Larangan RRI Memutar Lagu Koes Bersaudara Koes Bersaudara. (sifahmi)

PENGGEMAR Koes Bersaudara seantero Nusantara harus gigit jari. Mereka tak lagi bisa mendengarkan perpaduan suara Yon dan Yok mengudara bebas.

Setelah merilis album piringan hitam long play, dan mengganti nama Kus menjadi Koes Bersaudara pada pertengahan tahun 1963, RRI menolak memutar tembang-tembang manis, semisal Pagi Yang Indah, Bis Sekolah, Dara Manisku, Oh Kau Tahu, dan lagu lainnya milik Koes Bersaudara.

Terhitung sejak 26 September 1963, Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat melarang seluruh stasiun RRI daerah untuk memutar lagu-lagu Koes Bersaudara.

Direktorat Jendral RRI, Sukirman, seturut Selecta tahun 1963, dikutip dari Ambri Rahayu pada “Perjalanan Karir Koes Plus 1969-1987”, menegaskan RRI mengeluarkan larangan tersebut karena Koes Bersaudara dianggap tidak mau bekerja sama dengan RRI lantaran meminta honorarium tinggi di acara amal RRI.

Seluruh personel Koes Bersaudara kaget mendengar tuduhan tersebut. Mereka merasa tidak pernah melakukan berbuat begitu. “Tapi mereka memilih untuk diam dan tidak melakukan tindakan klarifikasi atas berita tersebut,” tulis Ambri Rahayu.

Koes Bersaudara pun berusaha membuktikan tuduhan tersebut. Mereka memutuskan tampil di acara malam pengumpulan dana untuk penyelenggaraan Pesta Olahraga Untuk Negara-Negara Berkembang atau The Games of the New Emerging Forces (GANEFO) bertajuk Malam Ganefo, dan menyumbangkan seluruh honorarium untuk penyelenggaraan Ganefo.

Meski begitu, tindakan simpati Koes Bersaudara tak bersambut. RRI tetap melarangan lagu-lagu mereka mengudara.

Larang RRI dianggap sebagian kalangan sebagai kuburan bagi Koes Bersaudara. Kesimpulan tersebut sangat berdasar lantaran RRI kala itu merupakan media penghubung terbesar dengan jangkauan hingga ke penjuru Nusantara.

Ramalan tersebut tak terbukti. Koes Bersaudara ternyata mampu bertahan. Tekanan RRI bahkan membuat mereka makin terkenal dan menarik perhatian Lembaga Kebudayaan Rakyat, Lekra.

Djon Koeswoyo, seturut Ambri Rahayu, pernah didatangi seorang anggota Pemuda Rakyat kebetulan kenal dengannya meminta agar Koes Bersaudara bergabung dengan organisasi budaya berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) tersebut.

Tawaran tersebut kemudian dibicarakan dengan seluruh anggota. Keputusan akhir, Koes Bersaudara menolak bergabung.

Toni, mewakili Koes Bersaudara mengatakan tak ingin terikat pada organisasi dengan tujuan politik. Koes Bersaudara menurutnya adalah seniman. “Toni berharap penolakannya akan membuat Koes Bersaudara bebas dari keterikatan dan persoalan politik,” tulis Rahayu. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH