Kontrol Berlebih Rusak Masa Depan Anak Pola asuh demokratis membuat anak bebas stres.

SEMUA orangtua menginginkan yang terbaik bagi buah hati. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah pola asuh. Setiap orangtua menerapkan pola asuh yang berbeda.

Sayang, ada orangtua yang pola asuhnya terlalu mengontrol hidup anak. Sikap seperti ini terjadi lantaran mereka merasa tahu apa yang terbaik bagi anak.

Salah satu faktor yang menyebabkan orangtua menjadi overprotektif ialah karakter. “Karakter tertentu cenderung mengendalikan dan mengaplikasikan pola asuh otoriter,” tutur psikolog Adityana Kasandra.

Hasil pola asuh semacam itu merupakan kombinasi dari kombinasi dari model ayah dan ibu. Dalam beberapa kasus, orang tua menggunakan intimidasi dalam mengendalikan anak. Orang tua yang over protektif tersebut memanfaatkan statusnya sebagai orang tua untuk menunjukkan otoriter penuh pada anak.

Tanpa disadari, kontrol berlebihan pada anak memberi dampak negatif untuk anak. Dampak tersebut biasanya baru dirasakan saat sang anak telah tumbuh dewasa. “Penelitian membuktikan, anak yang terbiasa tak memiliki opsi tumbuh menjadi anak yang pasif,” ungkap Adit.

Adit juga menuturkan jika anak-anak yang tidak belajar dalam mengambil keputusan membuatnya tidak percaya diri. Otak mereka tak terlatih untuk melakukan analisa dan pertimbangan. Akibatnya, mereka menjadi tidak yakin pada diri sendiri.

Sikap pasif pada diri anak juga berpengaruh terhadap kemampuan mereka untuk mengutarakan isi hati dan pikiran mereka. Mereka akan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan emosi atau pendapatnya.

Selain memiliki rasa percaya diri yang rendah, kontrol secara berlebihan juga memiliki kaitan yang erat dengan sikap depresi. Cara didik yang kaku dan otoriter dapat menyebabkan anak-anak menjadi depresi. Pengalaman dikendalikan hanya akan merusak otak anak.

Lebih lanjut Adit menguraikan jika individu yang otoriter dapat bertahan dengan pasangan yang penurut (submisif). Sosok yang otoriter akan menampilkan model pola asuh yang otoriter pada anak. Sementara pasangan yang menurut akan menampilkan model yang membolehkan anak melakukan apapun. Hal ini membuat anak tumbuh menjadi pemberontak dan memiliki perilaku negatif ketika beranjak dewasa.

Mendidik dan mengasuh anak tak perlu dengan mengekang dan membatasi ruang gerak anak. Orang tua perlu berperilaku demokratis dengan membuka ruang diskusi untuk anak mereka. Dengan begitu anak dapat berkarya dan mengembangkan diri.

Salah satu contoh individu yang tumbuh dalam lingkungan demokratis adalah Muhammad Attamimi Halilintar. YouTuber yang dikenal dengan panggilan Atta Halilintar ini terbiasa berdiskusi dengan ayah ibu dan kesepuluh saudaranya.

“Tiap pagi kami biasa melakukan morning briefing untuk menyatukan pemikiran dan pendapat,” ungkapnya. Selain itu, kedua orang tuanya juga menerapkan night review untuk mengetahui aktivitas putra dan putrinya selama sehari.

Cara tersebut cukup efektif. Terbukti dengan kemampuan Atta dan saudara-saudaranya dalam mengembangkan kreativitas. Selain menjadi YouTuber dengan subscriber terbanyak, Atta juga dikenal sebagai seorang entrepreneur sukses.

Selain Atta, ada pula make up artist muda bernama Mega Utari Anjani. Meski masih berusia 22 tahun, ia telah sukses mengembangkan bisnisnya. Ia mengungkapkan, jika ia selalu berdiskusi dengan kedua orang tuanya dalam menentukan masa depannya.

“Mereka mendidik aku untuk pikir panjang ke depannya. Kalau mau lakukan sesuatu aku mesti buat mini proposal ke papa,” tutur dara manis yang kerap disapa Mega ini.

Selain membuatnya mampu mengembangkan dirinya, cara tersebut membuatnya lebih bertanggung jawab terhadap pilihan hidup. (Avia)

Dapatkan tips lain mendidik anak pada artikel 10 Kekeliruan Pola Asuh Anak yang Kerap Dilakukan Orang Tua.


Tags Artikel Ini

Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH