Kita Enggak Cengeng! Kita Enggak Cengeng. (MP/Fikri)

MAU cari alasan apalagi buat ngeluh? Semua orang juga #stayathome, sama-sama kena dampak, dan lagi adaptasi dengan Normal Baru (New Normal). Paling penting nih, kebanyakan orang kena PHK justru banting tulang cari peluang karena sadar ngeluh enggak menghasilkan apa-apa selain keluhan baru.

Tentu keluhanmu itu secara garis besar ada dua hal kan; penghasilan berkurang atau total nihil lantaran pemberlakuan PSBB imbas COVID-19, dan kebutuhan leisure, semacam enggak bisa nyore di pantai dengan vibe lagu tropical, nyenja di kedai kopi ternama, bahkan chill bareng se-geng di club.

First thing first sih, dua hal di atas lagi-lagi menimpa hampir semua orang di seluruh dunia. Enggak heran selama pandemi beragam orang lintas suku, agama, dan ras bahu-membahu membuat berbagai gerakan tolong-menolong untuk meringankan orang terdampak. Malah, sebenarnya kebutuhan hiburan melimpah ruah di banyak platform mulai konser, tur, meeting, belajar, workshop, dan nonton film serbavirtual.

Pilihannya, betah apa enggak di rumah dan mau create sesuatu atau tetap jadi ignorant. Soal betah enggak betah, tinggal ubah aja sudut pandangnya, You're not stuck but save at home. Belakangan banyak orang tersadar ternyata dengan di rumah aja, perkejaan kantor bisa selesai, bisa tetap ibadah, dapet hiburan bermutu, dan paling penting dekat sama keluarga. Bukankah itu golden moment.

Jangan pernah meremehkan rumah. Enggak kehitung jumlah usaha semula dimulai dari rumah kemudian jadi besar. Apple salah satunya. Rumah punya energi besar sebagai langkah awal memulai usaha. Apalagi di masa pandemi, dengan etalase media sosial, kasir menggunakan e-commerce, pengantaran bisa ekspedisi, ojek online, atau mengandalkan jasa titip.

Ya, kini saatnya create something. Mahasiswa buat apa nunggu lulus kalo sekarang bisa berkarya. Fresh graduate ngapain bingung cari kerja kalau bikin kerjaan. Orang di industri kreatif enggak perlu bingung cari klien kalau bisa rilis produk. Intinya, kreatif dan enggak perlu gengsi serta bekerjasama bukan persaingan.

Bila masing-masing komunitas saling memperkuat ekosistem bukan enggak mungkin menyokong stabilitas sosial dan meningkatkan gairah ekonomi.

Di dunia kopi, misalnya, muncul gerakan Barista Asuh dengan mempertajam Kopilaborasi antara pemilik kedai kopi, barista, dan konsumen. Barista Asuh mengajak para pemilik Coffee Shop mengalokasikan shift satu minggu kepada barista dirumahkan imbas pandemi. Dengan begitu, dukungan kedai kopi--meski masih struggle--dan konsumen setia kepada baritsa begitu nyata.

Gerakan tersebut juga bermunculan di ranah lain untuk menegaskan kita enggak cuma bisa ngeluh tapi berbuat sesuatu. Di bulan penuh perjuangan dan penyesuaian keadaan normal baru, merahputih.com menaja tema "Kita Enggak Cengeng". Tema tersebut merupakan selfhealing terhadap segala keluhan sekaligus anjuran New Moral agar tidak cengeng, bangkit, berdiri di kaki sendiri, dan kalau bisa membantu sesama menghadapi New Normal.

Semua keluhan itu bila dibedah sampai ke bagian terdalamnya, isinya penolakan terhadap perubahan selama pandemi dan menghadapi New Normal. Dengan Moral Baru (New Moral) "Kami Tidak Cengeng" penolakan itu berubah tidak hanya menjadi penerimaan dan penyesuaian, melainkan pula perjuangan meMEINANGkan pertandingan baru bernama perubahan.

Kami enggak Cengeng! Kamu?

Kredit : nugroho

Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH