KPK Diminta Segera Tentukan Status Hukum Menteri Agama dan Menpora Menpora Imam Nahrawi (MP/Win)

MerahPutih.com - Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera menentukan status hukum Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

Lembaga yang dikomandoi Agus Rahardjo cs itu diminta tidak ragu menjerat pihak yang terlibat, khususnya kedua menteri itu jika memiliki bukti permulaan yang cukup.

Lukman sendiri diduga terlibat dalam kasus dugaan suap jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag). Sedangkan, nama Imam disebut terlibat dalam kasus dugaan suap dana hibah Kementerian Pemuda dan Olahraha (Kemenpora) untuk KONI.

"Harapannya kami, kalau misalnya bukti sudah cukup seharusnya KPK jadikan itu modal untuk penetapan sebagai tersangka. Harus segera, ini secara umum seharusnya begitu ya," kata peneliti ICW, Kurnia Ramadhana di kantornya, Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Minggu (12/5).

BACA JUGA: Terungkap, Menag Lukman Baru Lapor Gratifikasi Setelah Romi Ditangkap KPK

Anggota Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW ini yakin KPK tidak akan ragu dalam menetapkan seseorang yang diduga terlibat sebagai tersangka selama memiliki dua alat bukti yang cukup. Sekalipun, pihak tersebut merupakan pejabat tinggi negara.

"Kami yakin KPK enggak sembarangan netapin status tersangka, mereka enggak melihat backgroundnya itu siapa, semua hal ini masalah kecukupan alat bukti saja," tegas dia.

Lukman Hakim, diduga kuat bekerjasama dengan mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy dalam mengatur seleksi jabatan tinggi di Kemenag. Bahkan, dalam upaya menajamkan dugaan itu, penyidik pun terus melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dari unsur pejabat Kemenag.

BACA JUGA: Jaksa KPK Cecar Menpora Imam Nahrawi Soal Kinerja Asprinya

Mereka yakni beberapa staf khusus Menag dan panitia pelaksana seleksi jabatan pimpinan tinggi di Kemenag. Termasuk, Sekjen Kemenag Nur Kholis Setiawan dan Kepala Biro Kepegawaian Kemenag, Ahmadi.

Selain memeriksa para saksi, penguatan bukti juga dilakukan penyidik dengan menggeledah sejumlah ruang kerja di Kemenag. Ruangan yang digeledah ialah ruang kerja Lukman, ruang kerja Nur Kholis, dan ruang kerja Ahmadi.

Dari ruang Lukman, penyidik menyita uang sebesar Rp180 juta dan USD30 ribu. Sedangkan dari dua ruang kerja lain disita sejumlah dokumen terkait seleksi jabatan di Kemenag.

Lukman Hakim Saifuddin di Gedung KPK
Menag Lukman Saifuddin di Gedung KPK untuk dimintai keterangan terkait kasus suap Kemenag Jatim dengan tersangka mantan Ketum PPP Romahurmuziy (Foto: antaranews)

Sedangkan keterlibatan Imam dalam kasus dugaan suap dana hibah KONI semakin terang setelah jaksa KPK membacakan tuntutan Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johny E Awuy. Dalam surat tuntutan itu, terdakwa disebut memberikan uang sebanyak Rp11,5 miliar kepada pejabat Kemenpora.

Uang itu diserahkan kepada Imam melalui asisten pribadinya Miftahul Ulum dan Staf Protokoler Kemenpora Arief Susanto. Dalam surat tuntutan itu juga disebut jika Imam dan Ulum terlibat dalam pemufakatan jahat dalam kasus suap tersebut.

Menanggapi hal itu, ICW meminta semua pihak tak khawatir KPK bakal mengesampingkan bukti-bukti yang telah dikantongi selama proses penyidikan ataupun persidangan. Dia optimisi Lembaga Antirasuah bakal membuat terang dugaan keterlibatan kedua menteri tersebut.

"Kita sebenarnya enggak perlu begitu khawatir ya, dari beberapa sidang KPK menetapkan tersangka banyak, termasuk petinggi DPR (mantan Ketua DPR Setya Novanto) juga," tandasnya. (Pon)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH