ia mengatakan, ayahnya dipulangkan dari rumah sakit karena perawatan sudah tidak berjalan efektif.

"Tubuhnya sudah menolak infusan, sudah sulit untuk menerima pertolongan medis, asupan makan juga sulit," kata dia.

Suasana di Studio Lukis yang menjadi rumah duka Jeihan Sukmantoro di Jalan Padasuka Kota Bandung, Jumat (29/11/2019). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)
Suasana di Studio Lukis yang menjadi rumah duka Jeihan Sukmantoro di Jalan Padasuka Kota Bandung, Jumat (29/11/2019). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Dia mengatakan, penyakit yang diidap ayahnya yaitu kanker getah bening sejak akhir 2018.

"Penyakit itu sudah terdeteksi dari 2016, setelah itu kankernya menjalar ke mana-mana bagian tubuh lain," katanya.

Sebelumnya, pada Juli 2019, Jeihan masih dapat berkomunikasi dengan baik saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Meski dalam kondisi yang lemah, ucapnya, Jeihan masih bisa melukis wajah seseorang yang mengunjunginya.

Baca Juga:

Melukiskan Indonesia Subur Makmur ala Gigih Wiyono

Jeihan Sukmantoro atau yang lebih dikenal dengan nama Jeihan, pelukis kenamaan di Indonesia. Ciri khas dari objek lukisannya adalah mata yang hitam kelam. Di dunia sastra, dia dikenal dengan gerakan puisi mbeling.

Jeihan Sukmantoro (kanan). (Foto: https://www.instagram.com/vivisaria)
Jeihan Sukmantoro (kanan). (Foto: instagram.com/vivisaria)

Salah satu karyanya yang diberi judul "Satrio Piningit" dipamerkan di Museum Jakarta pada 2014.

Jeihan mendirikan studio Seni Rupa Bandung pada 1978, yang menjadi tempat pengembangan kreativitas kaum muda untuk berkreasi dan mandiri.

Dia juga banyak meraih penghargaan, antara lain Perintis Seni Rupa Jawa Barat 2006 dan Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2009. (*)

Baca Juga:

Lukisan Raksasa Presiden Jokowi Pakai Lurik dan Blangkon Meriahkan Syukuran Relawan di Solo


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH