Kutika Assikalaibineng, Pedoman Orang Bugis-Makassar Memilih Waktu Terbaik Berhubungan Seks Tropenmuseum

HUBUNGAN SUAMI-ISTRI bagi kebanyakan peradaban tak bisa dilakukan serampangan di sembarang tempat bahkan setiap saat dan asal memilih waktu.

Kebudayaan membuat hubungan seksual memiliki makna tak sekadar bagi siklus hidup manusia, tapi juga terkoneksi dengan kekuatan adiluhung.

Bagi orang Bugis-Makassar kegiatan seksual memiliki tata aturan hari dan waktu tersendiri. Pengetahuan itu secara turun-temurun diwariskan secara lisan kemudian terekam pada manuskrip atau lontara.

Lontara Kutika mengurai secara luas astrologi dan astronomi orang Bugis-Makassar. Pengetahuan Kutika, menurut Muhlis Hadrawi, pengajar Departemen Bahasa dan Sastra Bugis-Makassar FIB Universitas Hasanuddin Makassar, pada “Astrologi dan Seksualitas Dalam Naskah Bugis”, makalah Seminar Internasional Pernaskahan Nusantara 2017, telah lama dikenal dan beredar di dalam masyarakat sekira abad ke-17 seiring dengan datangnya pengaruh Islam di Sulawesi Selatan.

Masyarakat Bugis-Makassar, seperti Bone, Soppeng, Wajo, Barru, Pinrang, Pangkep, Gowa, Takalar, Jeneponto, dan sekitarnya masih menggunakan pengetahuan Kutika untuk kegiatan pertanian, kelautan, dan kegiatan penting lainnya.

Pada Lontara Kutika bertajuk Kutika Bilang Telluppulo, ditemukan di Desa Soppeng pada tahun 1995, dibuka dengan paparan mengenai waktu terbaik berhubungan suami-istri berkaitan dengan pengaruh terhadap kualitas sang anak kelak.

Secara khusus Kutika Bilang Telluppulo memuat sistem perhitungan pada pola 30 puluh hari (Bilang Tellupulo) untuk kegiatan penting masyarakat seperti menanam padi, mendirikan rumah baru, merantau, membeli barang-barang, menghadap raja, dan kegiatan seksual, perkawinan serta melahirkan.

Mabberettemmu atau hubungan suami-istri, seturut teks tersebut, sangat erat hubungannya dengan sistem waktu terhadap kualitas janin atau anak kelak, seperti warna kulit, sifat-sifat, mentalitas, maupun kepribadian anak, semisal anak berkulit maputeh atau putih biasanya persetubuhan dilakukan pada saat Isya, anak berkulit mabolong atau hitam lumrahnya hubungan intim dilakukan pada tengah malam, anak berkulit macella atau kemerah-merahan biasanya kegiatan seksual dilakukan di sela Isya dan tengah malam, dan anak berkulit mapute atau putih bercahaya lazimnya aktifitas suami-istri berlangsung pada saat terbit matahari.

Selain waktu, teks tersebut juga menguraikan masa dan intensitas hubungan seksual. Disebutkan idealnya hubungan seks dilakukan tiga kali dalam seminggu. Sementara masa paling baik, dilakukan pada wenni aseneng (Senin), wenni kammisi (Kamis), wenni juma` (Jumat).

“Tentu saja siklus waktu ini bukanlah sebuah keharusan untuk dilaksanakan serta-merta mengikuti anjuran tersebut, sebab faktor kesehatan dan suasan jiwa merupakan unsur tidak dapat diabaikan,” ungkap Hadrawi.

Dalam Assikalaibineng terdapat ungkapan kalangan sufi, “laksanakanlah persetubuhan bila nafsu syahwat betul-betul meminta haknya, namun lakukanlah secara adil, sederhana (sitinajae), dan tidak berlebihan (talliwa).

Mengenai intensitas, terdapat sebuah cerita saat seorang lelaki bertanya mengenai seberapa sering hubungan seks berlaku pada manusia?

“Sekali saja, jika tidak tahan sekali, maka lakukanlah dua kali, jika kamu tidak tahan juga, maka lakukanlah semampumu (siullemu) dengan mempertimbangkan keadaan tubuhmu dan tubuh istrimu (makkunraimmu),” jawab Lukmanul Hakim.

Suami tetap harus mempertimbangkan faktor kekuatan (pakkulle) dan kondisi tubuh (watakkale), situasi (wettu), perasaan (penedding), keadaan sosial (pakkeloreng), dan lingkungan (onrowang) saat akan berhubungan suami-istri.

Orang Bugis-Makassar juga mengenal hari nahas. Mereka sangat menghindari melakukan kegiatan penting termasuk hubungan seks di hari nahas karena akan berujung kendala, rintangan, dan kegagalan. Hari nahas berkaitan dengan perkawinan acap disematkan pada hari terbitnya Muharram karena dianggap mengandung aesso mapella atau unsur panas.

Bulan-bulan baik melaksanakan perkawinan bagi orang Bugis-Makassar, semisal Syafar, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Sya`ban, Ramadhan, Dzulkaiddah, dan Djulhijjah.

Dengan markah waktu, masa, dan intensitas terbaik melakukan hubungan suami istri, maka kegiatan seksual tak lagi dipandang sebagai kegiatan liar. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH