LSI Denny JA Sarankan DKI Jakarta dan Bali Bisa Lakukan Relaksasi PSBB Ikrama Masloman (kiri) bersama peneliti LSI Denny JA di Jakarta (Foto: LSI)

Merahputih.com- Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyarankan ada lima daerah yang bisa kembali memulai aktivitas perekonomian hingga pembatasan usia yang bekerja di luar rumah.

Penelitian itu dilakukan dengan metode kualitatif dengan mengkaji beberapa data sekunder. Di antaranya data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Worldometers, WHO dan himpunan data dari COVID Pemerintah Daerah.

Baca Juga:

Palagan Alumni AKABRI 1994 Bagikan 500 Paket Sembako untuk Warga Kurang Mampu

Peneliti LSI Ikrama Masloman mengatakan ada latar belakang dilakukannya penelitian untuk membuka kembali PSBB.

Pertama adalah sejumlah negara di Eropa telah melakukan pelonggaran lockdown pada awal Mei.

Ikrama Masloman peneliti LSI Denny JA
Peneliti LSI Denny JA Ikrama Masloman (Foto: Screenshot JakTV)

Kedua negara yang melakukan pelonggaran itu telah melewati puncak pandemi dan kasus cenderung menurun. Ketiga adalah ada beberapa kegiatan ekonomi yang masih dibatasi.

"Pertama dimulai dengan daerah yang grafiknya mulai menurun rekomendasi kami adalah 5 daerah berikut. DKI Jakarta, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Bandung Barat dan Provinsi Bali," kata Ikram dalam pernyataan pers secara daring, Sabtu (16/5).

Ikram menyebut di DKI Jakarta telah menunjukkan angka penurunan penularan usai diterapkan PSBB. Sehingga bis ditoleransi untuk dibuka pembatasan dan mulai bekerja.

"Ini secara sederhana kita menerapkan PSBB 10 April kalau grafiknya kita lihat dari rata-rata penambahan dari grafik ini kecenderungan menurun sehingga rekomendasi kami karena konsisten menunjukkan penurunan kasus pasca PSBB maka Jakarta bisa ditoleransi untuk bisa dibuka atau mulai bekerja," katanya.

Kedua, LSI mengusulkan ada pengelompokan usia dalam pekerjaan. Seperti usia di atas 45 tahun bekerja dari rumah dan di bawah 45 tahun bekerja di luar rumah.

"Karena data yang kami olah ini sebanding dengan kalau tidak salah ada lembaga internasional yang menilai mereka yang berada di bawah 45 tahun itu mortalitasnya hanya 0,2 persen," katanya.

Selain itu, LSI juga mengusulkan pengelompokan berdasarkan kelompok yang memiliki penyakit rentan untuk bekerja dari rumah. Seperti mereka yang memiliki penyakit penyerta.

" Di sini kita lihat hipertensi, itu kalau data ini 21 persen itu mortality rate-nya sangat tinggi, kemudian ada diabetes, kemudian ada penyakit jantung, kemudian penyakit ginjal, penyakit obstruktif kronis dan gangguan pernapasan lainnya," tutur Ikram.

Ikram menyatakan untuk melakukan pelonggaran perlu adanya gaya hidup baru dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Serta membiasakan diri hidup bersama virus Corona sebelum ditemukan vaksin.

LSI menilai perlu ada pemahaman dan edukasi kepada masyarakat untuk selalu melakukan protokol kesehatan. Serta semua pihak harus saling bahu-membahu dan tidak saling menyalahkan dalam penanganan Corona.

"Jadi ini kisi-kisi yang kami publish bahwa Indonesia bisa kembali bekerja dengan lima kisi-kisi di atas," tambahnya.

Baca Juga:

Ketua DPRD Kaget Masih Ada SKPD Pemprov DKI Anggarkan Lahan Bukan untuk Corona

LSI tetap mengingatkan bahaya gelombang kedua virus Corona seperti halnya yang pernah terjadi pada flu Spanyol 100 tahun yang lalu. Dia meminta masyarakat untuk tetap waspada dan menaati protokol kesehatan.

Kepada pemerintah, LSI menyarankan agar memperbanyak tes dan pelacakan. Peningkatan fasilitas kesehatan juga sangat penting untuk mengakhiri pandemi Corona.

"Kemudian pemerintah tetap memperbanyak jumlah tes, meningkatkan kemampuan kontak tracing berbasis teknologi sehingga kita bisa ketahui mereka yang positif berinteraksi dengan siapa sehingga bisa juga dilakukan penanganan. Juga meningkatkan fasilitas kesehatan," pungkasnya.(Knu)

Baca Juga:

Dibongkar Kepolisian, Ini Sindikat Pemalsuan Surat Keterangan Bebas Corona

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
PSI Nasihati Anies Jangan Gegabah Jadikan PSBB III Kebijakan Pamungkas
Indonesia
PSI Nasihati Anies Jangan Gegabah Jadikan PSBB III Kebijakan Pamungkas

Pengurangan PSBB juga sebaiknya bersifat sementara, tidak menetap dan harus dikaji berkala

Mahfud Minta Polri Transparan Usut Kasus Brigjen Prasetijo
Indonesia
Mahfud Minta Polri Transparan Usut Kasus Brigjen Prasetijo

"Kita tunggu aja tindakan dari Polri,” kata Mahfud

Persekutuan Gereja Sambut Baik Penundaan Pembahasan RUU HIP
Indonesia
Persekutuan Gereja Sambut Baik Penundaan Pembahasan RUU HIP

PGI mengapresiasi langkah yang diambil pemerintah yang memutuskan untuk menunda pembahasan RUU HIP.

 Hari Pertama Perpanjangan PSBB: Kasus Positif COVID-19 3.605 Orang dan Meninggal 331 Jiwa
Indonesia
Hari Pertama Perpanjangan PSBB: Kasus Positif COVID-19 3.605 Orang dan Meninggal 331 Jiwa

Awal perpanjangan PSBB kasus positif COVID-19 di Jakarta sebanyak 3.605 orang, dengan pasien meninggal dunia ada 331 jiwa.

DPRD DKI Kritik Metode Anies Distribusikan Bansos COVID-19
Indonesia
DPRD DKI Kritik Metode Anies Distribusikan Bansos COVID-19

Hal itu ia ungkapkan setelah dirinya memantau dan menanyakan langsung kepada RT/RW mengenai penyaluran bantuan sembako Pemda DKI itu.

Rekomendasi tak Kunjung Turun, PDIP Solo Siapkan Strategi Pemenangan Pilwakot
Indonesia
Rekomendasi tak Kunjung Turun, PDIP Solo Siapkan Strategi Pemenangan Pilwakot

Dia pun mengaku sudah memiliki pengalaman untuk pemenangan Pemilu dan Pilkada sehingga tidak perlu khawatir.

 Koalisi Masyarakat Sipil Desak Jokowi Copot Yasonna Laoly
Indonesia
Koalisi Masyarakat Sipil Desak Jokowi Copot Yasonna Laoly

"Untuk itu jika laporan ini terbukti maka Yasonna berpotensi dijerat pidana 12 tahun penjara," ujarnya.

Draf UU Cipta Kerja Berubah, PKS Duga Ada Pasal Gaib
Indonesia
Draf UU Cipta Kerja Berubah, PKS Duga Ada Pasal Gaib

Pemerintah harus segera meliris draft resmi UU Ciptaker

2 Warganya Kena Corona, Jokowi Siapkan 100 RS dengan Ruang Isolasi
Indonesia
2 Warganya Kena Corona, Jokowi Siapkan 100 RS dengan Ruang Isolasi

Pemerintah juga memiliki peralatan sesuai dengan standar internasional

 Pengamat Intelijen Ungkap Motif AS Tuduh Tiongkok Penyebar Virus COVID-19
Indonesia
Pengamat Intelijen Ungkap Motif AS Tuduh Tiongkok Penyebar Virus COVID-19

Siapa pun yang menyebabkan hal ini, baik Tiongkok dan Amerika, dampak dari pandemi ini dimanfaatkan betul oleh kedua negara untuk perang dagang.