Fakta Baru, Mayoritas Pasien COVID-19 Menderita Kelelahan Jangka Panjang Konsekuensi ke depan masih belum bisa dieksplorasi. (Foto: Unsplash/Kinga Cichewicz)

LEBIH dari setengah pasien dan staf positif virus corona yang dipantau rumah sakit Irlandia menderita kelelahan secara terus-menerus setelah awal penyakit. Demikian hasil sebuah penelitian yang menyoroti 'beban signifikan' dari gejala yang masih ada.

Hal itu terjadi ketika kelompok pasien dan dokter menyerukan lebih banyak penelitian tentang efek jangka menengah dan jangka panjang dari virus corona baru, SARS-CoV-2.

Baca juga:

Kenali Penyakit Lain Anak yang Terkena COVID-19

1
Perempuan menyumbang 54% pasien yang mengalami kelelahan terus-menerus. (Foto: Unsplash/Javier Matheu)

"Ciri-ciri yang muncul dari infeksi SARS-CoV-2 telah dikarakterisasi dengan baik. Namun, konsekuensi jangka menengah dan jangka panjang dari infeksi tersebut masih belum dieksplorasi," kata Liam Townsend dari St James's Hospital dan Trinity Translational Medicine Institute di Trinity College Dublin.

Penelitian, yang melacak 128 peserta di Rumah Sakit St James, menemukan 52% pasien melaporkan kelelahan terus-menerus ketika mereka dinilai rata-rata 10 minggu setelah 'pemulihan klinis' dari infeksi. Terlepas dari seberapa serius infeksi awal mereka.

Penelitian pendahuluan yang belum periksa para ahli ini melibatkan 71 orang yang dirawat di rumah sakit dan 57 karyawan rumah sakit yang sakit ringan. Usia rata-rata mereka ialah 50 tahun dan semua peserta dinyatakan positif COVID-19.

Para peneliti mengamati berbagai faktor potensial, termasuk tingkat keparahan penyakit awal dan kondisi yang sudah ada sebelumnya, termasuk depresi. Mereka menemukan bahwa tidak ada bedanya apakah pasien dirawat di rumah sakit atau tidak.

Namun, mereka menemukan bahwa perempuan, walaupun hanya 54% dari peserta, menyumbang dua pertiga dari mereka yang terus-menerus kelelahan.

Mereka yang memiliki riwayat kecemasan atau depresi sebelumnya juga ditemukan lebih mungkin mengalami kelelahan.

Para penulis mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa diperlukan lebih banyak pekerjaan untuk menilai dampak COVID-19 pada pasien dalam jangka panjang.

“Temuan kami menunjukkan beban yang signifikan dari kelelahan pasca-virus pada individu dengan infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya setelah fase akut penyakit COVID-19,” ujar peneliti.

Penelitian, yang dipresentasikan di European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases Conference on Coronavirus Disease (ECCVID), akhir bulan ini, menyarankan mereka yang terkena dampak layak untuk diteliti lebih lanjut dan intervensi dini.

Karena pandemi telah menyebar ke seluruh dunia, sebagian besar perhatian difokuskan pada dampak langsung, diukur dengan masuk rumah sakit dan kematian. Namun, semakin jelas bahwa virus dapat menggema lama setelah pasien 'pulih'.

Melansir laman Science Alert, kelompok dukungan daring di seluruh dunia telah menarik ribuan anggota untuk mencari bantuan dan nasihat tentang penyakit yang sedang berlangsung.

Pada Juli, sebuah penelitian terhadap pasien rumah sakit yang pulih di Italia menemukan bahwa 87% masih menderita setidaknya satu gejala selama 60 hari setelah jatuh sakit. Kelelahan dan kesulitan bernapas jadi yang paling umum.

Baca juga:

Kurang Vitamin D Dua Kali Lebih Mungkin Terkena Virus Corona

2
Juga dialami mereka dengan gejala awal yang lebih ringan. (Foto: Unsplash/Hush Naidoo)

Peneliti dari King's College London, yang berada di belakang proyek pelacakan gejala skala besar, memperkirakan bahwa satu dari 10 orang yang menggunakan aplikasi masih mengalami gejala setelah 30 hari dan beberapa tetap tidak sehat selama berbulan-bulan.

"Kami semakin melihat bukti 'COVID panjang', dan kelelahan adalah salah satu efek samping yang sering dilaporkan. Penelitian ini menyoroti bahwa kelelahan dialami baik pada pasien rawat inap maupun pada mereka dengan gejala awal yang lebih ringan," kata Michael Head, mengomentari penelitian terbaru.

"Meningkatnya viruss corona yang berkepanjangan adalah mengapa penting untuk mengurangi penularan komunitas. Bahkan di antara kelompok orang yang lebih muda yang tidak langsung sakit parah." (lgi)

Baca juga:

Antibodi Virus Corona Mampu Bertahan Selama Empat Bulan

Kredit : leonard

Tags Artikel Ini

Leonard

LAINNYA DARI MERAH PUTIH