Kuda Lumping, Antara Magis dan Heroisme Pasukan Kavaleri

Terlepas dari kesan magis, kesurupan, atau kesan garang sang penari, ternyata tari jaranan, kuda lumping, jathilan, atau ebeg memiliki historis tentang kegagahan pasukan militer pada zaman dulu.

Tarian ini merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu atau 'kepang', menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Sehingga tak heran, pertunjukan tari kuda lumping, jaranan, jathilan, atau ebeg ini menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain.

Ternyata, atraksi ini juga merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Untuk tetap melestarikan salah satu budaya kearifan lokal yang masih banyak digandrungi masyarakat ini, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyajikan "Gelar Seni Sepanjang Tahun 2017". Yang salah satunya adalah pagelaran seni jathilan. Kegiatam ini dilaksanakan mulai hari ini, Kamis (23/3) hingga Minggu (26/3), digelar di Halaman Taman Budaya Yogyakarta.

Untuk mengikuti artkel lainnya, baca juga: 1.225 Penari Jaranan Bakal Unjuk Gigi di HUT Kediri



Widi Hatmoko

LAINNYA DARI MERAH PUTIH