Kurikulum, "Kambing Hitam" dalam Dunia Pendidikan Indonesia Setiap tahun agaknya kurikulum masih dijadikan musuh bersama. (Foto: Pexels/Caio Resende)

PERDEBATAN tentang pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun selalu sama: kurikulum. Seluruh lapisan masyarakat mulai dari orang tua hingga industri menyalahkan kurikulum yang disusun di Indonesia.

Banyak yang beranggapan, bahwa kurikulum yang diterapkan di Indonesia tak sesuai dengan kebutuhan anak. Ada pula yang berasumsi bahwa kreativitas dan bakat anak tidak berkembang karena kurikulum yang salah. Seolah kurikulum hadir hanya sebagai "kambing hitam" di dalam masyarakat. Padahal tak demikian.

Baca Juga:

Ketika Cara Mengajar Guru Tergantikan oleh Aplikasi Mengajar

sekolah
Akademisi dari berbagai latar belakang membahas masa depan pendidikan di Indonesia. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Pengamat Pendidikan, Itje Chodijah menuturkan bahwa kurikulum bukanlah hal yang patut dipersalahkan di dunia pendidikan saat ini. "Kurikulum sebenarnya tidak mengganggu siapa-siapa. Yang mengganggu adalah pemahaman kurikulum dan implementasinya yang seringkali dikaitkan dengan pencapaian kognitif saja," ujarnya ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (28/11). Dirinya menjelaskan, aspek yang diukur dalam kurikulum tidak hanya meminta pencapaian kompetensi kognitif dalam bentuk ujian tetapi juga perilaku dan keterampilan.

Sebagai seorang praktisi pendidikan selama puluhan tahun, Itje melihat bahwa dua poin tersebut seringkali dikesampingkan. Institusi pendidikan hanya menonjolkan hasil ujian sebagai bagian dari kurikulum. Padahal, kompetensi kognitif hanyalah bagian kecil dari poin yang ada dalam kurikulum. "Kurikulumnya sebenarnya tidak meminta begitu tetapi praktiknya yang kemudian menjadi seperti itu," lanjutnya lagi.

"Dalam kurikulum, ada tujuan yang tidak mungkin dicapai melalui penyampaian materi dan ujian yang bersifat materi yakni sikap dan keterampilan," ucapnya.

Senada dengan Itje, Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ir. Ananto Kusuma Seta, M.Sc., Ph.D mengatakan bahwa fokus utama pendidikan saat ini adalah karakter, pengetahuan, dan keahlian. Dirinya menuturkan bahwa pendidikan bukan lagi fokus pada job title.

Baca Juga:

Bikin Betah Belajar, Seperti Inilah Sosok Guru Idaman Milenial

sekolah
Ananto Kusuma Seta ungkap kurikulum terbaru. (Foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

"Jangan-jangan dipersiapkan untuk job A tiba-tiba setelah lulus jobnya sudah tidak ada, digantikan robot. Untuk itu, kita menyiapkan anak yang benar-benar fleksibel," jelasnya ditemui di tempat yang sama. Fleksibilitas tersebut bukan dibangun di kotak-kotak tetapi oleh growth mindset.

Selain itu, meskipun anak-anak akrab dengan teknologi, teknologi tak lagi menjadi fokus utama pendidikan. "Jangan kejar teknologinya karena teknologi berkembang dengan pesat tetapi siapkan anak dengan karakter dan attitude," tuturnya.

Ia mengungkapkan, alasan kenapa anak-anak dipersiapkan dengan karakter dan attitude karena pengetahuan konvensional para siswa bisa digantikan robot di masa depan. "Robot itu digerakkan mesin, sementara manusia itu digerakkan hati. Mesin tidak dapat mengalahkan hati," tukas Ananto. (avia)

Baca Juga:

Guru 'Dipaksa' Tidak Fokus pada Tugasnya

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH