Lebih Bahaya Pulangkan Kombatan ISIS daripada Kembalikan Rizieq ke Indonesia? Rizieq Shihab. Foto: MP/Dery Ridwansah

Merahputih.com - Pengamat politik, Muhammad AS Hikam mengkritik pihak-pihak yang mendukung pemulangan ratusan WNI mantan anggota ISIS ke tanah air atas dasar HAM.

Pemulangan WNI eks ISIS yang sudah terpapar paham radikalisme dan terorisme justru jauh lebih bahaya daripada memulangkan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab yang kini terkatung-katung nasibnya di Arab Saudi.

“Implikasinya akan lebih membahayakan NKRI dibanding memulangkan HRS,” kata Hikam dalam keterangannya, Jumat (7/2).

Baca Juga:

PKS Ingatkan Pemulangan 600 Eks ISIS ke Indonesia Sesuai Amanat UUD 1945

Ia berharap agar semua pihak sependapat dengan sikap pribadi Presiden Joko Widodo yang tidak ingin memulangkan WNI eks teroris ISIS itu.

“Sudah lah! Kamu ikuti saja pandangan Presiden Jokowi. Beliau jelas menolak ide ugal-ugalan seperti itu karena akan makin mengancam Keamanan Nasional dan keselamatan bangsa. Paham?!,” tegas mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) era Presiden Gus Dur ini.

Eks WNI simpatisan ISIS kini masih berada di Timur Tengah
Ratusan eks WNI yang menjadi simpatisan ISIS kini masih terkatung-katung di Suriah (ANTARA FOTO/REUTERS/Rodi Said)/

Hikam memandang, jika berkedok HAM, maka orang yang mendukung rencana tersebut hanya mencari sensasi.

“Kamu pada mau pulangin gerombolan teroris dengan alasan hak asasi, kemanusiaan dan dalih-dalih mblegedhes lainnya. Apa kamu pada nggak punya malu cari sensasi murahan,” kata Hikam

Sementara, Wakil Menteri Agama (Wamenag) KH. Zainut Tauhid Sa’adi menyatakan, tidak benar Menteri Agama Fachrul Razi mendukung rencana pemulangan 600 WNI eks ISIS.

Menurutnya hingga kini Kemenag belum pernah menerima usulan tersebut dari pihak manapun, termasuk dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Baca Juga:

Ketua MPR Minta Masyarakat Tak Perlu Khawatir Soal Pemulangan Eks Simpatisan ISIS

Kemenag baru akan melaksanakan rapat koordinasi dengan BNPT bersama kementerian atau lembaga terkait. "Rakornya saja baru akan dilaksanakan dalam waktu dekat untuk mengkaji mendalam soal nasib WNI eks ISIS di luar negeri,” ujar Zainut kepada wartawan.

Zainut menyebut, ada potensi ancaman keamanan di tanah air jika 600 eks ISIS dipulangkan. Dia menilai, masih adanya potensi ancaman keamanan karena bagaimanalun mereka bukan saja sekadar terpapar paham radikal, tetapi sebagian dari mereka adalah pelaku yang terlibat langsung dalam kegiatan di ISIS. Sehingga perlu ada tinjauan dari aspek hukum formalnya. (Knu)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH