Lima Agama Pertama di Indonesia Agama-agama bersifat lokal diakui sebagai kepercayaan pertama di Indonesia. (Foto: interfidei)

DI Indonesia, terdapat lima agama yang resmi diakui negara. Agama tersebut adalah Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha, dan Hindu. Beberapa di antaranya menyebar di Indonesia karena adanya kontak dengan pendatang asing melalui perdagangan, perkawinan, dan penjajahan. Sebelum kelima agama tersebut berada di Indonesia, kita telah memiliki kepercayaan yang diturunkan leluhur. Berikut lima agama yang menyebar di Indonesia sebelum lima agama yang secara resmi diakui pemerintah Indonesia:

1. Ugamo Alim

ugamo malim
(Foto: Tapanulimedia)

Pusat penyebaran agama Ugamo Alim adalah Huta Tinggi, Laguboti, Kabupaten Tobasa, Samosir, Sumatera Utara. Penganut agama ini disebut dengan Parmalim. Pimpinan tertinggi agama Ugamo Alim adalah Sisingamangaraja I hingga Sisingamangaraja XII. Agama ini diturunkan dari generasi ke generasi oleh leluhur bangsa Batak hingga 35 generasi. Berdasarkan silsilah Batak, satu generasi berlangsung selama 25 tahun. Dalam kepercayaan Parmalim, mereka menyembah Debata Mula Jadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Esa). Peringatan keagamaan Ugamo Alim adalah Si Pahasada yang dirayakan di bulan pertama dan Si Pahalima di bulan kelima.

2. Sunda Wiwitan

sunda wiwitan
(Foto: CRCS UGM)

Pusat penyebaran agama Sunda Wiwitan adalah Kanekes (Lebak), Cisolok (Sukabumi), Cigugur (Kuningan), dan Kampung Naga. Para penganut agama Sunda Wiwitan menyembah Sang Hyang Kersa (Yang Maha Kuasa). Tempat peribadatan Sunda Wiwitan adalah Punden Barundak. Ritual keagamaan yang dilakukan pemeluk agama Sunda Wiwitan adalah Seren Taun. Seren Taun adalah tradisi menyanyikan kidung, pantun, dan tari yang dilakukan saat upacara panen padi.

3. Kejawen

kejawen
(Foto: merahputih)

Kejawen berasal dari wilayah Jawa. Kata Kejawen berasal dari Bahasa Jawa yang memiliki makna segala yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa. Kepercayaan ini mengandung filsafat Jawa yakni Sangkan Paraning Dumadhi (Dari dan kembalinya hamba Tuhan) serta mengajarkan insan manusia untuk hidup dalam harmoni dengan Tuhannya. Dalam ajaran Kejawen disebut dengan istilah Manunggaling Kawula lan Gusthi (Bersatunya Hamba dan Tuhan).

4. Kaharingan

kaharingan
(Foto: synergy-tours)

Pemeluk agama Kaharingan mayoritas adalah suku Dayak. Kaharingan berasal dari Danum Kaharingan yang memiliki arti air kehidupan. Penganut agama Kaharingan mempercayai dan menyembah Ranying Hatalla Langit atau penguasa alam semesta. Mereka beribadah di Balai Basarah atau Balai Kaharingan. Pedoman Kaharingan adalah Kitab Panaturan dan Talatah Basarah yang merupakan kumpulan doa. Upacara keagamaan mereka dikenal dengan istilah Tawar atau upacara menabur beras.

5. Marapu

marapu
(Foto: islamidia)

Marapu merupakan kepercayaan yang berkembang di NTT. Dalam bahasa Sumba, Marapu berarti pemujaan arwah leluhur. Meskipun ritual Agama Marapu adalah pemujaan arwah leluhur, tujuan utama mereka adalah pemujaan terhadap Mawulu Tau-Majii Tau (Tuhan Yang Maha Esa). Penganut agama Marapu percaya bahwa kehidupan di dunia hanya sementara sementara kehidupan di surga kekal. Peringatan keagamaan ditentukan dengan kalender adat yakni Tanda Wulangu. (avi)

Kredit : iftinavia


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH