KPK Telisik Hubungan Spesial Istri Nurhadi dengan PNS MA Gedung KPK. ANTARA/Benardy Ferdiansyah

MerahPutih.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung memeriksa Sofyan Rosada, yang diduga pemimpin Pondok Pesantren Darul Sulthon Al Husaini, dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di Mahkamah Agung (MA), Senin (15/6) malam.

Sofyan diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka eks Sekretaris MA, Nurhadi. Dalam pemeriksaan ini, penyidik mendalami hubungan spesial istri Nurhadi, Tin Zuraida dengan pegawai negeri sipil (PNS) MA bernama Kardi.

"Sofyan Rosada diperiksa sebagai saksi NHD (Nurhadi). Penyidik mendalami keterangan saksi mengenai hubungan Tin Zuraida, istri tersangka NHD dengan Kardi," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Senin (15/6) malam.

Baca Juga:

Harta Istri Nurhadi Diduga Mengalir ke Pria Lain

Berdasarkan informasi, Kardi merupakan suami kedua dari Tin Zuraida. Hal tersebut diketahui dari foto buku pernikahan mereka yang beredar. Buku nikah tersebut keluar pada tahun 2001. Beredar pula foto berisi tulisan tangan menjelaskan Kardi dan Tin Zuraida telah menikah di Pondok Pesantresn Darul Husaini, Kunciran, Tangerang, 11 November 2001 .

Dalam tulisan tangan itu terdapat nama Sofyan Rosada sebagai pihak yang menikahkan keduanya. Sementara untuk nama saksi tertuang nama Abdul Rasyid dan Karnadi.

Kardi yang diduga sebagai suami dari Tin Zuraida ini sempat diperiksa tim penyidik. Saat itu, Kardi ditelisik soal dugaan aset milik Tin Zuraida yang ada dalam kekuasaannya. Kemarin, KPK sedianya akan memeriksa Tin Zuraida, tetapi istri Nuhardi itu mengaku sakit dan minta dijadwal ulang pekan depan.

Baca Juga:

KPK Korek Istri Nurhadi Tentang Suap dan Gratifikasi Rp46 Miliar di MA

Dalam kasus suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di MA ini, KPK telah menetapkan tiga orang tersangka. Ketiga tersangka itu yakni, mantan Sekretaris MA Nurhadi, menantunya Rezky Herbiono dan Hiendra Soenjoto.

Mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi, salah satu tersangka kasus suap dan gratifikasi terkait perkara di Mahkamah Agung pada tahun 2011-2016. (KPK.)
Mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi, salah satu tersangka kasus suap dan gratifikasi terkait perkara di Mahkamah Agung pada tahun 2011-2016. (KPK.)

Ketiganya sempat dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron karena tiga kali mangkir alias tidak memenuhi pangggilan pemeriksaan KPK. Ketiganya juga telah dicegah untuk bepergian ke luar negeri.

Tim penyidik KPK menangkap Nurhadi bersama menantunya Rezky Herbiyono pada Senin (1/6) malam. Keduanya dibekuk di sebuah rumah di Simprug, Jakarta Selatan. Saat ini, tinggal Hiendra Soenjoto yang belum diamankan.

Nurhadi dijerat sebagai tersangka karena yang bersangkutan melalui Rezky Herbiono, diduga telah menerima suap dan gratifikasi senilai Rp46 miliar. Tercatat ada tiga perkara sumber suap dan gratifikasi Nurhadi, pertama perkara perdata PT MIT vs PT Kawasan Berikat Nusantara, sengketa saham di PT MIT, dan terakhir gratifikasi terkait dengan sejumlah perkara di pengadilan.

Adapun, Rezky selaku menantu Nurhadi diduga menerima sembilan lembar cek atas nama PT MIT dari Direkut PT MIT Hiendra Soenjoto untuk mengurus perkara itu. Cek itu diterima saat mengurus perkara PT MIT vs PT KBN. (Pon)

Baca Juga:

KPK Diminta Periksa Istri dan Anak Nurhadi

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Dewas Harap Putusan MK Soal Penyadapan Perkuat Kinerja Penindakan KPK
Indonesia
Dewas Harap Putusan MK Soal Penyadapan Perkuat Kinerja Penindakan KPK

"Dengan tidak adanya keharusan minta izin Dewas, semoga saja bisa meningkatkan kinerja penindakan KPK," kata Anggota Dewas KPK, Syamsuddin Haris saat dikonfirmasi, Rabu (5/5).

Kapolda Metro Minta Warga Tak Liburan di Akhir Bulan Ini
Indonesia
Kapolda Metro Minta Warga Tak Liburan di Akhir Bulan Ini

Menjelang libur panjang pada 28-30 Oktober 2020, potensi kenaikan kasus COVID-19 cenderung tinggi.

[HOAKS atau FAKTA] Gatot Nurmantyo Janji Bakal Gaji Seluruh Rakyat Indonesia Jika Jadi Presiden
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA] Gatot Nurmantyo Janji Bakal Gaji Seluruh Rakyat Indonesia Jika Jadi Presiden

Selain itu, terdapat juga kalimat yang berbunyi “Siapa yg percaya Bos..”

Pendaftaran PPDB SMA/SMK di Jateng Tembus 80 Persen dari Kuota
Indonesia
Pendaftaran PPDB SMA/SMK di Jateng Tembus 80 Persen dari Kuota

Melihat data tersebut masih ada kuota kursi 20 persen yang tersisa

Pengunjung Positif Narkoba, Diskotek New Monggo Mas Ditutup dan Izin Usaha Dicabut
Indonesia
Pengunjung Positif Narkoba, Diskotek New Monggo Mas Ditutup dan Izin Usaha Dicabut

"Ya Monggo Mas disegel permanen karena memang diketemukan adanya pemakaian narkoba disitu," ujar Kasatpol PP DKI, Arifin

Yuk Intip Sederet Fasilitas 'Touchless' di Bandara Soetta Sambut New Normal
Indonesia
Yuk Intip Sederet Fasilitas 'Touchless' di Bandara Soetta Sambut New Normal

Sejumlah fasilitas touchless di Soekarno-Hatta sudah dapat digunakan

Yaqut Cholil Minta Agama Jangan Dijadikan Alat Politik Menentang Pemerintah
Indonesia
Yaqut Cholil Minta Agama Jangan Dijadikan Alat Politik Menentang Pemerintah

Ketua Umum GP Ansor itu tak ingin agama dijadikan alat politik untuk menentang pemerintah.

BUMN Bakal Dipangkas Jadi 100 Perusahaan
Indonesia
BUMN Bakal Dipangkas Jadi 100 Perusahaan

Saat ini masih terus dilakukan assessment atas portofolio dari semua BUMN untuk memilah dan memastikan terpenuhinya dua kriteria dasar tersebut.

Wujudkan Ikhtiar Menolong Sesama saat Pandemi Lewat Aksi #Donordirumahaja
Indonesia
Wujudkan Ikhtiar Menolong Sesama saat Pandemi Lewat Aksi #Donordirumahaja

Nur Azizah (28), perempuan pekerja swasta yang berinisiatif membuat gerakan donor darah bersama.

Tak Sampai Seminggu, Ini Yang Dilakukan Djoko Tjandra di Indonesia
Indonesia
Tak Sampai Seminggu, Ini Yang Dilakukan Djoko Tjandra di Indonesia

Kompolnas mendapat informasi, bahwa Brigjen Prasetyo Utomo menggunakan komputer sendiri dalam membuat surat jalan tersebut. Yang bersangkutan, memiliki niat memperkaya diri sendiri.