KPU: Semua Saksi Prabowo-Sandi Dipertanyakan Kualitasnya Anggota KPU RI Hasyim Asy'ari di Gedung MK, Jakarta, Kamis (20/6) (Antaranews/Rangga)

Merahputih.com - Komisioner KPU Hasyim Asyari menilai keterangan sejumlah saksi BPN Prabowo-Sandiaga bisa dipatahkankan dengan mudah di persidangan.

Hasyim mencontohkan, salah satu saksi pemohon, Beti Kristina yang mengaku datang ke kantor kecamatan Juwangi Boyolali. Dia mengaku orang kecamatan Teras, dan mengaku menemukan amplop.

"Disampaikan ke majelis ini gimana? Kemudian majelis kan minta pembanding, ini benar punya KPU tidak? Nah sementara berdasarkan yang disampaikan tadi malam kami sampaikan, kalau betul punya KPU dan kemudian diamplop ada kolom tentang berapa lembar, ternyata kosong. Itu bisa jadi amplop yang belum digunakan untuk jadi sampul surat suara sah atau tidak sah atau tidak terpakai," kata Hasyim di Gedung MK, Jakarta Pusat, Kamis (20/6).

BACA JUGA: Kemana Pak BW, Kok Tak Kelihatan di Sidang MK?

Hasyim melanjutkan, kemudian majelis meminta untuk membandingkan, sehingga tadi KKPU menghadirkan dan membawa amplop untuk perbandingannya.

"Kalau diragukan kenapa ada onggokan, yang ngomong onggokan kan bukan KPU, saksi. Mestinya mereka tanya saksinya kan. Karena kami terus terang saja ya, tidak percaya dengan kualitas saksi kemarin karena dua hal. Dia ngomong tinggal di kecamatan teras, tapi kita cek KTP bukan orang situ, orang Semarang," papar Hasyim.

Selain itu, keterangan Beti lainnya seperti mobil juga dianggap tak nyambung. Kemudian ia mempertanyakan kenapa saksi tidak mengambil contoh.

Hakim MK
Hakim MK saat menyidang sengketa hasil Pilpres 2019. (Antaranews)

"Karena mereka ga bawa kendaraan. Mungkin yang dimaksud mobil yak. Tapi begitu keterangan agak terakhir ngomong datang ke sana menggunakan mobil kemudian mengeluarkan amplop. Amplopnya katanya sudah disampaikan kepada siapa, tapi nyatanya semalam dibawa. Ini penuh tanda tanya. Ini pertanyaanya, itu amplop apakah nemu di sana atau bikin amplop sendiri kan gitu," jelas Hasyim.

Sementara itu, salah satu saksi Rahmadsyah Batubara sendiri merupakan tahanan kota di Bekasi yang bisa bersaksi.

"Kalau hakim silakan hakim mau mempercaya atau tidak. Bagi kami sudah meragukan. Ngomongnya dipesan-pelanin, pakai kacamata hitam. Kami sudah mau tanya itu kacamata minus atau gaya, cuma kami nggak tega. Ketika ditanya hakim ternyata kacamata gaya dan untuk menghindari publikasi bahwa statusnya sebagai tahanan kota. Bahwa kemudian orang tahanan kota dijadikan saksi kualitasnya seperti apa ya tergantung yang mengajukan bisa dinilai publik," sebutnya.

BACA JUGA: Upaya Mematahkan Propaganda Prabowo-Sandi di Sidang MK

Ia juga mengkritisi Hermansyah ahli IT yang diduga bukan lulusan IT. "Ada yang ngakunya ahli IT ternyata sekolah bukan IT. Kemudian ngakunya tahu pemilu ternyata tak tahu pemilu. Kalau saksi, sebagaimana yg kita dengarkan dan saksikan bersama melalui rekaman media, itu bisa kita buat penilaian. Dalam pandangan KPU kesaksiannya tidak cukup membuktikan," tandas Hasyim. (Knu)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH