Lakukan Aksi di Depan Kejagung, Mahasiswa Tuntut Kasus Pidana Novel Dilanjutkan Aksi Gerakan Mahasiswa Pengawal Keadilan (GMPK) di depan Kejaksaan Agung, Jumat (10/1) siang tadi. (Foto: MP/Kanugrahan)

MerahPutih.com - Gerakan Mahasiswa Pengawal Keadilan (GMPK) mendesak Kejaksaan Agung melanjutkan kasus dugaan penganiayaan oleh Novel Baswedan. Tuntutan itu disampaikan dalam aksi yang digelar di depan Kejaksaan Agung, Jumat (10/1) siang tadi.

"Tidak ada di negeri ini yang kebal hukum. Melalui aksi pawai pada Jumat keramat ini, kami berkali-kali mengingatkan agar Jaksa Agung segera adili Novel Baswedan," tegas Koordinator GMPK dan Corong Rakyat Ahmad dalam keterangannya, Jumat (10/1).

Baca Juga:

IPW Sebut Tidak akan Ada Tersangka Baru Kasus Penyerangan Novel Baswedan

Selain menggelar pawai, mereka juga melakukan aksi yang tergolong nekat saat hujan cukup deras dengan tiduran di tengah jalan tepat di depan gedung Kejaksaan. Mereka mengaku kecewa lantaran sampai detik ini, kasus Novel tak kunjung disidangkan di pengadilan.

"Semua sama di mata hukum, termasuk Novel Baswedan," jelasnya.

Kata dia, tidak adil apabila Mabes Polri saja bisa mengungkap kasus penyiraman Novel, tapi kenapa Kejagung tidak melanjutkan berkas kasus penganiayaan Novel ke pengadilan.

"Sama saja yang mereka lakukan ini adalah pelanggaran HAM," katanya.

 Aksi Gerakan Mahasiswa Pengawal Keadilan (GMPK) di depan Kejaksaan Agung, Jumat (10/1) siang tadi. (Foto: MP/Kanugrahan)
Aksi Gerakan Mahasiswa Pengawal Keadilan (GMPK) di depan Kejaksaan Agung, Jumat (10/1) siang tadi. (Foto: MP/Kanugrahan)

Mereka juga memberikan sindiran keras kepada aktivis HAM yang tidak peka atas kejadian tersebut, yang justru lebih berpihak pada penyidik KPK.

"Aktivis HAM mana suaramu? Kasus penyiraman Novel sudah kau bela, terus kapan kasus dugaan penganiayaan dan pembunuhan oleh Novel Baswedan tidak kalian perjuangkan," pungkasnya.

Baca Juga:

Jaksa Agung Dikritik karena Lambat Usut Dugaan Pidana Novel Baswedan

Novel sebelumnya dituduh menganiaya pencuri sarang burung walet hingga meninggal dunia dengan cara ditembak.

Peristiwa itu terjadi saat Novel masih menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu sekitar 2004.

Novel pernah menjalani pemeriksaan kode etik oleh Mapolres Bengkulu dan Polda Bengkulu atas kasus ini.

Ia pun telah memperoleh sanksi berupa teguran.

Kasus Novel akhirnya berakhir setelah Kejaksaan Agung mengeluarkan surat ketetapan penghentian penuntutan (SKP2).

Langkah ini diambil karena dinilai tidak cukup bukti serta durasi penanganan waktu yang telah kedaluwarsa. (Knu)

Baca Juga:

Jaksa Agung Ditantang Ungkap Kembali Kasus 'Sarang Walet' Novel Baswedan


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH