LAPAN Sarankan Indonesia Segara Sistem Navigasi Mitigasi Bencana Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin (Foto: MerahPutih/Yohanes Abimanyu)

MerahPutih.Com - Sebagian besar wilayah di tanah air termasuk daerah rawan bencana seperti longsor, banjir, gempa bumi dan gunung meletus. Meski sudah ada sistem peringatan dini bencana tapi sering kali meleset atau kurang berfunsi maksimal.

Menghadapi situasi tersebut, penting sekali sistem navigasi mitigasi bencana. Seperti diungkapkan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin. Menurutnya, Indonesia segera memiliki sistem navigasi satelit sendiri seperti Global Positioning System (GPS) Google Maps.

"Ini nanti bukan hanya untuk navigasi dan penentuan posisi saja sesuai makna harfiahnya GNSS. Tetapi juga merambah ke aspek mitigasi bencana juga," kata Thomas di sela acara "9th Multi-GNSS Asia (MGA) Conference" di Jakarta, Senin (9/10).

Menurut Thomas Djamaluddin sebagaimana dilansir Antara, sistem navigasi satelit yang jamak adalah jenis GPS yang dikembangkan Amerika Serikat. Kendati begitu, GPS merupakan salah satu bagian dari Sistem Satelit Navigasi Global atau Global Navigation Satellite System (GNSS).

Thomas Djamaluddin mengatakan terdapat GNSS dari negara lain seperti Glonass yang dikembangkan Rusia, Galileo (Eropa), Baidu (China), Quasi-Zenith Satellite System/QZSS (Jepang) dan Indian Regional Navigation Satellite System/IRNSS (India).

Sementara itu, Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Hasanuddin Z Abidin mengatakan terdapat keuntungan apabila Indonesia memiliki sistem navigasi satelit sendiri. Dengan sistem sendiri, maka keakuratan pemetaan dapat diupayakan presisi seperti potensi kekayaan alam suatu tempat sesuai kebutuhan dalam negeri.

Hasanuddin Abidin mencontohkan Google Maps yang banyak digunakan oleh pengguna telepon seluler di Indonesia memang sudah mencukupi kebutuhan. Akan tetapi, untuk hal-hal tertentu Google Maps belum menyajikan data sesuai kebutuhan dalam negeri.

"Dengan sistem sendiri tentu lebih akurat dan teliti. Google Maps yang berbasis GPS itu memiliki ketelitian tiga-lima meter. Kalau untuk kebutuhan sehari-hari oke, tapi kalau untuk penelitian tidak cukup," kata dia.

Saat ini, dia mengatakan Indonesia terus berupaya mengembangkan sistem navigasi satelit sendiri sehingga bisa dimanfaatkan. Jika sistem navigasi buatan dalam negeri sudah rampung dibuatmaka nantinya akan dipadukan dengan GNSS dari berbagai negara.

"Kalau gunakan banyak maka semakin teliti. Multi-GNSS itu lebih 'reliable' (handal). Ada kawasan sinyal GPS kena blok di suatu gedung maka kita bisa pakai sinyal Baidu atau sistem peta lainnya," jelas Hasanuddin Abidin.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH