Kondisi Novel Membaik Ditengah Tak Jelasnya Penyidikan Kasus Air Keras Penyidik KPK Novel Baswedan (kiri) bersama istri Rina Emilda (kanan) dan anak bungsunya saat ditemui di Singapura, Selasa (15/8). (ANTARA FOTO/Monalisa)

MerahPutih.com - Kondisi mata kiri penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan berangsur membaik. Jika trend ini positif, Novel akan kembali bertugas di lembaga antirasuah.

"Hasil pemeriksaan untuk mata kiri menunjukkan perkembangan yang bagus dan membaik," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Senin (30/4).

Meski mata kirinya membaik, namun kondisi mata kanan Kasatgas kasus e-KTP itu masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Febri berharap kondisi Novel stabil dan terus berangsur pulih.

Hari ini, kata Febri, Novel tengah menjalani rawat jalan di kediamannya. Sesuai hasil pemeriksaan dokter di Singapura 17-19 April 2018 kemarin, mata kiri Novel harus diberikan obat tetes setiap hari dan lensa buatan dibersihkan menggunakan cotton bud agar dapat melihat dengan baik.

Menurut Febri, sebelum kembali bertugas pihaknya masih harus melihat perkembangan kondisi Novel. Terlebih, dokter telah memberikan surat keterangan kepada KPK agar Novel beristirahat selamat satu bulan tepatnya sampai dengan 18 Mei.

"Nanti akan dilihat perkembangan kondisinya apakah masih membutuhkan istirahat atau sudah dapat melakukan kegiatan sehari-hari seperti kembali bekerja sebagai penyidik di KPK," ujar Febri.

Novel Baswedan saat dirawat
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. (ANTARA FOTO)

"Sekarang Novel menggunakan kacamata dan mata kiri sudah bisa membaca buku dalam jarak dan ukuran huruf yang wajar," kata Febri menambahkan.

Selain sudah bisa membaca buku dalam posisi normal, Novel juga berencana menghadiri acara Musyawarah Umum Anggota Wadah Pegawai KPK dan proses peralihan pengurus WP yang lama (Periode 2016-2018) dengan para calon Ketua WP pada Rabu, (3/5).

"Sesuai dengan PP SDM KPK dan AD/ART WP, maka pengurus dipilih kembali setiap 2 tahun. Pada Mei ini direncanakan pemilihan Ketua WP periode 2018-2020," ungkapnya.

Jalan di Tempat

Kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan telah setahun berlalu. Namun, hingga kini pelaku maupun aktor intelektual dibalik teror tersebut tak kunjung terungkap.

KPK masih menaruh harapan besar kepada Polri untuk segera menangkap pelaku teror terhadap Novel. Lembaga antirasuah meminta Korps Bayangkara lebih serius dalam mengungkap kasus tersebut.

Menurut Febri, hingga kini pihaknya belum menerima informasi dari Polri perihal perkembangan pengusutan kasus tersebut. Khususnya, informasi keberadaan pelaku maupun otak di balik penyerangan.

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (tengah). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

"Untuk perkembangan penanganan kasus penyerangan Novel, sampai saat ini belum ada perkembangan pihak yang diduga sebagai pelaku," kata Febri.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menyayangkan sikap kepolisian yang lamban dalam menuntaskan kasus teror terhadap Novel. Menurutnya, dengan sumber daya luar biasa yang dimiliki, Polri dapat dengan mudah mengungkap kasus tersebut.

“Polisi ini kan lembaga yang powerfull, teroris pun bisa ditangkap, narkoba pun bisa diungkap, kenapa kasus penyiraman air keras ini tidak tuntas,” ujarnya kepada MerahPutih.com.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menilai, Polri tak sungguh-sungguh dalam menangani kasus ini. Hal itu menguatkan dugaan adanya keterlibatan orang besar di balik penyiraman air keras terhadap Kasatgas kasus korupsi e-KTP itu.

“Bisa jadi ada orang yang memang terlibat dalam masalah itu. Dugaan kita ada orang kuat yang memang terlibat,” ungkap Ujang.

Menurut Ujang, kasus teror terhadap Novel menjadi pertaruhan bagi pemerintahan Joko Widodo. Kasus ini, lanjutnya, akan jadi beban tersendiri bagi Jokowi jika kelak mantan Gubernur DKI Jakarta itu kembali memenangkan Pemilihan Presiden 2019.

Sejumlah aktivis anti korupsi melakukan aksi damai dan orasi dukungan untuk Novel Baswedan di Taman Pandang, depan Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/4). (ANTARA FOTO/ Reno Esnir)

“Apakah memang serius menuntaskan kasus ini atau hanya lip service, hanya sekedar basa basi hanya untuk melakukan pencitraan. Jadi bahaya kalau kasus ini tidak dituntaskan,” paparnya.

Ujang juga berpendapat, jika kasus teror terhadap Novel tidak selesai akan jadi preseden buruk bagi penegakan hak asasi manusia ke depannya. Imbas lainnya, para penegak hukum akan takut menjalankan tugasnya karena akan mengalami hal yang sama dengan Novel.

“Karena jadi preseden buruk bagi bangsa Indonesia ke depan. Jadi penegak hukum akan takut, bahkan komisioner KPK nya bisa takut. Jadi mau tidak mau polisi harus objektif dan berjalan di rel hukum, siapapun yang terlibat ditindak,”tegasnya.

Lambannya pengungkapan kasus Novel, kata Ujang, bisa menguatkan dugaan bahwa ada oknum jenderal di tubuh korps Bayangkara yang terlibat. Selain itu, lanjutnya, ada indikasi bahwa kasus Novel berkaitan dengan rezim yang berkuasa saat ini. Sehingga, Polri tak berani membogkar pelaku dan dalang di balik teror tersebut.

“Bisa jadi kasus novel itu dilakukan oleh oknum jenderal polisi, sehingga polri tidak berani mengungkap. Mungkin juga begini, hari ini memang tidak dibongkar tapi next kalau rezim berganti bisa jadi terungkap,” pungkasnya.

Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (kanan) didampingi Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (kiri) bersiap memberikan keterangan di gedung KPK, Jakarta, Rabu (11/4). Novel menyatakan kecewa terhadap pihak Kepolisian yang belum berhasil mengungkap kasus teror air keras yang dialaminya meskipun peristiwa tersebut telah setahun berlalu. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/ama/18
Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (kanan) didampingi Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (kiri) bersiap memberikan keterangan di gedung KPK, Jakarta, Rabu (11/4). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Sebelumnya, Novel Baswedan menduga ada oknum Polri yang terlibat dalam kasus teror penyiraman air keras yang dialaminya setahun lalu.

Setelah setahun berlalu, pihak kepolisan belum mampu mengungkap pelaku maupun dalang teror terhadap Novel. Selain oknum kepolisian, Novel juga menduga kasus teror yang menimpanya terkait dengan sejumlah orang yang memiliki kekuasaan.

"Saya pernah menyampaikan bahwa ini terkait dengan orang-orang yang punya kekuasaan. Saya menduga bahwa ada oknum Polri juga yang terlibat di sini sehingga saya ingin menyampaikan bahwa saya menduga itu yang terjadi," kata Novel di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (11/4).

Novel bukan kali ini saja mengungkap dugaan adanya oknum yang terlibat. Saat menjalani perawatan di Singapura, Novel juga pernah mengungkap hal serupa. Hingga kini, Novel meyakini tidak ada kemauan dari Korps Bayangkara untuk menuntaskan kasus teror yang dialaminya.

"Saya sudah menyampaikan sejak awal bahkan saya seingat saya lima bulan setelah saya di Singapura saya menyampaikan bahwa saya meyakini ini tidak akan diungkap. Apakah itu merupakan keengganan atau memang ada suatu kesengajaan saya tidak tahu," tuturnya.

Kendati demikian, Novel masih enggan mengungkap oknum Polri atau pihak yang punya kekuasaan yang disebutnya terlibat dalam kasus teror ini. Novel mengaku menyampaikan hal tersebut pada pihak kepolisian atau Komnas HAM.

"Nanti kita lihat lagi. Saya tidak ingin menyampaikan lebih jauh karena Komnas HAM sekarang sudah bekerja dan tentunya kita berharap apa yang dilakukan Komnas HAM ke depan menjadi kekuatan juga untuk mendukung untuk agar tidak lagi teror teror kepada orang-orang yang memberantas korupsi telah terjadi," pungkasnya.

Novel disiram air keras pada 11 April 2017 usai shalat subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya. Namun hingga setahun sejak penyerangan Novel, pelaku penyerangan belum juga ditemukan.

Serangan itu menyebabkan mata sebelah kiri Novel harus dioperasi, Dia pun harus menjalani perawatan di Singapura. Novel kembali ke Jakarta untuk pertama kali usai serangan itu, Februari lalu.

Novel sudah menjalani operasi besar sebanyak dua kali. Pada operasi pertama, mata kanan Novel Baswedan mulai bisa melihat dan mengalami perbaikan yang signifikan. Operasi kedua sendiri baru dilaksanakan pada Jumat, 23 Maret 2018.

Selama Novel menjalani perawatan, polisi belum berhasil menangkap pelaku penyiraman. Beberapa orang sempat diamankan karena diduga sebagai pelaku, tapi mereka kemudian dilepaskan karena tidak ada bukti.

Polda Metro Jaya sudah merilis tiga sketsa wajah yang diduga kuat sebagai pelaku, namun belum ada hasil dari penyebaran sketsa wajah tersebut. (Pon)

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH