Langkah Selamatkan Sektor Wisata Indonesia Pantai Indonesia. (Foto: Kemenperekraf).

MerahPutih.com - Pandemi COVID-19 membuat sektor pariwisata paling terimbas. Paling tidak, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia diprediksi menurun menjadi 5 juta orang dari sebelumnya 16 juta orang pada 2019.

Sedangkan jumlah pergerakan wisatawan nusantara diprediksi turun menjadi 120 juta orang dari 303 juta tahun lalu. Dampaknya, terjadi pendapatan devisa akan turun dari target sejumlah 21 miliar dolar AS menjadi 15 miliar dolar AS.

Bergerak cepat agar sektor ini cepat pulih, Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp3,8 triliun melalui sejumlah insentif yang diberikan kepada para pelaku pariwisata di Tanah Air.

Baca Juga:

Pemprov DKI Tiadakan CFD dan Perlombaan 17-an di Ibu Kota

Selain itu, Kementerian Keungan menyiapkan beberapa skema untuk mendukung upaya pemulihan selain alokasi dana Rp3,8 triliun, Kemenkeu juga memberikan insentif tiket untuk 10 destinasi pariwisata sebesar Rp0,4 triliun. Kemudian hibah pariwisata senilai Rp0,1 triliun. Sedangkan kompensasi atau dukungan kepada pemda melalui dana cadangan dalam rangka pemulihan ini sebesar Rp8,7 triliun.

Deputi I Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Febry Calvin Tetelepta mengatakan, stimulus yang ditetapkan pemerintah adalah berbagai insentif subsidi atau pengurangan Pajak Penghasilan (PPh).

Insentif tersebut, kata ia, dapat dimanfaatkan oleh industri pariwisata yang mencakup perhotelan, restoran, biro perjalanan wisata, serta bidang usaha ekonomi kreatif seperti periklanan, perfilman, dan lainnya. Pemerintahpun, mensinergikan sejumlah pihak agar sektor pariwisata kembali pulih.

"Keseriusan pemerintah dalam menangani pandemi menjadi sinyal positif dan membangun kepercayaan calon wisatawan," katanya.

Langkah lainnya adalah membuka kembali sektor pariwisata di Bali secara bertahap mulai Juli 2020. Direncanakan juga pembukaan destinasi wisata lainnya seperti Pulau Bintan, Bangka Belitung serta Banyuwangi di Jawa Timur.

Wisata
Wisata Labuan Bajo. (Foto: Kemenperekraf).

“Tentunya pembukaan ini disertai dengan simulasi dan persiapan yang ketat,” ujarnya seperti dilansir kantor berita Antara.

Namun, ia meminta pelaku industri ini juga harus mengubah pendekatan dan strategi berdasarkan perubahan perilaku masyarakat yaitu dengan cara inovasi dan digitalisasi. Selain itu pelaku melakukan optimalisasi sumber daya sesuai potensi pasar.

“Fitur-fitur produk komunikasi dan saluran penjualan juga harus menyesuaikan,” tambah Febry.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nunung Rusmiati menegaskan, pihaknya sejumlah program untuk menghadapi pandemik, di antaranya mengadakan Asia Inbound Talk Tourism setiap pekannya. Dalam lima bulan terakhir ini, hampir tidak ada kegiatan wisata.

Baca Juga:

BUMN Waskita Bangun 1300 Kilometer Tol Senilai Rp150 Triliun



Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH