Kondisi Makro Ekonomi Indonesia Tahun 2019 Diprediksi Sedikit Membaik Ilustrasi. Foto: Pixabay

MerahPutih.Com - Di tengah terpaan perang dagang Amerika Serikat dan China, kondisi ekonomi dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya terus mengalami fluktuasi serta ketidakpastian global.

Meski demikian, ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Anton Gunawan mengatakan kondisi makro ekonomi Indonesia pada tahun 2019 sedikit lebih baik jika dibandingkan tahun ini.

Untuk pertumbuhan ekonomi misalnya, pada tahun depan diprediksi mencapai 5,2 persen, sedikit lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun ini yang diprediksi oleh bank plat merah tersebut mencapai 5,18 persen.

"Untuk 'growth' kalau berdasarkan 'forecast' kami kecenderungannya akan sedikit lebih baik. Misal tahun ini tidak bulat 5,2 persen, tapi tahun depan masih sekitar itu," ujar Anton saat diskusi dengan awak media bertajuk "Macro Economic Outlook 2019" di Jakarta, Selasa (12/12).

Pembangunan infrastruktur
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Beberapa pekerja menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Pada kuartal III-2018, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,17persen sehingga rata-rata pertumbuhan ekonomi hingga kuartal III sendiri mencapai 5,17 persen. Sementara itu, laju inflasi pada 2019 mendatang akan mencapai 4 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun ini yang diperkirakan akan mencapai 3,22 persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga November 2018, laju inflasi mencapai 3,16 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan 2,22 persen dari Januari hingga November 2018 (year to date/ytd).

"Inflasi walau kemungkinan sedikit naik, tapi tetap relatif terjaga dalam 'range' yang ditargetkan," ujar Anton.

Sedangkan dari sisi defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada tahun depan diprediksi akan mencapai 2,57 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan defisit transaksi berjalan pada tahun ini yang diprediksi mencapai 2,88 persen dari PDB.

"Tahun depan CAD lebih baik, dari sisi harga komoditas akan sedikit lebih tinggi, ekspor akan ada daya dorong sedikit. Untuk impor, adanya upaya untuk menahan beberapa impor yang kurang produktif, dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, jadi itu yang sebabkan kami melihat CAD akan lebih baik," kata Anton sebagaimana dilansir Antara.

Terkait kebijakan moneter, suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-Days Reverse Repo Rate pada 2019 diperkirakan akan naik sebanyak dua kali lagi atau 50 basis poin dari level saat ini 6 persen.

"Dengan perkiraan Fed Fund Rate akan naik lagi tiga kali tahun depan, BI akan menaikkan dua kali lagi lah jadi 6,5 persen. Tapi kalau disana naiknya cuma satu atau dua kali, mungkin BI naiknya tidak sampai dua kali," tandas Anton Gunawan.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Tiga Pemain yang Jadi Incaran Manchester United di Bursa Transfer Januari



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH