KPAI: Ayah Tak Sekedar Pahlawan Ekonomi Keluarga Ilustrasi ayah dan anak. (Image courtesy of arztsamui at FreeDigitalPhotos.net)

MerahPutih.Com - Apakah peran ayah hanya sekedar pahlawan ekonomi keluarga? Mengapa posisi ayah di Indonesia tidak seakrab dan sehangat ibu? Begitulah pertanyaan yang sering terucap ketika datangnya Hari Ayah Nasional. Ya, hari ini, Indonesia memperingati Hari Ayah Nasional.

Menurut Wakil Ketua Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati posisi ayah dengan perannya yang strategis sebagai salah satu kunci pengasuhan yang baik bagi tumbuh kembang anak.

"Ayah tidak hanya diharapkan memenuhi pemenuhan kebutuhan fisik sebagaimana gambaran profil ayah hari-hari ini. Namun anak-anak juga sangat menanti kasih sayang dan perhatian ayah," kata Komisioner Bidang Pengasuhan KPAI Rita kepada wartawan di Jakarta, Minggu (12/11) saat memperingati Hari Ayah Nasional.

Menurut dia, 12 November yang diperingati sebagai hari ayah di Indonesia sering sekadar menempatkan ayah sebagai pahlawan ekonomi keluarga tapi dalam banyak hal peran ayah untuk tumbuh kembang anak justru kurang. Dengan kata lain, figur ayah belum hadir secara optimal pada proses pengasuhan buah hatinya.

"Fatherless (ketidakhadiran ayah) secara umum akan berdampak bagi kepercayaan diri, kemampuan, beradaptasi, mengambil keputusan dan mengambil risiko, kematangan emosi dan psikososial," kata Rita Pranawati sebagaimana dilansir Antara.

Mengutip Survei Indeks Nasional Pengasuhan Anak di Indonesia tahun 2015 oleh KPAI, Rita mengatakan peran ayah dibandingkan ibu, hanya sedikit lebih baik dalam hal mengetahui dampak teknologi informasi, pemenuhan nafkah dan menguruskan akte kelahiran.

Rita Pranawati mengatakan fatherless memiliki dampak bagi anak laki-laki dan perempuan terutama untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Bagi anak laki-laki fatherless akan berdampak pada agresivitas anak yang dapat menyebabkan keterlibatan dalam "kenakalan remaja". Peran ayah untuk memberikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi sangat penting bagi anak laki-laki, tapi sayangnya ayah belum banyak terlibat.

Padahal, kata dia, anak laki-laki membutuhkan informasi yang tepat tentang kesehatan reproduksi agar tidak terjerumus pada hal yang tidak baik. Data Kemensos tahun 2013 tentang prevalensi kekerasan, anak laki-laki lebih rentan untuk menjadi korban kekerasan fisik, psikologis maupun seksual. Kehadiran ayah akan mengurangi kerentanan anak menjadi korban maupun pelaku kekerasan.

Sedangkan bagi anak perempuan, lanjut Rita Pranawati, ketiadaan ayah akan berdampak pada pengelolaan emosi anak, sulit mengambil keputusan dan cenderung mencari pengganti figur ayah. Salah satu dampak yang dapat terjadi adalah pacaran berisiko bagi anak perempuan dan mencari figur yang dianggap nyaman sebagai pengganti figur ayah.

"Wahai para ayah, manfaatkan waktu kebersamaan dengan anak dengan sebaik-baiknya. Ayah perlu memiliki pengetahuan yang baik tentang pengasuhan, komitmen untuk mengasuh dan waktu untuk membersamai anak-anak. Kehadiran teknologi misalnya video call tidak dapat menggantikan pentingnya kebersamaan dengan anak. Keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak akan sangat bermanfaat bagi generasi masa depan bangsa. Selamat Hari Ayah!," pesan Rita Pranawati sekilas berpuisi bijak.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH