Legenda di Balik Angpao, Mengusir Predator Anak Ada legenda di balik angpao. (Foto: Pixabay/ida20150101)

YANG dipahami oleh orang angpao adalah hadiah uang yang dimasukan ke dalam amplop merah. Biasanya angpao diberikan kepada orang-orang dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek.

Namun sebenarnya angpao tak hanya diberikan pada perayaan Imlek saja. Amplop merah ini diberikan kepada mereka yang sedang merayakan suatu acara yang sifatnya suka cita. Mengapa demikian? Karena angpao sendiri melambangkan kegembiran dan semangat yang tentunya akan membawa nasib baik di tahun yang baru ini.


Baca Juga:

Ribuan Lampion Imlek Mulai Dinyalakan, Warga Padati Kawasan Pasar Gede untuk Berswafoto

imlek
Koin ini dahulu diikat jadi satu dan diberikan pada orang-orang yang datang. (Foto: Pixabay/NatashaG)


Dilansir dari berbagai sumber, yang boleh memberikan angpao adalah mereka yang sudah menikah. Karena menurut budaya Tionghoa, orang yang sudah menikah adalah orang yang sudah mapan secara ekonomi. Pada perayaan Imlek biasanya angpao diberikan kepada saudara yang lebih muda atau yang belum menikah.

Jumlah uang yang diberikan haruslah genap karena jika jumlah uangnya ganjil itu berarti angpao untuk kematian. Tak hanya itu jika dijumlahkan haruslah lebih dari empat atau kurang dari empat, dan tidak boleh pas empat.

Ini berhubungan dengan kepercayaan orang Tionghoa bahwa angka empat dalam Bahasa Mandarinnya terdengar sepeti kata “mati”. Oleh karena itu angka empat sangatlah dihindari.

Pada zaman dahulu, angpao biasanya merupakan manisan atau makanan. Namun, seiring perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah apabila memberikan uang dan membiarkan mereka untuk membeli hadiahnya sendiri. Dengan demikian dianggap bisa lebih bertanggung jawab dengan hadiah yang sudah dibeli dari uangnya itu.

Baca Juga:

Menyambut Imlek, JHL Solitaire Solitaire Helat Intimate Gala Dinner

imlek
Angpao uang muncul pada zaman dinasti Ming dan Qing. (Foto: Unsplash/Mae Mu)

Memberikan uang sebagai hadiah muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Saat itu, memberikan uang sebagai hadiah disebut untuk meningkatkan peredaran uang dan perputaran ekonomi di zaman itu.

Uang terkecil yang beredar di Tiongkok pada saat itu adalah keping perunggu atau yang biasa disebut dengan Wen atau Tongbao. Keping perunggu ini berlubang segi empat di bagian tengahnya. Biasanya keluarga akan mengikatnya dengan tali merah yang menjadikannya sebagai untaian uang.

Menurut legenda yang hidup di kalangan budaya Tionghoa, berkisah tentang monster. Pada malam tahun baru monster itu keluar untuk mengelus dahi anak-anak yang sedang tidur. Konon anak yang dielus olehnya akan menjadi gila. Demi keselamatan anaknya, orang tua biasa akan berjaga sepanjang malam agar monster itu tidak bisa menyentuh anaknya.

Berdasarkan legenda yang ada di Provinsi Zhejiang, ada pasangan suami istri yang baru memiliki anak di usia senja. Kemudian membuat mereka sangat menyayangi dan menjaga anaknya itu. Pada saat malam tahun baru, orang tua dari anak itu mengajaknya bermain dengan kertas merah berisi uang. Namun karena kelelahan orang tua anak itu tertidur dan uang yang sudah dibungkus kertas merah itu jatuh di samping bantal si anak.

Tak lama kemudian datanglah monster itu dan dengan segera menjulurkan tangannya untuk mengelus kepala anak itu. Kedua orang tua itu terbangun dan kaget ketika melihat binatang tersebut. Saat yang sama bungkusan merah yang berisikan uang itu memancarkan cahaya terang dan monster itu segera meninggalkan tempat sambil berteriak histeris.

Dalam waktu singkat, seluruh pelosok desa mengetahui peristiwa tersebut dan menganggap bahwa uang yang dibungkus kertas merah itu bisa menjaga dari sentuhan monster dan menamakannya sebagai angpao.? (lio)


Baca Juga:

Fakta Unik Seputar Imlek



Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH