Life University Abadikan Kisah Jatuh-Bangun Jerry Hermawan Lo Jerry Hermawan Lo. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

POHON Palem Raja Kelurahan Anggrung, Kecamatan Medan Polonia tak lagi sendirian. Saban hari anak kecil penjual kue selalu singgah menemani. Ia berteduh melepas lelah sehabis berkeliling menjajakan dagangannya. Sambil mengatur napas, anak kecil itu memandang ke sebrang mengamati rumah super besar di kejauhan.

Ia terheran-heran mengapa ada rumah sebesar itu. Halamannya luas rimbun pepohonan. Punya jalur khusus kendaraan. Banyak mobil terparkir di garasi. "Suatu saat rumah saya harus sebesar rumah itu," batinnya. Di kemudian hari, ia baru sadar kalau rumah besar itu tak lain Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara.

Anak penjual kue itu tak sekadar bermimpi. Steven Beteng mengisahkan bagaimana anak itu bangun dari tidur, menapaki jalan berliku, penuh kerikil, untuk menggapai impiannya lewat buku Live University. Buku Live University merupakan biografi Jerry Hermawan Lo (Lo Suk Cian), anak penjual kue, kelak menjadi pebisnis ulung memiliki setidaknya 30 perusahaan di bidang properti.

jerry hermawan lo, buku life university
Jerry Hermawan Lo. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Kehadiran biografi Jerry Hermawan Lo di era digital menjadi sangat vital terutama sebagai pegangan kaum milenial menghadapi keputusasaan saat usaha atau bisnisnya terpuruk. Dengan penceritaan ringkas, cara bertutur sederhana, Steven Beteng mampu menghadirkan sosok Jerry sebagai manusia utuh dengan segala kekurangan. Berbeda dari banyak biografi nan mengemas tokoh serupa superhero. Tiba-tiba jadi tokoh tanpa ada proses jatuh-bangun.

Sejak duduk di kelas satu Sekolah Dasar (SD), Jerry harus bangun lebih awal untuk membantu ibunya berjualan nasi uduk di pasar. Sepulang sekolah, ia lanjut berkeliling kampung menjajakan kue buatan ibunya. Kegiatan itu berlangsung saban hari agar dapur rumahnya bisa mengepul.

Setelah tak melanjutkan Sekolah Dasar, Jerry menemukan petualangan baru di pasar. Ia mencari peruntungan berjualan kelapa parut dan ikan. Berbeda dengan pedagang lain, Jerry menjual kelapa telah diparut sehingga memudahkan pembeli untuk mengolah santan sesampainya di rumah. Lapaknya pun cukup diminati.

Beranjak dewasa, berbekal pengalaman di pasar, Jerry memutar haluan bekerja menjadi pencatat kupon undian berhadiah atau judi lotre bernama National Lottery (Nalo). Tugasnya hanya mencatat nomor tebakan konsumen. Dari uang hasil kerja sebulan, Jerry memberanikan diri merantau ke Jakarta bersama tiga temannya.

jerry hermawan lo, life university
Jerry Hermawan Lo. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Di Jakarta cerita jatuh-bangunnya makin kentara. Semua kerja dilakoni, dari memandikan bus Gamadi, mencuci mangkuk kotor bakmi dan bubur, salesman, usaha sabun colek, menjual resep sabun dan makanan, berdagang barang kelontong, importir, ternak hewan, hingga pebisnis ulung di bidang properti.

Semua usahanya tak selalu mulus. Saat akan membangun perusahaan sabun colek, Jerry rela melepas puncak kariernya sebagai sales baterai ABC dan anggur Cap Orang Tua. Bahkan, ia sempat bekerja sebagai buruh di pabrik sabun colek agar tahu cara membuat sabun colek.

Ketika perusahaan sabun colek miliknya bermerek ACC telah berkembang, nasib malang menghampiri begitu nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah. Semua bahan kebutuhan usahanya hampir semua didatangkan dari luar negeri naik. Sementara harga jual sabun coleknya tak mungkin ikut naik karena pesaingnya justru menurunkan harga. Alhasil usaha sabun coleknya gulung tikar.

jerry hermawan lo, life university
Jerry Hermawan Lo. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Tak sekali dua kali Jerry sampai menjual rumah untuk merintis usaha. "Saya menjadi kontraktor. Orang berpindah-pindah kontrakan maksudnya," kelakar Jerry. Ia tak pernah main-main bila telah berniat memulai usaha. Di saat kondisi ekonominya terpuruk pun, Jerry tetap berani berspekulasi menjual ranjang, meski keluarganya harus tidur di lantai, untuk modal membuat filter air. Tekad kuat itu melahirkan produk filter air merek Y nan laris dipesan saat Pekan raya Jakarta.

Di luar pengorbanan, kerja keras, dan inovasi, Jerry dikisahkan Steven Beteng secara implisit sejatinya memiliki kekuatan pikiran (the power of mind) di tiap memulai bekerja maupun berbisnis. Saat masih menjadi penjual kue, ia pernah berjanji akan punya rumah sebesar Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara. Begitu pula ketika ia punya keinginan kuat memiliki perusahaan kelak. Semua janji dan keinginan itu tak hanya mengendap tapi bekerja di alam bawah sadar dan menggerakannya untuk berusaha lebih keras. Semua keinginan itu kini terwujud.

Selain menjadi inspirasi bagi pelaku ekonomi muda, lahirnya buku ini juga menjadi pengingat bila ilmu dan pengetahuan tak melulu didapat dari bangku sekolah. Semesta telah menyajikan, tinggal sekeras apa manusia menggapainya. (*)

Baca juga: Life University, Kisah Perjuangan Jerry Hermawan Lo Meraih Kesuksesan



Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH