KSP Sebut Penghapusan Antigen-PCR Tunjukkan Pandemi COVID-19 Terkendali Calon penumpang pesawat lapor diri di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (8/3/2022). (ANTARA FOTO/Fauzan/aww)

MerahPutih.com - Pemerintah membantah anggapan bahwa penghapusan tes antigen dan PCR bagi pelaku perjalanan domestik untuk menyegerakan penetapan status pandemi COVID-19 menjadi endemi.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Abraham Wirotomo menegaskan, relaksasi testing diberlakukan karena situasi pandemi saat ini semakin terkendali. Hal itu mengacu pada data-data kasus, keterisian Rumah Sakit, dan angka reproduksi efektif COVID-19.

Baca Juga

Syarat Tes PCR atau Antigen Dihapus, Riza: Kita Akan Masuk Endemi

"Semua menunjukan pandemi semakin berhasil terkendali dengan baik. Ini menjadi landasan mengapa level PPKM di beberapa daerah diturunkan dan termasuk relaksasi testing untuk pelaku perjalanan," kata Abraham, di gedung Bina Graha Jakarta, Selasa (8/3).

Abraham juga menepis pendapat jika penghapusan antigen dan PCR untuk pelaku perjalanan menunjukkan pemerintah longgar soal testing COVID-19.

Menurutnya, pemerintah saat ini justru semakin spesifik dalam melakukan testing COVID-19, yakni dengan menggunakan pendekatan surveillance aktif, baik secara aktif melakukan penemuan kasus atau Active Case Finding (ACF) maupun testing epidemiologi.

"Sederhananya surveillance aktif itu, dari pemerintah yang aktif ngejar target dengan menyasar area-area tertentu. Seperti ACF di sekolah, secara acak tes akan dilakukan pada siswa dan guru untuk deteksi dini apakah ada kluster atau tidak. Lalu yang namanya testing kontak erat juga masih diteruskan," terang Abraham.

"Berikutnya pemerintah juga semakin melihat data bahwa Omicron lebih ringan dibanding Delta, untuk itu angka keterisian RS dan kematian menjadi lebih diperhatikan dibanding angka kasus," sambungnya.

Baca Juga

Gibran Jalani Tes PCR Sebelum Dampingi Jokowi Hadir Dies Natalis UNS

Pria kelahiran Jakarta ini juga mengingatkan, kebijakan penghapusan tes antigen dan PCR untuk pelaku perjalanan domestik, hanya diberlakukan bagi yang sudah divaksinasi dua dosis atau lengkap.

"Jadi masyarakat yang sudah tidak mau testing-testing lagi kalau mau terbang, ya segera lengkapi vaksinnya," kata Abraham.

Sebelumnya, Koordinator PPKM Jawa Bali, Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, aturan perjalanan domestik tidak perlu lagi melampirkan hasil tes antigen atau PCR negatif. Aturan baru ini ditujukan bagi masyarakat yang sudah divaksinasi dua dosis atau lengkap.

Kebijakan tersebut langsung menuai kritik dari sejumlah pakar. Sebab, testing COVID-19 dinilai masih menjadi hal yang penting dilakukan untuk melihat situasi pandemi saat ini. Bahkan, ada yang menganggap kebijakan tersebut sebagai upaya untuk menyegerakan penetapan status pandemi menjadi endemi. (Pon)

Baca Juga

Isi Lengkap Aturan Resmi Perjalanan Domestik Tanpa Tes PCR atau Antigen

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
DPRD Minta Anies Tak Lantik Pejabat Eselon II
Indonesia
DPRD Minta Anies Tak Lantik Pejabat Eselon II

Gubernur DKI Jakarta Baswedan diusulkan tidak menjalankan program strategis dengan melantik jabatan Eselon II.

KPK Jemput Paksa Eks Gubernur Riau Annas Maamun
Indonesia
KPK Jemput Paksa Eks Gubernur Riau Annas Maamun

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjemput paksa mantan Gubernur Riau Annas Maamun lantaran tidak kooperatif.

Bank DKI Kantongi Laba Bersih Rp 504,90 Miliar pada Kuartal II-2022
Indonesia
Bank DKI Kantongi Laba Bersih Rp 504,90 Miliar pada Kuartal II-2022

Bank DKI berhasil mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 30,64 persen Yoy menjadi Rp 504,90 miliar dari sebelumnya di kuartal II 2021 sebesar Rp 386,47 miliar.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Usir Bos Krakatau Steel
Indonesia
Wakil Ketua Komisi VII DPR Usir Bos Krakatau Steel

Komisi VII mengusir Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk Silmy Karim dari ruang rapat. Pengusiran diawali lebih dulu perdebatan dengan pimpinan rapat yang juga Wakil Ketua Komisi VII Bambang Haryadi.

[HOAKS atau FAKTA]: Nasi Dipanaskan 12 Jam Dalam Rice Cooker Berubah Jadi Racun
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Nasi Dipanaskan 12 Jam Dalam Rice Cooker Berubah Jadi Racun

Beredar informasi di media sosial Facebook yang menyatakan bahwa terdapat racun dalam nasi bila tidak dikeluarkan lebih dari 12 jam dari rice cooker. Dikatakan dalam narasi tersebut, nasi yang ada di dalam rice cooker lebih dari 12 jam bisa memicu diabetes, kanker, hingga tumor.

Penempatan Irjen Ferdy Sambo di Mako Brimob Untuk Permudah Pemeriksaan
Indonesia
Penempatan Irjen Ferdy Sambo di Mako Brimob Untuk Permudah Pemeriksaan

Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo memastikan belum ada penetapan tersangka terhadap Ferdy.

Kapolri dan Panglima TNI Tinjau Serbuan Vaksinasi di Jawa Timur
Indonesia
Kapolri dan Panglima TNI Tinjau Serbuan Vaksinasi di Jawa Timur

Bahkan di wilayah Banyuwangi, Sigit menerima laporan bahwa capaian vaksinasi sudah di angka 60 persen

CDC Akui Gagal Secara Terbuka ke Publik Amerika Serikat
Dunia
CDC Akui Gagal Secara Terbuka ke Publik Amerika Serikat

CDC merupakan Badan kesehatan tertinggi AS yang dibentuk untuk menghadapi pandemi massal di negeri Paman Sam

Sejarah Baru AS, 1 Jam 25 Menit Kekuasaan Tertinggi Negara Dipegang Perempuan
Indonesia
Sejarah Baru AS, 1 Jam 25 Menit Kekuasaan Tertinggi Negara Dipegang Perempuan

Pengamat menilai penyerahan kekuasaan singkat dari Biden kepada Harris itu tidak dihitung sebagai kenyataan seorang perempuan menjabat presiden AS.

Golkar Ogah Ikut Cara NasDem Cepat-cepat Umumkan Capres
Indonesia
Golkar Ogah Ikut Cara NasDem Cepat-cepat Umumkan Capres

Golkar, PAN dan PPP telah melakukan kesepatan membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).