KPK Didesak Usut Mafia Tambang Pemasok Batu Bara Kualitas Rendah ke PLTU di Sumsel Gedung KPK. (Foto: MP/ Dicke Prasetia)

MerahPutih.com - Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebut ada sejumlah batu bara berkualitas rendah diduga dikirim ke PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Sumatera Selatan. Akibatnya banyak masyarakat sekitar terkena infeksi saluran pernapasan akut.

"Asap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) memang mematikan. Mengandung sejumlah senyawa beracun yang dapat menimbulkan penyakit. Penyakit asma, infeksi pernapasan akut, dan kanker paru-paru adalah sejumlah diantaranya, senyawa itu mengancam nyawa warga," tulis ICW dalam laporannya dikutip pada Kamis 28 April 2022.

Baca Juga:

Pemerintah Terapkan Tarif Progresif Produksi Batu Bara

Selain masyarakat sekitar disajikan udara yang telah tercemar, sumber pencaharian mereka juga terusik dengan keberadaan PLTU. Lahan pertanian yang subur atau laut yang bersih tidak lagi mereka temukan.

"Ini diantaranya dikarenakan lahan telah beralih menjadi lokasi PLTU dan tumpahan batu bara mencemari air laut. Akibatnya bertani atau memanen ikan tak lagi menjadi pilihan hidup mereka," tulis ICW.

Pengamat Hukum Pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar meminta agar aparat penegak hukum mulai dari Polri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga Kejaksaan Agung turun tangan.

"Semua penegak hukum perlu dikerahkan dan oknum aparat penegak hukum juga harus diproses di peradilan," kata Fickar kepada wartawan, Kamis 28 April 2022.

Menurutnya, semua kejahatan termasuk mafia tambang selain melanggar hukum juga merugikan perekonomisn negara.

"Karena mereka mengambil hasil tambang tanpa mau membayar pajak dan retribusinya pada negara atau pemerintah," katanya.

Terkait dengan temuan ICW, Fickar menilai setiap hal yang merugikan perekonomian negara harus dibenahi.

"Setiap faktor yang menyebabkan kerugian perekonomian nagara, termasuk mafia tambang harus dibenahi dan ditertibkan, sehingga tidak mengganggu terhadap iklim investasi di negara ini," ujarnya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, jika kasus mafia tambang ini memang secara tradisi sudah terjadi sekian lama di Indonesia.

Baca Juga:

Harga Acuan Batu Bara Capai USD 288 Per Ton Buat Pengiriman April

"Praktik-praktiknya memang banyak mengindikasikan atau seringkali diwarnai dengan pengaruh dari shadow government, kemudian ada praktik-praktik ilegal yang sering kali merugikan bagi masyarakat sekitar dan juga bagi lingkungan," kata dia.

Parahnya, kata dia, praktik tersebut seringkali tak hanya melibatkan oknum penegak hukum atau aparat hukum, tapi sampai juga kepada oknum daripada pemerintah, oknum penguasa yang tentu saja bekerjasama dengan pemilik modal.

"Seperti yang saya sebutkan, shadow government sebetulnya adalah di luar pemerintahan tapi memiliki pengaruh dari sisi kemampuan modal capital mereka, yaitu penguasa yang menguasai tambang-tambang terutama yang didaerah-daerah," katanya.

Untuk itu, Faisal pun setuju jika KPK dan Polri harus turun sampai ke praktik mafia tambang.

"Saya rasa setuju kalau kemudian KPK dan Polri memang mesti harus turun sampai ke bawah, sampai ke praktik-praktik sektor pertambangan ini, karena itu masih marak sampai sekarang," katanya dalam keteranganya. (*)

Baca Juga:

Dinkes DKI Skrining Warga Terpapar Debu Batu Bara di Marunda

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Kejagung Sebut Perjanjian Ekstradisi Permudah Penanganan DPO di Singapura
Indonesia
Kejagung Sebut Perjanjian Ekstradisi Permudah Penanganan DPO di Singapura

Dengan perjanjian itu, dapat mempermudah penanganan buronan atau DPO semua perkara yang ditangani kejaksaan baik itu korupsi maupun tindak pidana lainnya.

Mendiknas Era Gus Dur Meninggal Dunia
Indonesia
Mendiknas Era Gus Dur Meninggal Dunia

Sebelum diangkat menjadi menteri, pria kelahiran 17 Mei 1943 itu adalah dosen di FISIP UGM.

 7 ABK asal Indonesia Hilang, Kemenlu Desak Penyelidikan Mauritius
Indonesia
7 ABK asal Indonesia Hilang, Kemenlu Desak Penyelidikan Mauritius

Berdasarkan keterangan saksi mata, Kapal Wei Fa dan Kapal De Hai meninggalkan dermaga Mauritius pada 26 Februari 2021 sebelum dinyatakan hilang di laut.

Sanksi Berat Barat dan Kepercayaan Diri Rusia Amankan Mata Uang Rubel
Indonesia
Sanksi Berat Barat dan Kepercayaan Diri Rusia Amankan Mata Uang Rubel

Rubel Rusia jatuh ke rekor terendah terhadap dolar pada Senin (28/2), setelah negara-negara Barat mengumumkan serangkaian sanksi keras selama akhir pekan.

Pemprov Tak Bisa Putuskan Sendiri Penambahan Ruas Ganjil Genap Saat PPKM Level 3
Indonesia
Pemprov Tak Bisa Putuskan Sendiri Penambahan Ruas Ganjil Genap Saat PPKM Level 3

Dishub DKI akan mencermati situasi dan kondisi terkini terkait pengembalian 25 titik ruas jalan yang diterapkan ganjil genap

BI: Utang Luar Negeri Pemerintah 99,9 Persen Bertenor Jangka Panjang
Indonesia
BI: Utang Luar Negeri Pemerintah 99,9 Persen Bertenor Jangka Panjang

Posisi ULN pemerintah pada triwulan I-2022 sebesar USD 196,2 miliar yang juga turun dari posisi triwulan sebelumnya sebesar USD 200,2 dolar AS.

Anies Sebut Holywings Khianati Jutaan Warga Yang Tetap dan Bekerja di Rumah
Indonesia
Anies Sebut Holywings Khianati Jutaan Warga Yang Tetap dan Bekerja di Rumah

Orang nomor satu di DKI ini menilai, pengelola Kafe Holywings tak menunjukan sikat tanggung jawab dalam membantu pemerintah menekan penyebaran pandemi COVID-19.

96 Persen Pasien COVID-19 Omicron Berhasil Sembuh
Indonesia
96 Persen Pasien COVID-19 Omicron Berhasil Sembuh

689 atau 88 persen orang positif Omicron yang dirawat di rumah sakit sudah sembuh

Jakarta Diprediksi Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang, Warga Diminta Waspada
Indonesia
Jakarta Diprediksi Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang, Warga Diminta Waspada

Pada malam hari, hujan ringan akan terjadi di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur

Pertamina Bertanggung Jawab Atas Insiden Kecelakaan Truk BBM di Jalan Transyogi
Indonesia
Pertamina Bertanggung Jawab Atas Insiden Kecelakaan Truk BBM di Jalan Transyogi

PT Pertamina menyampaikan permohonan maaf atas insiden kecelakaan mobil tangki dengan nomor polisi B 9598 BEH di Jalan Transyogi Gunung Putri, Bogor, sekitar pukul 15.29 WIB. Akibat peristiwa tersebut 11 orang dikabarkan meninggal dunia.