Kongres Pemuda Pertama 1926: Merajut Cita-Cita Kesatuan Indonesia Kongres Pemuda 1926

SELURUH perhatian masyarakat bahkan akademikus sekalipun pasti tertuju pada Kongres Pemuda II pada tahun 1928, karena pada sidang ketiga kongres tersebut membuahkan Sumpah Pemuda, dan lagu Indonesia Raya sebagai identitas kebangsaan.

Meski begitu, apakah mungkin kongres tersebut bisa terlaksana tanpa kehadiran Kongres Pemuda Pertama tahun 1926?

Kongres Pemuda Pertama dihadiri lebih kurang 11 organisasi kepemudaan, semisal Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Isamieten Bond, Sekar Roekoen, Jong Batak, Jong Theosofen Bond, Ambonsche Studeerenden, Minahassasche Studeerenden, Studieclub Indonesia, Boedi Oetomo, Muhammadiyah, berlangsung di Weltevreden, salah satunya di Loji Vrijmetselaar (Jalan Boedi Oetomo I, kini) pada 30 April sampai 2 Mei 1926, merupakan penanda awal cita-cita kesatuan Indonesia.

Kongres tersebut merupakan tindak lanjut dari konferensi setahun sebelumnya, 15 November 1925, di Hotel Lux Orientis, melibatkan beberapa organisasi kepemudaan.

Kongres dengan nama resmi Het eerste Indonesische Jeugdcongres mengusung tiga pokok bahasan, seperti cita-cita kesatuan, masalah perempuan, dan agama. “Kesatuan atau malah pemikiran tentang kesatuan Indonesia dirumuskan secara khusus dalam kesatuan bahasa meski semuanya dari awal sampai akhir dalam bahasa Belanda,” tulis Daniel Dhakidae pada Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru.

Peserta kongres selama sidang seluruhnya, dan laporan kongres pun disusun menggunakan bahasa Belanda dengan judul Verslag van het Eerste Indonesisch Jeugdcongres, Gehouden te Weltevreden van 30 April tot 2 Mei 1926.

Bahasa Belanda kala itu, menurut Dhakidae, merupakan bahasa pergaulan intelektual, sementara bahasa Melayu dipakai sebagai lingua franca, bahasa pergaulan dan bahasa niaga. Mohammad Tabrani, ketua kongres, bahkan mengatakan bahasa Belanda bisa menjadi senjata bagi keperluan Indonesia, seperti di surat kabar sebagai alat perjuangan untuk mempertahankan, melindungi, dan memenangkan hak-hak Indonesia.

Tabrani membuka sidang dengan retorika tentang latar belakang pergerakan di Indonesia dan di bagian penutup sang ketua kongres menghimbau agar, “Indonesiers aller eilanden van den Archipel, vereenigt U!, (Rakyat Indonesia dari seluruh kepulauan, bersatulah!”.

Cita-cita kesatuan Indonesia kemudian dikemukakan dengan sangat berapi-api pada sidang melalui ceramah seorang mahasiswa bernama Soemarto dengan tajuk De Indonesische Eenheidsgedachte. Soemarto mengatakan sebagai bangsa mungkin kita belum berjalan menuju kesatuan, akan tetapi sedang menuju suatu cita-cita tentang kesatuan.

Cita-cita kesatuan, butuh dukungan penuh segenap tenaga rakyat, tak kecuali kaum perempuan. Bahder Johan kemudian berbicara permasalahan perempuan pada paparan berjudul De Positie van de Vrouw in de Indonesische Samenleving. Dia mempertanyakan posisi perempuan pada kebangunan kehidupan bersama secara nasional. Menurutnya, gerakan perempuan belum terorganisasi secara baik dan bila itu terjadi maka kesatuan akan mudah terwujud.

Disambung kemudian membincangkan peran agama dalam pergerakan nasional atau De Taak der Godsdiensten in de Nationale Beweging, dipaparkan seorang pemuda asal Minahasa P Pinontoan. Menurutnya agama bisa menjadi potensi penghalang kesatuan nasional bila dipraktikan secara eksklusif. Harus ada pengertian di antara sesama pemeluk agama untuk saling mengenal, dan saling menghargai.

Watak eksklusifisme agama merupakan sebuah jalan sesat dan justru menumbuhsuburkan kolonialisme.

Di samping ketiga tema khusus, cita-cita kesatuan, masalah perempuan, dan agama, seorang pemuda bernama M Yamin justru memberikan uraian lengkap mengenai bahasa sebagai identitas persatuan. Dia mengungkapkan mengenai pentingnya bahasa dan kemampuan berbahasa Melayu menjadi bahasa persatuan.

Bahasa Melayu, menurut Yamin, sangat cocok bagi kegiatan ilmu pengetahuan, untuk prosa dan puisi modern dan pengetahuan bahasa Melayu memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berhubungan.

“Di samping itu, saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa bahasa Melayu lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan dan bahasa persatuan yang ditentukan untuk orang Indonesia, dan kebudayaan Indonesia masa depan akan mendapatkan pengungkapannya dalam bahasa itu,” ungkap Yamin pada De Toekomstmogelijkheden van den Indonesische Talen en Letterkunde.

Rumusan kongres menyarankan membuat suatu badan permanen denga tujuan untuk mengusahkan terwujudnya konsep kesatuan Indonesia dan memperkuat tali hubungan antara semua organisasi pemuda se-tanah air. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH