KPK Sarankan Setnov Buka-bukaan soal Ibas di Sidang Korupsi e-KTP Tersangka kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto memasuki kendaraan tahanan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (6/2). (Antara Foto/hammad Adimaja)

MerahPutih.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) enggan menanggapi lebih jauh terkait buku catatan bersampul hitam yang kerap dibawa mantan Ketua DPR Setya Novanto saat menjalani sidang perkara korupsi e-KTP.

Padahal, nama Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dicantumkan Setnov dalam secarik kertas di buku catatan yang ditulis dengan kata justice collaborator tersebut.

Menurut Juru Bicara KPK Febri Diansyah, informasi terkait keterlibatan pihak lain akan berharga bila disampaikan dalam proses persidangan ataupun penyidikan. Karena itu, ia menyarankan Setnov untuk buka-bukaan soal Ibas dalam persidangan kasus korupsi e-KTP.

“Siapapun bisa punya buku, dan siapapun bisa menulis bukunya, tapi informasi itu baru berharga apabila itu disampaikan di proses persidangan atau dalam proses penyidikan,” kata Febri di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (13/2).

Febri menegaskan, pihaknya akan menelisik kebenaran keterlibatan Ibas dalam proyek yang ditaksir merugikan negara sebesar Rp 2,3 triliun itu jika Setnov mau membongkar di hadapan hakim atau penyidik KPK.

“Jadi saya kira tidak perlu, jangan sampai kita terjebak dengan istilah buku hitam. Kalau itu hanya ditulis dalam buku tersebut tentunya itu tidak akan mempunyai kekuatan hukum, kecuali jika disampaikan pada penyidik dalam proses pemeriksaan misalnya, ataupun diproses persidangan,” tandasnya.

Sebelumnya, nama Ibas dicantumkan terdakwa kasus korupsi e-KTP itu dalam secarik kertas di buku catatannya yang ditulis dengan kata justice collaborator.

Buku catatan bersampul hitam itu kerap dibuka Setnov saat akan menjalani sidang lanjutan pada Senin, 5 Februari 2018 lalu.

Awak media yang mengerumuninya melihat isi buku itu. Ada satu lembar tertulis nama mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, dan Ibas.

Di atas dua nama itu tertulis justice collaborator. Nama Nazaruddin berada persis di bawah tulisan. Di bawah nama Nazaruddin, Setnov menggambar dua tanda panah. Tanda panah berwarna hitam dan tertulis nama Ibas. Ada juga tanda panah berwarna merah di bawah nama Ibas dan tercantum angka USD 500 ribu. (Pon)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH