Laksamana Yudo Margono Jadi Panglima, Poros Maritim Dunia di Depan Mata Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono. Foto: Dispen AL

Merahputih.com - Sejumlah Perwira Tinggi (Pati) dikabarkan akan bersaing menjadi Panglima TNI menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto yang masuki masa pensiun.

Dua nama paling santer akan menggantikan Hadi adalah Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Andika Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Yudo Margono.

Sosok Yudo dikabarkan memiliki kans besar karena sesuai 'perputaran' di tubuh TNI di era pemerintahan Jokowi, KSAL-lah yang mendapat kesempatan menjadi Panglima.

Pengamat militer Muradi menilai Yudo Margono tepat menjadi Panglima. Setidaknya karena tiga alasan. Pertama, visi politik pertahanan Indonesia ialah poros maritim dunia.

"Kebayang enggak poros maritim dunia tapi panglimanya enggak pernah dijabat angkatan laut. Buat saya agak jadi jargonis ketimbang sesuatu yang benar," ujar Muradi, Selasa (28/9).

Baca Juga

Ini Harapan Panglima di HUT ke-76 TNI AL

Kedua, adalah alasan regenerasi. Muradi mengatakan, jika KSAD Andika Perkasa yang menjadi panglima, maka hanya menjabat sekitar satu tahun. Beda dengan pria berusia 56 tahun ini yang bisa menjabat dua tahun.

"Berdasarkan pada regenerasi, kalau dari '86 ke '87 katakanlah saya nyebut Andika lah ya'86, Andika kalau nanti November dilantik paling dapat cuma 11 sampai 13 bulan," jelas Muradi.

Beda jika Panglima TNI dari matra laut. "Pak Kasal sekarang bisa sampai 2023 (menjabat panglima), masih dua tahun lah," ucapnya.

Ketiga, adalah berdasarkan asas keadilan. Artinya dalam karir seseorang di tentara jabatan tertingginya adalah panglima TNI. Sehingga, jika KSAL Yudo Margono sudah tepat secara rekam jejak untuk menjadi panglima maka baiknya dipilih.

"Kalau yang lain-lain tergantung persepsi presiden terkait dengan dinamika politik keamanan pertahanan ke depan," katanya.

Baca Juga

Belum Laporkan Harta Kekayaan, Kasad Sempat Konsultasi dengan KPK

Muradi mencontohkan masa krusial pemerintahan Jokowi ada di ancaman laut China Selatan. Idealnya, bila dipimpin oleh panglima dari angkatan laut ancamannya bisa terbaca.

"Kebayang kalau misalnya persepsi ancaman laut tapi panglimanya angkatan darat, kan enggak sama, bidangnya memang lebih ke sana (angkatan laut)," tutup Muradi.

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan, apabila dilihat dari sisi keefektifan jalannya sebuah organisasi, dirinya merasa Presiden Joko Widodo akan memilih Yudo untuk duduk menjadi Panglima TNI.

"Sementara Yudo Margono memiliki masa aktif 2,5 tahun. Dari sisi organisasi, masa yang singkat jelas akan mengurangi efektivitas kepemimpinan dan pengelolaan organisasi," kata Khairul kepada wartawan.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono beserta jajaran saat menghadiri rapat kerja dan rapat dengar pendapat RUU Landas Kontinen di Gedung Nusantara II DPR RI, Jakarta, pada hari Kamis (2/9/2021). ANTARA/HO-TNI AL
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono beserta jajaran saat menghadiri rapat kerja dan rapat dengar pendapat RUU Landas Kontinen di Gedung Nusantara II DPR RI, Jakarta, pada hari Kamis (2/9/2021). ANTARA/HO-TNI AL

Dia menyebut, peluang Yudo cenderung terus menguat seiring waktu. Tak ada masalah baginya dan bagi organisasi TNI, jika pergantian dilakukan dalam waktu dekat ataupun menjelang masa pensiun Hadi.

"Jadi, mempertimbangkan pergiliran matra atau tidak, peluang Yudo Margono tampaknya makin besar," ujarnya.

Ia menilai bila Presiden Jokowi memilih Yudo, maka itu akan mematahkan opini publik yang berkembang di masyarakat. Misalnya seperti Jokowi itu tak bisa bergerak bebas dalam memilih pembantunya.

Laksamana Yudo Margono sendiri lahir di Madiun, Jawa Timur pada tanggal 26 November 1965. Yudo merupakan alumnus Akademi Angkatan Laut angkatan ke-XXXIII, tahun 1988.

Selepas lulus, ia resmi berkiprah di dunia militer dan menjadi Asisten perwira divisi (Aspadiv) Senjata Artileri Rudal di KRI YNS 332. Lalu ia juga dipercaya untuk menjadi Kadep Ops KRI Ki Hajar Dewantara 364 dan Palaksa KRI Fatahillah 361.

Yudo dipercaya menjadi komandan kapal, yakni KRI Pandrong 801 atau kapal patroli, KRI Sutanto 877 kapal jenis perang, hingga KRI Ahmad Yani 351.

Kemudian, pada 2004 ia menjadi Komandan Lanal Tual. Kariernya terus meningkat, seperti pada 2008 menjadi Komandan Lanal Sorong, Komandan Lantamal I Belawan pada 2015, hingga jadi Kepala Staf Koarmabar pada 2016.

Baca Juga

Laksamana Yudo Margono Diprediksi Jadi Panglima TNI

Tak berhenti sampai di situ, nama Yudo terus merangkak naik dengan dipercayainya sebagai Pangkolinlamil pada 2017–2018, Pangarmabar pada 2018, dan Pangarmada I pada 2018–2019. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Pangkogabwilhan I pada 2019.

Posisi tersebut semakin melambungkan namanya karena keberhasilannya mengemban tanggungjawabnya.

Mulai dari pengusiran kapal asing di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Kepulauan Riau, pemulangan WNI dari Wuhan, Tiongkok, hingga memimpin operasi penanganan pasien virus corona di Rumah Sakit Darurat (RSD) COVID-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta. (Knu)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Tim SAR Berharap Segera Dapatkan 'Black Box' Sriwijaya Air SJ 182
Indonesia
Tim SAR Berharap Segera Dapatkan 'Black Box' Sriwijaya Air SJ 182

Bagus P berharap, black box pesawat Sriwijaya Air segera ditemukan

Komnas HAM Telah Minta Keterangan 25 Saksi Terkait 6 Laskar FPI yang Tewas
Indonesia
Komnas HAM Telah Minta Keterangan 25 Saksi Terkait 6 Laskar FPI yang Tewas

Komisioner Komnas HAM sekaligus Ketua Tim Penyelidikan, M Choirul Anam mengatakan, puluhan saksi tersebut berasal dari semua pihak terkait termasuk masyarakat.

Langkah Kemenperin Biar Industri Pertahanan Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Indonesia
Langkah Kemenperin Biar Industri Pertahanan Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Satu langkah yang dilakukan untuk meningkatkan TKDN industri pertahanan adalah dengan membentuk holding klaster industri pertahanan

Peran dan Kewenangan Bakamla Resmi Diperkuat
Indonesia
Peran dan Kewenangan Bakamla Resmi Diperkuat

Komisi I DPR memahami capaian kinerja Bakamla

Tiga Wilayah DKI Jadi Target Kawasan Rendah Emisi
Indonesia
Tiga Wilayah DKI Jadi Target Kawasan Rendah Emisi

Sebagai tahap lanjutnya itu akan ada transport hub, MRT

Jokowi Sebut Indonesia Capai Babak Baru Vaksinasi COVID-19
Indonesia
Jokowi Sebut Indonesia Capai Babak Baru Vaksinasi COVID-19

Indonesia telah menyuntikkan lebih dari 200 juta dosis kepada masyarakat.

Jaksa Agung Perintahkan Jajarannya tidak Ragu Tindak Pelanggar PPKM Darurat
Indonesia
Jaksa Agung Perintahkan Jajarannya tidak Ragu Tindak Pelanggar PPKM Darurat

"Jangan ragu melakukan upaya represif melalui penindakan bagi siapa saja atau pihak kementerian, lembaga, atau pemerintah daerah apabila ada yang bertujuan untuk mengambil kesempatan dan keuntungan tidak sah bagi pribadinya sendiri di tengah kondisi yang seperti ini," ucap Jaksa Agung

Terawan Nolak, Fadjroel Rachman Masuk Daftar Nama Calon Dubes
Indonesia
Terawan Nolak, Fadjroel Rachman Masuk Daftar Nama Calon Dubes

Terawan Agus Putranto tadinya dicalonkan menjadi Dubes RI yang berkedudukan di Madrid.

1.985 Personel Gabungan Amankan Sidang Tatap Muka Rizieq Shihab di PN Jaktim
Indonesia
1.985 Personel Gabungan Amankan Sidang Tatap Muka Rizieq Shihab di PN Jaktim

"Kekuatan yang kami siapkan 1.985 personel gabungan, dengan adanya kegiatan (sidang) offline besok," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, Kamis (25/3).

Pemprov DKI Segera Beri Vaksin Dosis Ketiga untuk Nakes
Indonesia
Pemprov DKI Segera Beri Vaksin Dosis Ketiga untuk Nakes

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam waktu dekat ini akan melakukan pemberian vaksin dosis ketiga atau vaksin booster jenis Moderna untuk tenaga kesehatan (nakes).