Banjir Prestasi Kopassus dan Bayangan Dosa Masa Lalu Anggota Kopassus. Foto: Ist

MerahPutih.com - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) memperingati hari lahirnya ke-66, Senin (16/4). Dalam sejarah perjalanannya, pasukan elite TNI Angkatan Darat ini telah menjalani pelbagai pertempuran, mulai dari menghadapi gerilyawan sampai operasi pembebasan sandera.

Beragam prestasi apik dicatat Kopassus, di antaranya penumpasan DI/TII, operasi militer Permesta, penumpasan G30S/PKI, operasi Trikora dan Dwikora, operasi Pepera di Irian Barat, dan Operasi Seroja di Timor Timur.

Prestasi yang melambungkan Kopassus saat saat melakukan operasi pembebasan sandera yaitu para awak dan penumpang pesawat DC-9 Woyla Garuda Indonesian Airways yang dibajak oleh lima orang yang mengaku berasal dari kelompok ekstremis Islam "Komando Jihad" yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein, 28 Maret 1981.

Dikenal dengan sebutan pasukan baret merah, Kopassus memiliki moto Berani, Benar, Berhasil. Secara resmi, nama Kopassus dipakai sejak 26 Desember 1986.

Kopassus sebelumnya sempat menyandang nama lain, di antaranya Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Pusat Pasukan Khusus AD (Puspassus AD), serta Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha).

Dalam menjalankan tugasnya, Kopassus selalu beroperasi dalam satuan kecil dengan mengandalkan serangan cepat dan mematikan. Pasukan elit ini biasanya melakukan tugas penyusupan, pengintaian, penyerbuan, anti terorisme dan berbagai jenis perang non konvensional lain. Untuk itu setiap prajurit Kopassus dibekali kemampuan tempur yang tinggi.

Untuk menjadi anggota Kopassus, prajurit harus memiliki kemampuan fisik dan intelektual yang baik. Selain itu, anggota Kopassus juga harus punya ketahanan tubuh luar biasa.

Anggota Kopassus digembleng dengan pendidikan dan aturan yang ketat. Mereka kerap mendapatkan siksaan dari pimpinannya saat melakukan simulasi perang. Hal itu dilakukan agar para prajurit bisa menghadapi segala rintangan.

Salah satu proses pembelajaran yang dialami anggota Kopassus adalah berenang sejauh 2 kilometer tanpa henti. Mereka juga harus berenang ponco menyeberangi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.

Sementara itu, Kopassus juga memiliki sederet prestasi yang sangat membanggakan serta mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Berikut ini beberapa prestasi Kopassus dilansir MerahPutih.com dari berbagai sumber.

1. Membebaskan para peneliti Ekspedisi Lorentz ’95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua, tahun 1996. Operasi ini dipimpin oleh Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto. Sayangnya 2 dari 11 sandera telah ditemukan tewas.

2. Membebaskan sandera dalam operasi pembajakan pesawat Garuda Indonesia yang dilakukan kelompok teroris Komando Jihad. kelima teroris ini menyamar sebagai penumpang. Pembajakan pesawat ini berlangsung selama empat hari di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, dan berakhir dengan serbuan Grup 1 Kopassus yang dipimpin Letnan Kolonel Infantri Sintong Panjaitan. Sayangnya saat serbuan tersebut berlangsung, terdapat korban yaitu salah satu pilot Kapten Herman Rante serta salah satu anggota Kopassus.

Operasi Woyla. Foto: ist

3. Kopassus menempati urutan dua di bawah Delta Force USA dari 35 dalam hal keberhasilan dan kesuksesan operasi militer pada pertemuan Elite Forces in Tactical, Deployment and Assault di Wina Austria.

4. Kopassus dinobatkan Discovery Channel Military sebagai pasukan elit terbaik ketiga dunia pada 2008 di bawah Special Air Force Inggris dan Mossad Israel.

5. Kopassus dipercaya melatih pasukan elit berbagai negara. Salah satunya pasukan Paspampres Kamboja. Negara-negara di Afrika Utara hingga Barat juga dilatih oleh Kopassus.

6. Kopassus berhasil menangkap tokoh Timor Leste, Xanana Gusmao, yang merupakan pimpinan kelompok pemberontak Fretelin. Kopassus meringkus Xanana di Dili Timur, pada tahun 1992 saat bersembunyi di bawah lemari berlubang.

Dosa Masa Lalu Kopassus

Meskipun memiliki prestasi yang mumpuni, Kopassus juga memiliki dosa di masa lalu. Kopassus dianggap melakukan pelanggaran HAM yang terjadi di berbagai daerah tanah air.

Pasukan elit TNI Angkatan Darat itu diduga menembak lima wartawan Australia saat gejolak di kota Balibo, Timor Leste. Kasus yang kemudian dikenal dengan sebutan Balibo Five itu kemudian diseret ke ranah hukum dan masih belum menemukan kejelasan hingga kini.

Lima wartawan Australia yang tewas di Balibo. Foto: ist

Selain itu, saat Presiden Soeharto masih berkuasa, Kopassus berubah dari alat negara menjadi abdi penguasa. Pasukan yang kala itu dipimpin Prabowo ini dituding menculik aktivis dan mahasiswa yang dianggap memberontak dan menyulut kerusuhan massal pada bulan Mei 1998.

Kopassus juga ditugaskan di Aceh selama operasi militer antara tahun 1990-1998. Dperkirakan lebih dari 300 wanita dan anak di bawah umur mengalami perkosaan dan hingga 12.000 orang tewas selama insiden tersebut.

Aparat TNI saat berjaga di Gedung MPR/DPR pada Mei 1998. Foto: ist

Satu lagi pelanggaran HAM yang diduga dilakukan Kopassus yakni pembunuhan aktivis Papua Merdeka, Theys Eluay. Selain itu, pasukan elit TNI ini juga melakukan pelanggaran HAM terhadap warga sipil. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH