Kisah Wakil Asia di Piala Dunia, Korban Perang Sampai Tukang Cuci Mobil Bendera Australia dan Korea Selatan, wakil Asia di Piala Dunia 2018 Rusia. Pedagang menata bendera tim sepak bola negara peserta Piala Dunia 2018 yang dijual di kawasan Imam Bonjol, Denpasar, Bali, Ju

MerahPutih.com - Wakil Asia memang belum mampu berbicara banyak di ajang Piala Dunia hingga saat ini. Prestasi tertinggi yang pernah ditorehkan benua kuning di hajatan empat tahunan itu hanya mencapai semifinal di Piala Dunia 2002. Torehan yang dicapai Korea Selatan saat menjadi tuan rumah kala itu.

Meski demikian, ada kisah unik di antara pesepakbola Asia yang tampil di Piala Dunia 2018 yang digelar di Rusia. Anda tidak akan memercayainya. Ada kiper yang benar-benar mengalami kesulitan tingkat tinggi dalam kariernya, sampai dia harus bekerja di tempat cuci mobil. Ada juga pemain yang harus memberi hormat ketika lagu kebangsaan diputar karena mereka terdaftar dalam wajib militer.

Penasaran? Berikut ulasannya mengutip dari BBC Sports (14/6):

Alireza Beiranvand

kiper iran
Alireza Beiranvand, penjaga gawang Timnas Iran. Foto: tnews.ir

Piala Dunia 2018 dan panggilan ke timnas Iran adalah buah jerih payah kiper bertinggi badan 1,94 meter, Alireza Beiranvand. Perjalanan hidupnya tidak berjalan mulus seperti beberapa pesepakbola profesional lainnya.

Beiranvand, 25 tahun, pernah mengalami fase sulit ketika baru memulai perjalanannya sebagai pesepakbola profesional. Ia pernah kesulitan tidur karena uang yang pas-pasan. Beiranvand banting tulang bekerja untuk terus bertahan hidup.

Penjaga gawang yang kini membela klub Iran, Persepolis, pernah bekerja di tempat cucian mobil dan menjadi spesialis pencuci mobil besar karena tinggi badannya. Dia juga pernah bekerja di pabrik pembuatan baju hingga toko pizza.

Kini, semua masa lalu penuh perjuangan Beiranvand akan dijadikannya motivasi, untuk membawa Iran yang berada di grup B Piala Dunia 2018 bersama Spanyol, Portugal, dan Maroko, bertahan lebih lama dari sekedar penyisihan grup. Beiranvand telah mengemas 22 caps dan membantu Iran mencatatkan 11 clean sheets dari 12 laga di kualifikasi grup Piala Dunia 2018.

Milos Degenek

Milos Australia
Milos Degenek, anggota skuat Timnas Australia. Foto:BolaSkors

Namanya cukup berbeda dari kebanyakan warga Australia lainnya. Wajar. Milos Degenek memang bukan pemain asli kelahiran Australia karena dia lahir di Kroasia. Keluarga Degenek dipaksa melarikan diri hingga ke Belgrade, hidup sebagai pengungsi selama perang di Kosovo.

"Saya masih muda saat itu, tapi saya masih melihat hal-hal yang seharusnya dilihat orang," ucap Degenek yang tiba di Sydney, Australia di tahun 2000 dengan hanya membasa dua tas berisi pakaian dan sepatu, serta uang 400 dollar Amerika Serikat.

Di Australia peruntungannya berubah. Degenek pernah membela timnas Australia U17 dan memilih membela negara tempat dia berkembang. Pengemas 18 caps untuk Australia saat ini bermain di klub Jepang, Yokohama F. Marino, setelah sebelumnya bermain di Stuttgart II dan 1860 Munich.

Australia berada di Grup C Piala Dunia 2018 bersama Prancis, Peru, dan Denmark. Mereka dilatih oleh pelatih asal Belanda sarat pengalaman, Bert van Marwijk.

Trio Pemain Korsel

timnas korsel
Skuat Timnas Korea Selatan (Korsel). Foto: Bolaskor

Bersiaplah untuk melihat pemandangan menarik ketika lagu kebangsaan Korsel diputar di Piala Dunia 2018. Anda akan melihat tiga pemain Korsel, Kim Min-woo, Ju Se-jong, dan Hong Chul, memberikan rasa hormat (salute) saat lagu berkumandang diputar. Ini kewajiban yang harus mereka lakukan yang tengah mengikuti wajib militer negara.

Seluruh pria sehat di Korsel di bawah usia 28 tahun memang wajib mengikuti wajib militer. Ketiganya pun masih mengikuti program tersebut. Korsel berada di Grup F pada Piala Dunia 2018 bersama Jerman, Meksiko, dan Swedia. (*/BolaSkor)


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH