Lewat Seni Kenalkan Komunitas Transgender Kalki Subramaniam mengadvokasi komunitas transgender India lewat seni. (foto: Instagram @kalkionline)

KALKI Subramaniam telah melewati banyak hal dalam hidupnya. Tak semuanya indah. Kenangan buruk, perundungan, hingga kekerasan menjadi bagian dirinya kini. Namun, tak mau hidup dalam kepahitan, Subramaniam mengubah warna kelam hidupnya menjadi pelangi. Warna-warni indah lambang kaum LGBTQ.

Ya, Subramaniam ialah seorang transgender yang kini menjadi aktivis hak transgender. Dalam usianya yang kini menginjak 42 tahun, Subramaniam telah mencapai banyak. Selain dikenal sebagai seorang aktivis transgender India yang terkenal, ia juga seorang artis, penyair, aktor, pembicara inspirasional, dan pendiri Sahodari Foundation.

BACA JUGA:

Tips Aman Bersepeda Malam Versi Bike To Work

Masa Kecil nan Kelam

kalki subramaniam
Kalki Subramaniam menjalani masa kecil nan kelam. (foto: Instagram @kalkionline)

Dalam kisah yang ia tulis untuk CNN, Subramaniam berkisah ia melewati masa kelam kala remaja. Lahir di perdesaan di Pollachi, India, Subramaniam ialah anak laki-laki dengan dua adik perempuan. Ia dianggap beruntung. "Tapi aku selalu merasa tidak nyaman saat disebut atau dipanggil sebagai seorang lelaki," ujarnya.

Sejak kecil, ia sudah merasa lebih nyaman menjadi seorang perempuan. Ia menyukai hal-hal yang digemari perempuan seumurnya pada saat itu. Hal itu membuatnya diejek anak laki-laki yang lebih besar daripadanya. Meskipun demikian, Subramaniam tidak takut dan malu dengan dirinya sendiri.

Pada umur 14 tahun, ia tak bisa lagi menahan diri. Ia ungkapkan semua perasaan kepada keluarga. Gender dysphoria yang ia alami memang sulit dihadapi anak-anak dan remaja. Hal itu membuatnya takut dirundung teman-teman dan mengecewakan orangtua.

Subramaniam beruntung. Orangtuanya langsung membawanya ke psikiater untuk mengatasi masalah gender dysphoria. Saat ditanya bagaimana ia melihat dirinya di masa depan, dia menggambar seorang perempuan cantik dengan rok yang panjang, topi, dan senyuman yang besar.

Membantu Orang Lain lewat Seni

red wall project
Red Wall Project yang menarik perhatian publik akan isu transgender. (foto: Instagram @sohadarifoundation)

"Sayangnya, tak semua transgender seberuntung diriku," sesalnya. Tak sedikit yang menjadi korban kekerasan bahkan sampai ada yang bunuh diri. Penelitian dari negara bagian Maharashtra di India, Tamil Nadu, dan Karnataka menemukan bahwa 4 dari 10 transgender mengalami kekerasan seksual sebelum umur 18. Banyak dari mereka tidak berani bersuara.

Subramaniam melihat sendiri bagaimana kawan-kawannya disakiti, hingga meninggal dunia. Pengalaman-pengalaman itu mendorong kemauannya untuk mencari keadilan. Itulah yang menginspirasinya menjadi seorang aktivis bagi sesamanya, komunitas transgender.

Setelah menyelesaikan gelar master di bidang jurnalistik, Subramaniam membuat sebuah majalah bernama Sahodari. Nama itu berarti saudara perempuan. Majalah itu untuk menjangkau dan mendukung komunitas transgender. Ia menggunakan foto, seni, dan tulisan untuk mengedukasi orang-orang mengenai kesehatan mental, transisi, dan hak mereka untuk martabat.

Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan Sahodari Foundation. Lewat yayasan itu, ia mengajari tim tentang visual storytelling. Baginya, luka yang paling dalam tidak bisa disembuhkan sampai mereka diekspresikan. "Berlatih seni membantu menyembuhkan luka emosional. Dengan memberikan kesempatan aman untuk berekspresi diri, aku berharap itu akan membentuk identitas seseorang," jelasnya. Setidaknya, bagi Subramainam, seni membantunya mengidentifikasi harga dirinya. Seni menjadi media baginya untuk mengekspresikan harapan, kegembiraan, ketakutan, kesedihan, keinginan, dan perjuangan. Ia lalu mengajak kawan-kawan transgender merefleksi diri dalam seni.

Dalam komunitas yang ia bentuk, transgender bisa bebas mengekspresikan diri. Mereka bisa mengasah bakat seni. Mereka bahkan bisa menghasilkan uang dari karya-karya mereka. Saat melihat hal itu, ia membentuk Transhearts. Ia dan timnya berkunjung ke kota-kota di India selatan untuk memberi workshop gratis.

Mereka telah memamerkan karya seni komunitas di galeri, universitas, kampus, dan ruang publik. Respons yang mereka terima sangat positif. Ketika orang melihat karya seni mereka, publik dapat mengidentifikasi dan berempati dengan mereka.

Ia terus mengadvokasi kesadaran masyarakat akan isu transgender. Lalu ia membuat proyek yang bernama Red Wall Project. Proyek seni itu memberi kesempatan partisipan yang diwawancara timnya untuk menuliskan pengalaman. "Tulisan itu kemudian ditandai telapak tangan korban menggunakan cat merah," kata Subramaniam.

Suara yang Mulai Didengar

kalki subramaniam
Setelah bertahu-tahun, transgender kini diakui di India. (foto: Instagram @sahodarifoundation)

"Mendengarkan pengalaman mereka tidaklah mudah, tapi jika bukan mereka, siapa yang akan bercerita?" gugat aktivis transgender yang telah berbicara di forum internasional ini.

Dengan persetujuan korban, cerita-cerita mereka dipajang dalam eksibisi. Hasilnya, publik yang membaca sangat suportif. Ada yang membaca selama berjam-jam. Ada pula yang menangis sambil membaca.

Ia berkisah ada beberapa anak muda menghampirinya dan bertanya bagaimana mereka bisa membantu menghentikan kekerasan ini. Subramaniam mendorong mereka mengedukasi diri mereka sendiri, teman-temannya, dan keluarga akan isu ini agar mereka bisa menerima komunitas transgender. "Hanya itulah yang diinginkan komunitas transgender, untuk dihargai oleh masyarakat," tegasnya.

Pada 2014, Mahkamah Agung India akhirnya mengakui transgender sebagai 'gender ketiga'. Subramaniam sudah lama melobi lembaga peradilan. Ketetapan hukum itu berarti transgender dapat mendaftar di lembaga akademik secara terbuka. Tanpa rasa takut.

Banyak korporasi mulai merekrut karyawan transgender. Itulah hasil dari aksi aktivisme dan membangun kesadaran selama bertahun-tahun. Termasuk penggambaran positif transgender di media dan film arus utama.

Walau komunitas transgender sudah mulai dihargai dan diterima masyarakat India, perjuangan belum selesai. Komunitas transgender di India masih butuh perlindungan dari stigma dan diskriminasi. "Yang tak kalah penting, jaminan hukum bahwa hukuman untuk kejahatan terhadap orang transgender akan berat," tutupnya.(lev)

BACA JUGA:

India Larang TikTok, Aplikasi Ini Malah Jadi Populer

Tag
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Komplikasi dari HIV yang Jarang Diketahui, Apa Saja?
Fun
Komplikasi dari HIV yang Jarang Diketahui, Apa Saja?

Berikut penyakit yang ditimbulkan akibat HIV/AIDS.

Pengguna Aplikasi Telegram dan Signal Meningkat
Fun
Pengguna Aplikasi Telegram dan Signal Meningkat

Peningkatan ini terjadi secara tiba-tiba.

Cara Ampuh Jualan Makan dan Minuman Laris Disaat Pandemi
Fun
Bright Future Festival Ajak Generasi Muda Jadi Aktor Ekonomi Hijau
Hiburan & Gaya Hidup
Bright Future Festival Ajak Generasi Muda Jadi Aktor Ekonomi Hijau

Anak muda diharapkan bisa menjadi aktor perubahan bagi lingkungan.

Sekuel Thor, Black Panther, dan Captain Marvel Ditunda Perilisannya
ShowBiz
Sekuel Thor, Black Panther, dan Captain Marvel Ditunda Perilisannya

Informasi ini diumumkan dalam acara Disney Investor Day 2020.

Terinspirasi 911 Turbo, Porsche x Puma Rilis Sepatu
Fun
Terinspirasi 911 Turbo, Porsche x Puma Rilis Sepatu

Sepatu kolaborasi Porsche dan Puma ini amat keren.

Kehidupan di Kantor Akan Berubah Dengan Regulasi CDC Terbaru
Fun
Kehidupan di Kantor Akan Berubah Dengan Regulasi CDC Terbaru

Peraturan baru akan secara fundamental mengubah cara orang bekerja.

100 Ribu Kasus COVID-19 dalam 2 Hari Pemilu AS
Fun
100 Ribu Kasus COVID-19 dalam 2 Hari Pemilu AS

Total kasus COVID-19 di AS hampir menyentuh angka 10 juta.