Lima Penerbang Tempur TNI AU Lulus Terbang Solo Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi Kolonel Pnb Djoko Hadiputro (kiri) menyiramkan air kembang pada penerbang tempur saat Tradisi Terbang Solo di hanggar Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa T

MerahPutih.Com - Perwira tempur TNI Angkatan Udara memiliki tradisi unik dalam menguji ketangkasan sebagai pilot pesawat tempur. Setiap perwira harus menjalani terbang solo untuk mendapatkan pengakuan akan profesionalismenya.

Dalam matra TNI AU, terbang solo dilakukan dengan menerbangkan pesawat tempur yang terbaru dan canggih. Dalam artian para perwira tempur harus memahami dan menguasai alutista TNI AU.

Lima penerbang pesawat tempur `T-50i Golden Eagle' menjalani tradisi terbang solo (terbang sendiri) di depan Hanggar Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur, Rabu (25/4).

Dari lima penerbang tersebut, empat di antaranya baru dinyatakan lulus terbang solo yaitu Lettu Pnb Novi Dwi Handoko, Lettu Pnb Yuanditia Prasetyo, Lettu Pnb Angga wahyu R dan Lettu Pnb Maulana Zulfikar.

Penerbang TNI AU lulus terbang solo
Sebanyak lima orang penerbang mengikuti tradisi tersebut setelah dinyatakan lulus terbang solo menggunakan Pesawat T-50i Golden Eagle. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Kemudian Lettu Pnb Andika Octama Said adalah penerbang yang lulus transisi dari pesawat lain ke pesawat `T-50i Golden Eagle'.

Kepada para penerbang yang mengikuti tradisi tersebut, Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Samsul Rizal berharap mampu meningkatkan profesionalisme.

"Saya berharap apa yang telah dicapai dapat meningkatkan profesionalisme serta dapat diaplikasikan untuk mendukung kelancaran kedinasan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya," katanya.

Untuk meningkatkan profesionalisme, kata Samsul Rizal, selain harus menempa diri dengan terus belajar dan berlatih, para perwira penerbang harus menambah wawasan tentang teknologi.

"Para perwira penerbang hendaknya terus meng-`up date' teknologi dan informasi yang senantiasa berkembang. Sehingga semakin membuka wawasan tentang teknologi kedirgantaraan yang berkaitan dengan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Udara," tegas dia.

Penerbang Tempur TNI AU
Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Samsul Rizal (tengah) mengepalkan tangan bersama penerbang tempur Kapten Pnb Kurniadi Sukmo Djatmiko (kiri) dan Lettu Pnb Kustaman Dwi Lukman (kanan)(ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Dalam upacara tradisi terbang solo, kelima penerbang disiram air kembang secara bergantian. Setelah itu telur dipecah di kepala mereka. Kemudian dilumuri lem dari tepung kanji digunakan untuk perekat kapas.

Prosesi tersebut dimaknai sebagai kelahiran para penerbang. Mereka diibaratkan telur yang baru menetas kemudian dengan sayap-sayapnya yang baru tumbuh disimbolkan kapas, siap untuk terbang.

Komandan Lanud Samsul Rizal yang mengawali penyiraman, pecah telur dan menempel kapas. Disusul Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi Kolonel Pnb Djoko Hadiputro, dan para penerbang senior di Skadron Udara 15 yang mengoperasikan pesawat `T-50i Golden Eagle'.

Kepada para penerbang yang mengikuti tradisi tersebut, Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Samsul Rizal berharap mampu meningkatkan profesionalisme.

"Saya berharap apa yang telah dicapai dapat meningkatkan profesionalisme serta dapat diaplikasikan untuk mendukung kelancaran kedinasan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya," katanya.

Pesawat Termpur canggih milik TNI AU
Pesawat tempur TNI AU T-50i Golden Eagle. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Untuk meningkatkan profesionalisme, kata Samsul Rizal sebagaimana dilansir Antara, selain harus menempa diri dengan terus belajar dan berlatih, para perwira penerbang harus menambah wawasan tentang teknologi.

"Para perwira penerbang hendaknya terus meng-`up date' teknologi dan informasi yang senantiasa berkembang. Sehingga semakin membuka wawasan tentang teknologi kedirgantaraan yang berkaitan dengan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Udara," tegas dia.

Dalam upacara tradisi terbang solo, kelima penerbang disiram air kembang secara bergantian. Setelah itu telur dipecah di kepala mereka. Kemudian dilumuri lem dari tepung kanji digunakan untuk perekat kapas.

Prosesi tersebut dimaknai sebagai kelahiran para penerbang. Mereka diibaratkan telur yang baru menetas kemudian dengan sayap-sayapnya yang baru tumbuh disimbolkan kapas, siap untuk terbang.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Optimisme Indonesia Bangun Kapal Selam Sendiri


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH