Latah Ikuti Keraton Agung Sejagat, Kini di Sukoharjo Muncul Kasultanan Karaton Pajang Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV atau Suradi menjadi raja di Kasultanan Karaton Pajang, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (16/1). (MP/Ismail)

MerahPutih.Com - Munculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah membuat geger banyak pihak. Keraton Agung Sejagat diklaim sebagai kerajaan baru setelah 500 tahun berakhirnya imperium Majapahit.

Namun demikian, sebelum Keraton Agung Sejagat deklarasi di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah telah muncul kerajaan baru pada 2010 bernama Kasultanan Karaton Pajang.

Baca Juga:

Geger Keraton Agung Sejagat, Majelis Adat Kerajaan Nusantara: Dasar Historisnya Mana?

Sejarah penamaan Kasultanan Karaton Pajang diambil dari Kerajaan Pajang yang didirikan Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya diketahui telah runtuh lebih dari 400 tahun yang lalu. Kerajaan Pajang sendiri merupakan cikal bakal berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang saat ini masih berdiri megah di Solo, Jawa Tengah.

Keraton Kasultanan Karaton Pajang di Sukoharjo Jawa Tengah
Kasultanan Karaton Pajang di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah yang merupakan kerajaan baru berdiri 2010, Kamis (16/1). (MP/Ismail)

Berdasarkan pantauan merahputih.com, lokasi Kasultanan Karaton Pajang bersebelahan dengan petilasan Kasultanan Karaton Pajang di Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Petilasan itu sudah lebih dahulu berdiri, yakni pada 1993.

Dari hasil penelusuran, pendiri Kasultanan Karaton Pajang adalah Suradi dengan gelar Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV.

"Saya mendapatkan mandat mendirikan Kerajaan Pajang dari Kanjeng Sultan Suryo Alam yang merupakan sultan di Kasultanan Dhimak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah," Suradi kepada merahputih.com di Sukoharjo, Kamis (16/1).

Ia berkisah pada 2009 dilantik menjadi Adipati dulu. Setahun kemudian atau 2010 mendaftarkan kerajaan ini sebagai Yayasan Kasultanan Karaton Pajang ke Jakarta.

"Lima tahun kemudian saya naik tahta menjadi sultan setelah dianggap sukses dalam mengelola dan membangun kerajaan," kata dia.

Pada 2019 lalu, lanjut dia, diberi gelar Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV. Ia menegaakan kerajaan yang dia dirikan hanya untuk merawat budaya. Pihaknya juga tidak khatir kemunculan Keraton Agung Sejagat.

"Pendiri Keraton Agung Sejagat tidak pakai nalar dalam membuat kerajaan. Keraton Sejagat itu tidak ada. Sejarah dunia sudah ada kerajaan Arab, kerajaan Inggris, apa mungkin bisa disebut Keraton Agung Sejagat itu jelas aneh," paparnya.

Baca Juga:

Pro Kontra Keraton Agung Sejagat, FSKN Minta Klarifikasi Kemendagri dan Kemendikbud

Ia menambahkan tidak bersikap aneh-aneh dalam memimpin. Bahkan semua operasional ditanggung pribadi yang didapat dari usahanya sebagai kontraktor.

"Jadi anggota atau pengikut tidak dipungut biaya. Justru saya yang memberi mereka uang pada saat tertentu," pungkasnya.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Ismail, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Jawa Tengah.

Baca Juga:

Pengikut Raja Keraton Agung Sejagat Akan Dapat Malapetaka Jika...



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH