Konflik Pasar Turi Tinggalkan Kisah Pilu Pedagang Pasar Turi Surabaya. Foto:centroone

MerahPutih.com - Konflik Pasar Turi Baru antara Pemkot Surabaya dengan kontraktor menyisakan cerita pilu para pedagang. Banyak yang bangkrut, meninggalkan stan, hingga banting setir mencari usaha atau pekerjaan lain hingga menganggur.

Akbar Maghrobi salah satunya. Pedagang Pasar Turi bidang konveksi memilih banting setir karena penghasilannya selama bergadang tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari

"Biasanya saya dan ibu yang menjaga stan. Tapi karena semakin sepi, saya jadi sopir dan ibu yang jaga sendiri," tutur pria yang biasa dipanggil Robi, Rabu (5/9).

Robi menuturkan, memiliki stan di dalam gedung Pasar Turi Baru. Namun, terpaksa ia tinggalkan stan yang telah dibeli itu karena pengunjung begitu sepi. Ia lebih memilih berjualan di tempat penampungan sementara (TPS) dengan harapan dagangannya tetap laris.

Pasar Turi

"Ternyata sama saja. Di TPS pun juga sepi. Hampir tiap hari itu tidak ada pembeli baru. Yang beli itu tinggal pelanggan lama saja," ungkap warga Pucang Sewu ini.

Pria 28 tahun ini akhirnya memutuskan mencari pekerjaan lain. Ia sempat bekerja di distributor air mineral kemasan demi menutupi kebutuhan keluarganya. Namun itu tidak berlangsung lama. Robi kemudian memilih menjadi sopir di salah satu perusahaan di Pasuruan.

"Berat memang (jadi sopir). Harus kuat melek. Saya juga harus pergi-pulang Surabaya-Pasuruan tiap hari. Tapi ya bagaimana lagi, hidup harus tetap berlanjut," tutur pria yang sedang menabung untuk biaya menikah ini.

Robi mengaku banyak pedagang lain yang juga mengalami nasib serupa. Meski memiliki stan di dalam gedung, tapi di antara mereka tetap berjualan di tempat penampungan sementara (TPS) karena pengunjung lebih ramai.

Oleh karena itu, lanjut Robi, dirinya berharap ke depan bisa kembali jualan di Pasar Turi. Ia tak mau tahu soal kisruh pasar yang sudah bertahun-tahun.

“Yang penting (pengunjung) ramai lagi,” tegasnya.

Beda dengan Robi, Yudia (47), kini hanya bisa menjalani nasibnya sebagai ibu rumah tangga. Ia tak bisa lagi berharap pada penghasilannya berdagang di stan Pasar Turi. Sementara, membuka usaha di tempat lain dirasa sulit lantaran tak punya cukup modal.

“Mau lamar kerjaan juga bingung kerja apa. Akhirnya ya begini nganggur, paling ngurus rumah,” tuturnya.

Ibu dua anak yang selama ini jadi tumpuan ekonomi keluarga itu tak menyangka, Pasar Turi yang dulu sangat ramai dan menjadi pusat grosir terbesar di kawasan Indonesia Timur ternyata berubah drastis. Megahnya gedung baru yang dibangun pasca kebakaran tahun 2007 tak cukup memulihkan gairah jual-beli antara pedagang dan pengunjung.

“Sehari laku satu sudah syukur. Saya gak bisa ngarep dari situ lagi,” terangnya.

Ilustrasi Pasar Turi

Yudia adalah salah satu pedagang grosir dan eceran yang awalnya punya harapan besar terhadap Pasar Turi Baru. Tak pernah sedikit pun terbayang olehnya Pasar Turi bakal kelam dan mati suri seperti sekarang. Sebab di benaknya kala itu, pemerintah kota dan semua pihak benar-benar ingin menghidupkan kembali Pasar Turi, sehingga tak ada alasan untuk pesimis.

Namun, apalah arti jadi wong cilik, nasibnya banyak bergantung pada perhatian penguasa. Begitu hilang perhatian itu, maka pupuslah pula harapan mereka akan hidup yang lebih berdaya.

“Kepada siapa lagi saya mengeluh mas. Sekarang gak ada yang perhatikan nasib kami. Sekarang aja lagi butuh uang buat bayar SPP anak tapi belum ada uang," pungkasnya.

Untuk diketahui, konflik seputar pengelolaan Pasar Turi hingga saat ini belum menemui titik terang. Konflik melibatkan sejumlah pihak terutama antara Pemkot Surabaya dengan pengembang yang membuat, antara lain, izin operasional Pasar Turi belum dikeluarkan dan revitalisasi pasar terhambat.

Perlu diketahui total jumlah stan di Pasar Turi Baru yang sudah selesai dibangun sebanyak 6.400 unit. Pembangunannya sendiri sudah rampung sejak tahun 2014. Dari jumlah itu, sebanyak 4.500 unit kios telah terjual ke pedagang antara lain: 3.600 unit ke pedagang lama dan 900 unit pedagang baru. Serah terima kios pun berlangsung sejak Desember 2014 sampai awal 2015. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH