Komunitas Masak Akhir Pekan: Pentingnya Menjaga Kelestarian Kuliner Indonesia Komunitas Masak Akhir Pekan ajak para anak mud ona kembali ke dapur (Foto: instagram @masakakhirpekan)

SEIRING berubahnya pola kerja, memasak secara perlahan mulai ditinggalkan oleh masyarakat urban. Gaya hidup yang didorong untuk serba cepat, menjadikan memasak merupakan sebuah beban. Berangkat dari hal itu, pada tahun 2017, tiga anak muda asal Bandung yaitu Eko Nurseto, Siti Farah Mauludynna dan Reyza Ramadhan berinsiatif mendirikan komunitas Masak Akhir Pekan.

Komunitas tersebut didirikan guna mengajak masyarakat kembali ke dapur agar menjadi lebih mengenal akan sumber daya pangan lokal dan manfaatnya.

Baca Juga:

Kemudahan Membeli Makanan tak Lunturkan Budaya Memasak

Komunitas masak akhir pekan pun mencoba mengutarakan kampanye yang sangat sederhana, kembali ke dapur dan mengenali bahan pangan yang masyarakat konsumsi. Kampanye yang terbentuk sejak tahun 2017 itu, terinspirasi dari buku Mustikarasa yang didapat Seto sebagai kado ulang tahun dari kawan-kawan baiknya.

Komunitas masak akhir pekan terinspirasi dari buku Mustikarasa (Foto: instagram @masakakhirpekan)

Dalam hal ini, komunitas masak akhir pekan bukanlah sebuah organisasi, jadi tidak ada sistem keanggotaan. Namun Komunitas masak akhir pekan terus menebar isu lewat hastag #masakakhirpekan lewat akun instagram mereka @Masakakhirpekan.

Setelah itu, komunitas akhir pekan pun melakukan perjalanan ke beberapa kota. Menariknya, mulai banyak yang merespon dengan meramaikan bentuk memasak di akhir pekan dengan memakai hastag atau tagar #masakakhirpekan.

"Dalam kegiatannya, Komunitas Masak Akhir pekan bekerjasama dengan Badan Pangan Dunia, atau Food and Agriculture Organization of the United Nation (FAO). Masak Akhir Pekan pun berkeliling dari mulai kota Bandung, Yogyakarta, Bali, Kendari dan berakhir di Jakarta" tutur Reyzha, salah satu pendiri Masak Akhir Pekan saat dihubungi merahputih.com via whatsapp.

Pada program tersebut, Komunitas Masa Akhir Pekan membantu mempromosikan upaya untuk mengurangi angka kelaparan, yakni lewat memasak. Dengan harapan bisa mengembalikan pengetahuan masyarakat tentang bahan pangan lokal disekitar kita. Tentunya juga untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk bertahan dari ancaman kelaparan.

Baca Juga:

Keterampilan Memasak Amat Penting, ini Alasannya

'Ruh' Masak Akhir Pekan ialah masakan Indonesia (Foto: instagram @masakakhirpekan)

Adapun kegiatan lainnya yang digawangi Reyza, Seto, Arifin dan Sandiyuda yakitu membangun kolektif kuliner yang bernama Parti Gastronomi. Kolektif kuliner ini berfokus pada dokumentasi serta literasi, dimana Masak Akhir Pekan ialah salah satu outputnya.

Pada konteks Masak Akhir Pekan sendiri, ruh-nya ialah masakan Indonesia. Karena Komunitas Masak Akhir Pekan bersenang-senang dengan buku Mustikarasa sebagai landasan. Dimana merupakan sebuah buku resep wariasan dari masa kepemimpinan Bung Karno.

Semua menu yang dicoba reka ulang oleh Komunitas Masak Akhir Pekan, diambil dari buku tersebut. Karena mereka bukanlah ahli memasak atau lulusan sekolah masak. Tapi dengan buku resep mustikarasa Komunitas Masak Akhir Pekan berharap bisa mengenalkan kembali kuliner khas Indonesia agar tetap lestari.

Bagi Komunitas Masak Akhir Pekan , pengetahuan memasak sangatlah penting untuk menjaga kelestarian Indonesia. Karena dengan memasak, kita bisa belajar tentang bagaimana makanan yang kita makan di proses. Nah pengetahuan tentang proses memasak itu kemudian diwariskan kembali pada anak-anak kita untuk kemudia di praktekan di waktu yang akan datang.

Selain itu menurut Komunitas Masak Akhir Pekan, Memasak merupakan cara bertahan hidup. Memelihara kemampuan memasak juga berarti memlihara tradisi. Dengan mawas diri atas kemampuan memasak, kita juga lebih mawasa diri pada semua faktor yang menyokongnya. Seperti bagaimana sulitnya bahan makana nyang datang dari petani, hingga ke pasar basah disekitaran kita. Baik buruknya kualitas dari bahan makanan itu pun menjadi sesuatu yang bisa kita tentukan sendiri.

Kendati demikian, Komunitas Masak Akhir pekan tak anti dengan pembelian makanan melalui aplikasi pesan antar. Karena jika dilihat dari perspektif pelaku usaha, makin marak yang mencoba peruntungan dengan berbisnis makanan.

Itu artinya budaya memasak tak akan hilang, tapi jika dilihat dari sudut pandang perorangan ada sebuah kemunduran yang mungkin akan terjadi perlahan.

Yakni berkurangnya pengetahuan masyarakat akan kemampuan membuat atau memproses makanan yang dikonsumsi akan homogen, sesuai dengan pilihan di layar ponsel kita. Perlahan keberagaman kuliner Indonesia yang kita banggakan akan berkurang lantaran tak dikonsumsi oleh masyarakatnya.

Selain pentingnya memasak untuk kelestarian kuliner Indonesia, Reyza dari Komunitas Masak Akhir Pekan pun menambahkan. Jika Memasak juga sangat berpengaruh pada ketahanan pangan.

"Menjadi salah satu faktor, iya. Tapi bukan sesuatu yang sangat signifikan, karena ketahanan pangan itu sendiri sangat kompleks. Setidaknya, untuk ketahanan pangan itu sendiri ada 3 pilar: ketersediaan, kemudahan untuk diakses baik fisik atau ekonomi, dan diolah dengan baik. Jika dilihat dengan perspektif yang sederhana, memasak dapat menjawab tiga pilar tersebut" ucap Reyza.

Reyza juga menambahkan, dengan memasak artinya kita memastikan ketersediaan bahan pangan secara regular untuk kita dan keluarga serta memastikan makanan yang lebih hemat secara agregat. Lalu dengan memasak juga artinya kita menjamin ketersediaan makanan yang kita jamin sendiri kualitasnya dengan cara pengolahan yang kita tentukan sendiri. (Ryn)

Baca Juga:

Rekayasa Genetik, Solusi atau Masalah untuk Ketahanan Pangan?

Kredit : raden_yusuf


Raden Yusuf Nayamenggala

LAINNYA DARI MERAH PUTIH