Klasik Namun Asyik, Melirik Kembali Semarak Genre Musik City Pop ala Indonesia Ilustrasi, genre musik city pop klasik khas Jepang juga pernah mewarnai industri musik Indonesia (Foto: Pixabay/10372173)

SEGELINTIR kita mungkin familiar dengan alunan musik funky klasik dengan perpaduan jazz futuristik yang cukup kental, city pop, genre musik yang terlahir di Jepang era 70an ini kembali dilirik para penikmat musik. Bukan hanya mereka yang mendengarkannya saat genre ini populer di zamannya, kini city pop pun didengarkan oleh para milenial, anak jaman sekarang.

Kembali dikenal global secara online pada 2010 sejak mencapai puncak popularitasnya di era 80an, genre musik city pop masih memberikan inspirasi untuk musik kekinian. Ibarat pelarian dari musik rock yang kala itu menjadi genre yang paling difavoritkan banyak orang, city pop memiliki penggemar dari banyak negara di luar Jepang, termasuk di Indonesia.

Mungkin kegemaran akan genre city pop sudah tertanam di telinga orang Indonesia sejak lama, sebagaimana genre tersebut banyak didengarkan dan dinikmati oleh generasi muda seolah diturunkan dari generasi sebelumnya. Mungkinkah? Bisa jadi benar adanya. Indonesia memiliki sendiri versi yang menyerap unsur genre city pop, lagu-lagu klasik tersebut dikemas ala kota metropolitan dan funk khas 80an.

1. Ciri Khas Musik City Pop ala Jepang Pernah Melekat di Indonesia Era 80an

(Video: YouTube/runeii7)

Nama-nama besar yang mungkin lebih akrab di telinga orang tua kita seperti Guruh Soekarno putra, Candra Darusman bersama Chaseiro, Dian Piesesha, Chrisye, sampai Fariz Rm sempat menyemarakkan musik khas kota metropolitan ini pada eranya.

Musisi Indonesia di era itu benar-benar "serius" dalam menggarap sebuah karya, buktinya genre musik itu masih terngiang hingga saat ini. Berkat internet, demam city pop Jepang yang kembali terkenal membuat banyak anak muda meliriknya kembali, berlomba untuk mencari referensi, sampai membuat playlist khusus musik Indonesia klasik ala city pop di platform musik digital mereka.

Bahkan pergerakan tersebut terlebih dulu dilakukan orang luar negri, yang juga menikmati musik funk khas 80an dengan membuat remix dari lagu-lagu city pop ala Indonesia di platform YouTube. Apik secara musikalitas, ceria, dan cocok digunakan untuk berdansa, tak heran genre bisa dikatakan underrated di era ini memiliki segmentasinya tersendiri, tanpa menutup kemungkinan genre tersebut kembali menjadi populer.

2. Urban Pop, Melainkan City Pop

Klasik Namun Asyik, Melirik Kembali Genre Musik City Pop ala Indonesia
City pop atau urban pop, tidak terlalu signifikan perbedaanya (Foto: Pixabay/StockSnap)


Walau nama city pop lebih familiar di telinga warganet millenial, mereka yang telah menikmati musik ini sebelumnya juga menyebut genre city pop dengan nama urban pop, arti secara harfiah. Dikatakan demikian karena jika didengarkan, unsur-unsur musik ala funk, disko, jazz, electronik, dan boogie memiliki kemiripan satu sama lain.

3. Jadi referensi musisi-musisi Indonesia generasi baru

(Video: YouTube/AYA Anjani)

Nama-nama besar seperti RAN, Isyana Saravati, Hivi!, dan sebagainya, coba memasukkan kembali unsur city pop ke dalam musik mereka. Selain nama-nama yang sudah disebutkan sebelumnya, terdapat juga musisi yang sengaja menyajikan genre city pop.

Aya Anjani contohnya, putri dari Yockie Suryo Prayogo itu membuat lagu dengan nuansa city pop ala Indonesia, lagu berjudul Roman Romansa dariya memberikan getaran yang groove dan kemeriahannya dirasakan 40 tahun silam di era 80an.

Selain Aya Anjani, terdapat juga penampil di festival musik atau klub yang kerap menyajikan karya-karya city pop lawas ala Indonesia dalam penampilan mereka. Sebut saja Midnight Runners, yang terkenal dengan playlist Nusantara Disco Extended. Munir, sebagai orang di balik nama Midnight Runners menampilkan musik city pop ala Indonesia dengan sedikit sentuhan disco.

(Video: YouTube/Kanal Ryoka)

Sama sekali tidak mengecewakan bukan? Lagu-lagu city pop klasik ala Indonesia tak kalah menarik dengan yang terdengar di negeri kelahirannya, Jepang. Mungkin perkataan "tren akan terus berulang dan berputar layaknya roda" cocok untuk menanggapi fenomena city pop ini, penggemarnya? kembali lagi ke selera, karena tolak ukur untuk hal tersebut berbeda untuk masing-masing orang. (dnz)

Kredit : anandadimas

Tags Artikel Ini

Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH