Top 10 Survivor of The Year
Kisah Survive Bayu Fajri, Bos Sound System Banting Setir Jadi Penjual Sayur Bayu Fajri terpaksa banting setir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Foto: Instagram/segarsvara)

BAYU Fajri Hadyan limbung. Pihak penyelenggara acara tiba-tiba meminta menarik seluruh uang muka. Bukan cuma satu, melainkan 30 acara batal. "Maret ke April jadi bulan berat buat gue," kata CEO Bayusvara menggambarkan kondisi bisnis penyewaan sound system di masa permulaan pandemi COVID-19. Rencana beroleh pemasukan berlebih di musim tersibuk penyelenggaran acara musik mendadak paceklik.

Pada 10 Maret 2020, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan Pembatasan Sosial Beskala Besar (PSBB) mengharuskan masyarakat belajar, beribadah, dan bekerja dari rumah. Seluruh kegiatan di luar rumah melibatkan banyak orang tak beroleh izin. Termasuk acara musik.

Pembatalan acara musik tentu berimbas pada penundaan atau kandas para penampil beserta kru sampai pihak di belakang beroleh pemasukan. Semestinya, lanjut Bayu, Bayusvara beroleh omzet sekira 200 juta per bulan namun sirna lantaran semua acara dibatalkan.

Kisah Bayu Fajri, Bos Sound System yang Survive Jualan Sayur
Memulai bisnis Segarsvara sejak April 2020. (Foto: Instagram/segarsvara)

Pemasukan nol sementara pengeluaran membayar gaji karyawan juga pemeliharaan alat terus berjalan. Ketika itu Bayusvara, sambungnya, menghabiskan fixed cost untuk cicilan kredit usaha dan kendaraan total sekira 70 juta. Bayu berpikir cepat mencari cara agar bisa membayar semua cicilan. Ia memutuskan menjual beberapa barang operasional.

“Tapi hasilnya nihil. Meskipun udah gue jual dengan harga sangat murah jauh di bawah rata-rata, tetep aja beberapa gak laku,” kata lulusan Filsafat FIB UI tersebut, melirih.

Di kalangan penyelenggara acara musik, Bayusvara acap diperhitungkan mengisi piranti tata suara. Band-Band selaik Payung Teduh, Mocca, Endank Soekamti, dan masih banyak lagi juga telah merasakan pelayanan maksimal dari lini bisnis penyewaan tata suara nan dirintis sedari kampus tersebut.

Selain ongkos operasional, Bayu juga harus menghidupi istri dan satu anak bayi. Pengeluarannya pun tak sedikit.

Baca juga:

Cara Pemilik Toko Alat Tulis Survive Saat Pandemi

Kisah Bayu Fajri, Bos Sound System yang Survive Jualan Sayur
Salah satu karyawan Segarsvara yang mengantarkan pesanan konsumen. (Foto: Instagram/segarsvara)

“Ongkos operasional jalan terus. Setiap hari gue coba muter otak gimana caranya itu bisa ketutup dan pekerja, karyawan atau freelance bisa mendapat kesempatan pemasukan lagi di tengah pandemi ini,” lanjut Bayu.

Di masa sulit tesebut, ia melihat berbagai pihak menggalang donasi bagi pekerja atau orang terdampak pandemi. Namun, alokasi dana selalu tertuju kepada pedagang kaki lima dan ojek daring. Orang panggung tak masuk daftar bantuan. Di masa itu, Bayu seakan berada pada titik terendah.

Ia terkadang masih bersyukur saat beroleh cerita banyak orang susah makan lantaran sama sekali tak ada pemasukan, apalagi saat mertuanya cerita pedagang di pasar tradisional terus buka sampai siang karena sepi pembeli. Dari cerita mertuanya, Bayu sempat terpikir membuka celah di bisnis makanan. Ia lantas bertanaya kepada beberapa teman nan memang telah malang-melintang di indutrsi tersebut.

Kisah Bayu Fajri, Bos Sound System yang Survive Jualan Sayur
Setiap komponen makanan tentu dipikirkan baik-baik kebersihannya. (Foto: Instagram/segarsvara)

“Dari situ gue sadar, masyarakat bisa hidup tanpa event tapi tidak bisa hidup tanpa makan. Terus seolah Allah memang mau kasih jalan," tukasnya. Ia pun semakin menjadi-jadi saat sang istri kembali menimpali cerita banyak pedagang di pasar tradisional mengeluhkan penuruan omzet. "Dari situ gue semakin mantap untuk banting setir menyelamatkan usaha dan para karyawan gue".

Bayu mulai meriset komoditi di pasar. Setelah itu, ia meminta para karyawan menata ulang kebutuhan operasional pada bisnis barunya. Ia membangun kemitraan dengan para pedagang. Meraba teknis dan sistem penjualan. Dirasa sipa, Bayusvara akhirnya bertransformasi.

“Akhirnya dengan modal nekat, gue coba banting setir Bayusvara menjadi Segarsvara,” lanjutnya.

Segarsvara merupakan bisnis baru Bayu sejak April berfokus pada kebutuhan pokok dan sayuran. Ia menjadi perantara antara pembeli dan pedagang di pasar tradisional. Barang dari pasar disortir kemudian dijaga higienitasnya.

Para karyawan mesti ke pasar setiap hari dan harus menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan sarung tangan, masker, dan topi.

“Karena belanja dan mengantar belanjaan ada seni dan SOP harus diperhatikan. Terlebih di tengah pandemi begini SOP keamanan, kebersihan, dan keselamatan perlu sekali diperhatikan,” ungkap Bayu.

Sejak Segarsvara melaju, para karyawan nan semula lihai menggulung kabel, gotong speaker, dan mengoperasikan mixer sound, perlahan mempelajari keahlian baru, memilih dan memilah belanjaan berkualitas di pasar.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Bayusvara (@bayusvara)

Menjalani hal baru butuh adaptasi. Bayu dan para karyawan berkali-kali mengalami kesulitan. Terkadang memilih buah terlalu matang untuk dipasarkan sehingga cepat busuk. Salah membeli jenis cumi. Belum lagi salah menaruh ikan asin kering di cooler box. Pernah juga beli brokoli terlalu kecil.

“Tapi itu semua membaik seiring beberapa hari percobaan. Aku bangga deh,” ujarnya.

Konsep ditanamkan di Segarsvara membeli, mengemas, lalu mengantarkan sembako dan sayur kepada pelanggan. Awalnya, pembeli hanya orang-orang terdekat Bayu, kemudian melebar sampai daerah Jakarta, Tangerang, dan Depok. Bayu memanfaatkan para karyawannya sebagai kurir untuk mengantarkan pesanan.

Seiring berjalannya waktu, Bayu bangga bisa melihat para karyawannya tersenyum kembali dan mendapatkan penghasilan. Ramadhan dan Lebaran menjadi bulan tersibuknya. Kini, omzetnya di Segarsvara bisa meraup keuntungan hingga Rp80 juta.

“Ya walaupun segitu, tetep aja masih kurang untuk menutupi pemasukan bisnis Bayusvara yang sempat sepi beberapa bulan lalu,” kata Bayu.

Baca juga:

Cara Haykal Kamil Survive di Bisnis Fashion Muslim saat Pandemi

Kisah Bayu Fajri, Bos Sound System yang Survive Jualan Sayur
Bayu Fajri yang sedang mempersiapkan event onlinenya. (Foto: Istimewa)

Pilihan membuat Segarsvara sangat tepat mengingat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan sebagian masih enggan membeli langsung di pasar lantaran anjuran tetap berada di rumah. Berdasarkan data dipaparkan McKinsey & Company COVID-19 di Indonesia, sebanyak 32 persen masyarakat lebih banyak membeli makanan dibungkus dan diantarkan.

Angka tersebut tentu sangat signifikan dibandingkan sebelum masa pandemi COVID-19. Selama hampir sembilan bulan masa pandemi COVID-19, permintaan pengantaran makanan ke rumah meningkat pesat sebesar tujuh kali lipat dari biasanya.

Bagi Bayu, pandemi COVID-19 merupakan ajang survival karena ia harus mempertahankan bisnis dan kehidupan rumah tangga serta para kerabat. COVID-19 juga mengajarkannya tentang mengelola bisnis dengan baik, mulai dari survei, melihat peluang, dan branding. Ke depan, Bayu akan tetap melanjutkan bisnis Segarsvara sekaligus membuka semakin banyak lapangan pekerjaan baru.

Bulan demi bulan terlewati. Tak terasa, Bayu semakin nyaman dengan bisnis Segarsvara. Pada Juli lalu, Bayusvara sempat mendapatkan kembali orderan namun terhenti di September ketika PSBB mulai diterapkan.

Mulai November, ia kembali mendapatkan orderan beberapa konser musik daring, tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketika berada di tempat. Bayusvara kembali menggeliat meski belum pulih seperti sebelum pandemi.

“Saya mendoakan dan mengirim semangat kepada semua wiraswasta sedang berjuang mempertahankan usahanya. Semoga kita selalu diberikan jalan untuk terus menghidupi usaha dan karyawan kita. Dan juga teman-teman yang pekerjaannya terdampak COVID-19, semoga senantiasa selalu dimudahkan rezekinya. Tetap optimis!,” tutup Bayu. (and)

Baca juga:

Cerita Survive dan Evolusi Ras Muhamad Terekam di ‘SATRYO’

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Menu Meksiko ala Taco Bell Hadir di Jakarta
Fun
Menu Meksiko ala Taco Bell Hadir di Jakarta

TACO Bell resmi membuka gerai pertamanya di Indonesia.

Sony Rilis Tema ‘Black Lives Matter’ di PlayStation 4
Fun
Sony Rilis Tema ‘Black Lives Matter’ di PlayStation 4

Beberapa perusahaan selain Sony juga mendukung gerakan Black Lives Matter.

Ups! Buah Bisa Jadi Penggagal Diet
Fun
Ups! Buah Bisa Jadi Penggagal Diet

Bisa jadi musuh dalam selimut untuk diet kamu.

Angga Dwimas Sasongko Tegaskan Perang Lawan Pembajak Film
ShowBiz
Angga Dwimas Sasongko Tegaskan Perang Lawan Pembajak Film

"Saya akan pakai segala resources buat masukin kalian ke penjara atau setidaknya bikin hidup kalian enggak nyaman."

Langkah Jitu Nolak Halus Teman yang Chat Cuma Pas Mau Pinjam Uang
Fun
Langkah Jitu Nolak Halus Teman yang Chat Cuma Pas Mau Pinjam Uang

Ladeni saja dulu dengan sans teman kayak gitu.

CEO Spotify Ingin para Musisi Berhenti Protes soal Royalti Streaming
ShowBiz
CEO Spotify Ingin para Musisi Berhenti Protes soal Royalti Streaming

Musisi harus selalu membuat musik untuk tetap berpenghasilan.

Bikin Ikon Costum iPhone, Desainer Ini Raih Rp1,4 Miliar
Hiburan & Gaya Hidup
Bikin Ikon Costum iPhone, Desainer Ini Raih Rp1,4 Miliar

Semuanya didapat dalam seminggu saja.

Lubang Terdalam di Dunia Ada di Rusia
Hiburan & Gaya Hidup
Lubang Terdalam di Dunia Ada di Rusia

Lubang ditutup lempengan cakram logam berukuran besar.

Super Keren, Ini Dia 5 Sepeda Termahal di Dunia
Fun
Super Keren, Ini Dia 5 Sepeda Termahal di Dunia

Ada beberapa jenis sepeda yang dijual dengan harga fantastis.

‘Demon Slayer’ Cetak Rekor di Box Office Jepang
Hiburan & Gaya Hidup
‘Demon Slayer’ Cetak Rekor di Box Office Jepang

Demon Slayer: Mugen Train akan dirilis di Amerika Utara pada awal 2021.