KPK Rezim Firli Pecahkan Rekor Terbanyak Pegawai Tetap Mengundurkan Diri Ketua KPK Firli Bahuri di sidang etik Dewan Pengawas, di Gedung ACLC KPK, Jakarta, Kamis (24/9/2020). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nz

MerahPutih.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di bawah komando Filri Bahuri memecahkan rekor terbanyak pegawai tetap lembaga antirasuah yang mengundurkan diri. Teranyar, Kepala Biro Humas Febri Diansyah juga akan hengkang dari KPK.

Meski belum genap setahun memimpin KPK, Firli Bahuri yang dilantik pada 20 Desember 2019, sudah ditinggalkan 24 pegawai tetapnya.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, pihaknya mencatat riwayat pengunduran pegawai tetap atau pegawai nontetap sejak 2016-2020. Berdasarkan data itu, pegawai tetap KPK paling banyak mengundurkan diri di era Firli Bahuri.

Baca Juga:

37 Pegawai KPK Sudah Undurkan Diri Sejak Firli Bahuri Jabat Ketua

"Alasan pengunduran diri tersebut beragam. Namun, lebih banyak karena ingin mengembangkan karir di luar instansi KPK," kata Ali dalam keterangannya, Sabtu (26/9).

Ali menjelaskan, pada 2016, ada 46 orang yang mengundurkan diri dari KPK dengan rincian 16 pegawai tetap dan 30 pegawai nontetap. Sementara pada 2017, ada 26 orang melepaskan statusnya bekerja di KPK. Terdiri dari 13 pegawai tetap dan 13 pegawai tidak tetap.

Pada 2018, sebanyak 31 orang mengundurkan diri, di antaranya 22 pegawai tetap dan 9 pegawai tak tetap. Pada 2019, ada 23 orang mundur dengan rincian 14 pegawai tetap dan 9 pegawai tidak tetap.

Sedangkan pada 2020, tepatnya Januari sampai September, sudah ada 31 orang memilih hengkang dari Rezim Firli. Terdiri dari 24 pegawai tetap dan 7 pegawai tidak tetap.

"Sebagai sebuah organisasi, pegawai yang mengundurkan diri adalah hal yang wajar terjadi di banyak organisasi atau lembaga, termasuk tentu juga di KPK," ujar Ali.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (MP/Ponco Sulaksono)
Eks Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengundurkan diri dari KPK. (MP/Ponco Sulaksono)

Ali melanjutkan, pihaknya mendukung pegawai yang ingin mengembangkan diri di luar organisasi dan bahkan mendorong para alumni KPK menjadi agen antikorupsi berbekal pengalaman di lembaga antikorupsi itu.

Menurut Ali, keputusan untuk keluar dari lembaga atau bertahan merupakan pilihan yang sulit. Ali menyadari upaya pemberantasan korupsi dalam kondisi saat ini tidak lagi sama seperti dulu.

"Oleh karenanya, kedua pilihan tersebut harus kita hormati," kata Ali Fikri.

Sebelumnya, Febri Diansyah mengungkapkan alasan dirinya mundur sebagai Kepala Biro dan pegawai KPK. Menurutnya, kondisi politik dan hukum telah berubah bagi KPK setelah disahkannya revisi UU Nomor 30 tahun 2002.

"Setelah menjalani situasi baru tersebut selama sekitar sebelas bulan, saya memutuskan jalan ini, memilih untuk mengajukan pengunduran diri dari institusi yang sangat saya cintai, KPK," kata Febri di gedung KPK, Jakarta, Kamis (24/9).

Baca Juga:

MAKI Minta Ketua KPK Firli Bahuri Tak Membuat Kontroversi Lagi

Pernyataan tersebut dituangkan mantan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) itu, dalam surat pengunduran dirinya yang disampaikan kepada Sekjen KPK, Kabiro SDM dan pimpinan KPK pada 18 September 2020.

Febri memutuskan mundur setelah 11 bulan menjalani kondisi "baru" KPK tersebut. Menurut eks Jubir KPK ini, konsisi saat ini tak memberikan ruang signifikan untuk berkontribusi memberantas korupsi.

"Rasanya ruang bagi saya untuk berkontribusi dalam pemberantasan korupsi akan lebih signifikan kalau saya berada di luar KPK. Tetap memperjuangkan dan ikut advokasi pemberantasan korupsi. Karena itu saya menentukan pilihan ini. Meskipun tidak mudah, meskipun berat, saya ajukan pengunduran diri," ujarnya. (Pon)

Baca Juga:

Kejanggalan Vonis Ringan Ketua KPK Firli Bahuri

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH