Lieus: Kontroversi Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen Dipicu Konflik Internal patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih di Kelenteng Kwan Swie Bio, Minggu (6/8). (ANTARA/Aguk Sudarmojo)

MerahPutih.com - Keberadaan Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Klenteng Tri Dharma Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur menuai pro kontra di media sosial. Masalah ini sebenarnya dipicu oleh persoalan internal kepengurusan di dalam Klenteng Kwan Sing Bio.

Mantan Ketua Umum Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi), Lieus Sungkharisma mengatakan kontroversi itu seharusnya tidak terjadi kalau saja para pengurus Kelenteng Kwan Sing Bio mampu bersikap arif dan bijaksana dengan mengedepankan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi.

“Masalah ini sebenarnya dipicu oleh persoalan internal kepengurusan di dalam Klenteng Kwan Sing Bio sendiri,” katanya kepada Merahputih.com, Selasa (8/8).

Ihwal kontroversi ini bermula dari salah seorang pengurus atau mantan pengurus yang selalu berseberangan dengan kebijakan pengurus lainnya, lalu diberhentikan dari kepengurusan tapi orang itu melawan dengan membuat macam-macam skenario.

“Salah satunya adalah dengan menyebarkan informasi bohong tentang patung Dewa Kong Co Kwan Sing Tee Koen ini,” ujarnya.

Sejak tahun 2013 hingga hari ini, tambah Lieus, konflik internal terkait kepengurusan di kelenteng Kwan Sing Bio itu belum berakhir.

“Akibatnya, kini yang menjadi korban malah Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen yang sangat dihormati orang Buddha,” ungkapnya

Seperti diketahui, patung dewa setinggi 30,4 meter senilai Rp 2,5 miliar itu menjadi viral di media sosial. Patung yang diklaim sebagai patung tertinggi di Asia Tenggara itu diminta ormas di Jawa Timur seperti FKPPI, PPM, Pemuda Pancasila, Kokam agar dirobohkan.

Patung yang diresmikan oleh Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan pada pertengahan Juli lalu itu memicu kontroversi setelah keberadaannya dikait-kaitkan dengan nama pahlawan nasional dan kedaulatan NKRI. Ada pula yang menyebutnya berdiri di tengah alun-alun kota Tuban padahal letaknya masih di dalam area klenteng.

"Publik pun langsung bereaksi padahal tidak tau dengan jelas duduk soalnya," terang Lieus.

Menurut Lieus, patung itu bukan patung Panglima Perang Tiongkok. Patung itu adalah Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen yang merupakan salah satu Dewa yang paling dihormati dan disembah oleh umat Buddha. Patung itu bukan panglima perang, tapi merupakan Dewa Keadilan.

Lieus pun menyesalkan adanya sejumlah Ormas seperti FKPPI, Pemuda Pancasila, Kokam dan PPM yang notabene merupakan organisasi seperjuangan Gemabudhi, justru ikut-ikutan bereaksi negatif atas keberadaan patung tersebut tanpa mengklarifikasi lebih dulu.

"Jadi, menurut saya biarlah konflik internal di Kelenteng Kwan Sing Bio ini diselesaikan secara internal oleh kami, kalangan umat Buddha sendiri,” katanya.

Apalagi, tambah Lieus, Ketua MUI Tuban, KH Abdul Matin sudah menjelaskan bahwa keberadaan Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di kompleks Tempat Ibadah Tri Dharma Kwan Sing Bio Tuban tersebut tidak ada hubungannya dengan SARA ataupun kedaulatan NKRI.

Lieus pun berharap Dirjen Bimas Buddha, hendaknya lebih pro aktif dan tidak hanya mengambil peran terhadap penyelesaian konflik di internal umat Buddha. (*)

Baca berita terkait kontroversi patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di: Dianggap Berhala, Massa Minta Patung Dewa Perang di Tuban Dibongkar



Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH