Lacak Jejak Cheng Ho dan Sang Juru Mudi di Pelabuhan Kuno Lasem Patung awak kapal Cheng Ho di Sam Poo Kong, Semarang.(Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

KOTA Lasem berada di pesisir pantai utara Pulau Jawa dengan suasana tropis, tanah subur, hutan, pegunungan serta bentang pantai memanjang. Selain itu, di Lasem juga terdapat dataran tinggi serta lembah yang terletak di selatan garis pantai. Sedangkan di sisi timur Lasem terpancang sebuah gunung bernama Gunung Argopuro. Hal tersebut membuat masyarakat yakin pada zaman dulu kawasan laut Lasem berkembang menjadi lalu lintas perdagangan antar-kerajaan.

M Akrom Unjiya dalam buku Lasem, Negeri Dampoawang: Sejarah yang Terlupakan menjelaskan pada zaman Majapahit dipimpin Hayam Wuruk (1350-1389), Lasem merupakan kerajaan bawahan Majapahit. Wilayah teritorial Kerajaan Lasem kala itu sangat luas. "Beberapa naskah menggambarkan luasnya wilayah Kerajaan Lasem," tulis M Akrom.

Selain dataran dan perairan yang luas, jumlah populasi rakyat Lasem juga tinggi. Sehingga, tulis Akrom, cukup mengindikasikan bahwa Kerajaan Lasem mempunyai potensi tersendiri sebagai kekuatan dan penopang bagi Majapahit.

Hubungan Lasem dan Majapahit semakin diperkuat dengan adanya petinggi militer angkatan laut Majapahit Rajasa Wardhana. Ia bertanggung jawab atas armada angkatan perang yang bersandar di Pelabuhan Lasem. "Tepatnya di Teluk Regol dan Kairingan." Teluk tersebut (Regol), masih kata M Akrom, merupakan bandar perniagaan besar di Jawa yang sangat sibuk pada masa itu.

Seturut dengan M Akrom, Raden Panji Kamzah dalam Babad Lasem (1858) memaparkan tentang keindahan, kedamaian, dan kemakmuran Kerajaan Lasem pada masa itu, dipimpin oleh Bhre Lasem Duhitendu Dewi. "Lasem sebagai kota raja yang nyaman, tertata dengan asri dan indah," tulis Panji Kamzah.

Masyarakat sekitar pun memercayai, Pelabuhan Regol sudah ada sebelum Kerajaan Majapahit (1293-1500). Bahkan, ada juga beberapa masyarakat yakin pelabuhan itu memiliki keterkaitan dengan pendaratan juru mudi Laksamana Cheng Ho atau Zheng He (1371-1433), bernama Bi Nang Oen.

Pendaratan Bi Nang Oen

Euforia kedatangan Laksamana Cheng Ho di Lasem tak ubahnya seperti Semarang. Meski tak banyak penjelasan literatur, tapi tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk melestarikan kisah itu secara tradisi lisan. Namun, ada sedikit beda dengan Semarang. Di Lasem, justru kisah yang kesohor adalah cerita juru mudi Cheng Ho.

Handinoto dalam Lasem; Kota Tua Bernuansa Cina mengungkapkan, permukiman orang asing di Lasem bertambah luas setelah kedatangan anak buah Zheng He pada 1413. "Waktu Lasem diperintah oleh Adipati Wijayabadra. Rombongan tersebut dipimpin Bi Nang Oen," tulis Handinoto.

Menurut sejarawan Lasem, Lim Tiang Kwie, pada kunjungan pertama Bi Nang Oen takjub akan keindahan serta kesuburan tanah Lasem. Ditambah, keramahan masyarakat sekitar. Bi Nang Oen kemudian meminta persetujuan Adipati Wijayabadra untuk menetap di Lasem.

Tak hanya mendapatkan izin, Bi Nang Oen juga diberi sebidang tanah. Ia pun lantas membawa keluarganya dari Campa menuju Lasem. "Bi Nang Oen mendarat di Pelabuhan Regol," kata Lim kepada merahputih.com di Desa Ngemplak, Lasem, Sabtu (7/4).

Sementara itu, Raden Panji Kamzah dalam Babad Lasem (1858) menceritakan, peranan Bi Nang Oen cukup besar dan sangat memengaruhi komunitas Tionghoa di Lasem. Disebutkan pula, di Lasem Bi Nang Oen menyebarkan agama Islam, serta berbagai macam ilmu dan teknologi bagi warga Lasem. Bahkan, disebut-sebut nama pelaut itu yang menjadi nama Desa Binangun, di Kecamatan Lasem.

Pengaruh Bi Nang Oen terhadap Lasem

Setelah mendapat persetujuan Adipati Wijayabadra, Bi Nang Oen bersama keluarganya datang menuju Lasem. Kemudian, ia mendapatkan sebidang tanah yang dijanjikan oleh Adipati Wijayabadra di sekitar pinggiran Pantai Regol, persisnya di Desa Kemandhung hingga Telangbendung Timur Bonang. "Daerah itu merupakan tempat pertama kali Cheng Ho mendarat," kata Lim.

Senada dengan Lim, sejarawan Lasem lainnya, Matoya mengatakan kepiawaian dan keuletan Bi Nang Oen dalam mengurus tanah dan berlayar menarik perhatian masyarakat. Tak hanya Bi Nang Oen, keterampilan juga dimiliki istrinya Na Li Ni. "Warga setempat diajarkan membatik, membuat emas, dan bermain gamelan," kata Matoya kepada merahputih.com di Desa Warugunung, Lasem, Minggu (8/4).

Di sepanjang pagar pekarangan rumah di Kemandhung membujur terus ke selatan sampai kepada tanjakan pekarangan Juru Demung ditanami kembang melathi rangkep (bunga melati rangkep) yang disukai oleh Na Li Ni, karena itu, tempat menetapnya Bi Nang Oen dinamakan Taman Banjarmlati.

Di Taman Banjarmlati tersebut, Na Li Ni mengajarkan warga membuat slepi lar merak (kipas dari bulu merak), membatik, dan mengajari menari kepada anak-anak putri Kemandhung. Kakek Mpu Pandhita Asthapaka (Ke Tong Dhaw) yang merupakan paman Na Li Ni, menjadi pujangga seni karawitan dan mengajar karawitan kepada para pemuda di desa tersebut; juga mengajarkan Ilmu Dharma Buddha Sakyamuni.

Kemudian, ia membuka hutan sebelah selatan bumi Kemandhung, dan membuat sendang (mata air) yang airnya dengan sangat deras keluar dari tanah padas (tanah keras/gersang) yang sumber airnya dari sumber payung, sendang (mata air) tersebut lantas diberi nama Sendang Jalatundha. "Kini daerah tersebut diberi nama Desa Ketandhan, dengan Kakek Ke Tong Dhaw menjadi cikal bakal desa tersebut dengan panggilan Buyut Ketandha," kata Matoya.

Potret kehidupan Lasem

Hingga saat ini, Matoya menjelaskan jejak-jejak peninggalan dari Dinasti Ming (Laksamana Cheng Ho) masih dapat dilihat di beberapa titik di Lasem. Arus sejarah bangunan-bangunan tua khas Tiongkok di Kampung Dhina atau Pecinan terus terjaga dari generasi ke generasi. "Di sepanjang aliran Sungai Babagan juga terdapat kelenteng-kelenteng tua," kata Matoya.

Selain itu, pola pusat pertokoan yang berada di jalan utama Lasem juga dipenuhi dengan corak Tiongkok. Salah seorang tokoh masyarakat KH Zaim Ahmad mengatakan kedatangan Bi Nang Oen memberikan dampak yang besar bagi masyarakat Lasem. "Akulturasi budaya terjadi di Lasem. Penuh dengan keragaman dan persatuan," kata pemilik Pondok Pesantren Kauman itu.

Berdasarkan kisah yang didapat dari turun-temurun, Gus Zaim menuturkan kedatangan rombongan Cheng Ho di Lasem merupakan misi damai yang dibawa dari Kaisar Ming. "Untuk membangun hubungan bilateral dan perdagangan dengan Majapahit," kata Gus Zaim. Dia juga menambahkan, untuk saat ini budaya Tiongkok, Jawa, dan bahkan Arab hidup berdampingan dan berakulturasi dengan baik.

Sampai memasuki zaman kolonial Belanda, kata Gus Zaim, Lasem tetap terpisah dari Kota Rembang. Majunya Lasem membuat kota tersebut berdiri sendiri dengan perkonomiannya yang cukup stabil. "Namun, wilayah ini berbentuk kadipatenan yang dipimpin Adipati China, Oey Ing Kiat."



Noer Ardiansjah