Konflik Mahmoud Abbas dan Kelompok Hamas Ancam Persatuan Palestina Presiden Palestina Mahmoud Abbas mendengarkan saat konferensi pengumuman hasil awal Sensus Umum Populasi, Perumahan dan Pembangunan, di Ramallah (ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamad Torokman)

MerahPutih.Com - Di tengah kesibukan menghadapi pendudukan Israel dan rencana Amerika Serikat memindahkan kantor kedutaannya ke Yerusalem, Palestina justru mengalami konflik internal yang serius.

Presiden Mahmoud Abbas terlibat pertentangan keras dengan kelompok Hamas. Posisi Abbas sebagai kepala negara digoyang tudingan upaya pembunuhan terhadap Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah, yang nota bene berasal dari faksi Hamas.

Kelompok Hamas menuding sejumlah pejabat Pemerintah Palestina berupaya membunuh Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah pada 13 Maret.

Pemimpin Polisi dari Kelompok Hamas
Kepala polisi Hamas Tayseer al-Batish memeriksa lokasi ledakan yang menargetkan rombongan Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah, di utara Jalur Gaza (ANTARA FOTO/REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

Sebelumnya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyalahkan Hamas beberapa saat setelah serangan bom di Gaza, tempat Hamdallah, yang mengepalai rombongan Palestina untuk mengupayakan rujuk dengan Hamas, selamat dari kejadian itu tanpa cedera.

Saling tuduh mengenai serangan terhadap rombongan Hamdallah itu memperbesar perpecahan politik kelompok Hamas, yang menguasai Jalur Gaza, dengan pemerintahan Abbas, yang didukung negara Barat.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri di Gaza, Eyad al-Bozom, dalam jumpa pers pada Sabtu mengatakan bahwa tiga pejabat tinggi dari Pemerintahan Palestina, yang berkedudukan di Tepi Barat, mendalangi upaya pembunuhan terhadap perdana menteri itu.

Mahmoud Abbas dan Recep Tayyip Erdogan
Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Turki Recep Tayyip Edrogan (Foto: xinhua)

Pemerintah Palestina langsung membantah tudingan itu.

Tiga orang, yang dinyatakan Hamas sebagai tersangka dalam pengeboman itu, tewas dalam tembak-menembak dengan pasukan Hamas di Gaza pada 22 Maret.

Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, Minggu (29/4) Kementerian Dalam Negeri Gaza juga menampilkan sebuah video yang berisi sejumlah pengakuan oleh empat orang tahanan. Mereka mengaku menjadi bagian dari kelompok penyerang yang dikepalai oleh pejabat-pejabat Otoritas Palestina.

Mereka tidak menampilkan bukti lebih jauh.

Upaya pembunuhan politik itu telah menggagalkan upaya rekonsiliasi perpecahan antara dua faksi utama di Palestina -- Hamas, yang mendominasi di Jalur Gaza, dan Fatah, yang menguasai pemerintahan Otoritas Palestina di Tepi Barat.

Kelompok Militan Hamas
Militan Hamas Palestina mengikuti latihan militer saat persiapan menghadapi konfrontansi dengan Israel, di selatan Jalur Gaza (ANTARA FOTO/REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

Khalil al-Hayya, wakil kepala Hamas di Gaza, dalam konferensi pers terpisah mengatakan bahwa para dalang ini "berniat untuk menggagalkan rekonsiliasi." Al-Bozom mengatakan bahwa para pejabat Otoritas Palestina yang sama juga menjadi dalang upaya pembunuhan terhadap kepala keamanan Hamas Tawfeeq Abu Naeem pada Oktober tahun lalu di Gaza.

Sementara itu, juru bicara badan keamanan Otoritas Palestina balik menuding Hamas terkait insiden 13 Maret.

"Semakin Hamas berusaha menghindari tanggung jawab, semakin dalam mereka tenggelam," kata Adnan al-Damiri kepada Reuters melalui sambungan telepon.

Padahal jika kedua kelompok ini bersatu, niscaya rencana perpindahan ibu kota Israel ke Yerusalem bisa dihadapi bersama-sama. Bukankah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh? Hamas dan Abbas sama-sama untuk persatuan Palestina.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel:Mahmoud Abbas Bersikukuh Masjid Al Aqsa Dikembalikan ke Status Quo



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH