Kisah Sarbumusi Membersihkan Sisa-Sisa PKI Ilustrasi Aksi Massa Sarbumusi. (Foto/nu.go.id).

PABRIK Gula Tulangan, Sidoarjo menjadi saksi lahirnya kaum buruh dari kalangan nahdliyin. Sarikat Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi) resmi dideklarasikan pada 27 September 1955. Kemunculan Sarbumusi tak semudah kemunculan organisasi-organisasi saat ini.

Pada awal lahirnya, Saburmusi yang dipimpin KH Tohir Bakri sering bersitegang dengan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang beafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tohir bahkan sempat perkelahian fisik dengan anggota-anggota SOBSI yang saat itu sangan dominan di Indonesia.

Tampaknya kedua organisasi buruh ini tidak bersahabat dengan gesekan-gesekan kecil. SOBSI yang saat itu dominan takut jika Sarbumusi menjadi besar dan mengurangi jumlah massa mereka.

Menjelang meletusnya peristiwa G.30.S/PKI 1965, suhu politik di tanah air meningkat. Sukarno yang menjadi Presiden saat itu seolah mengeluarkan slogan Nasakom, seolah membimbing politik Indonesia ke arah timur. Posisi ini sangat menguntungkan bagi PKI yang mengayomi SOBSI.

Keadaan ini dimanfaatkan PKI memobilisasi massa pendukungnya yang terdiri dari Pemuda Rakyat dan SOBSI. Mereka dikirim ke Lubang Buaya sebagai relawan Dwikora untk 'merngganyang Malaysia'. Namun pada kenyataannya, akhir September, Njono, anggota Comite Central (CC) PKI memberitau mereka untuk ditugaskan mengawal presiden Sukarno dari kudeta Dewan Jenderal.

KH Hasjkur yang menjadi Ketua Umum Sarbumusi saat itu membau gelagat busuk PKI. Ia langsung mengeluarkan langsung mengitruksikan kepada seluruh anggota Sarbumusi untuk mengambil alih sarana komunikasi, jaringan kereta api, pabrik-pabrik dan sarana vital lainnya.

Anggota SOBSI. (Foto/id.wikipedia.org)
Anggota SOBSI. (Foto/id.wikipedia.org)

Tak berselang lama terjadi tragedi penghabisan PKI. Pasca-G.30.S/PKI semua para anggota PKI dan ormas-ormas termasuk SOBSI ditangkapi. "Setelah kejadian G.30.S/PKI, pengurus Persatuan Buruh Minyak (Perbum) ditangkapi karena menginduk ke SOBSI," kata Rasjid seorang anggota Sarbumusi di Palembang dikutip dari wawancara skripsi Alfanny denga judul 'Sarikat Buruh Muslim Indonesia' (Hal 40).

Mulai saat itu, banyak orang ditangkap oleh pihak militer dengan alasan 'membersihkan sisa-sisa PKI'. Pada saat itu juga Sarbumusi getol untuk menghancurkan sisa-sisa SOBSI di tingkat nasional. Di Kediri misalkan, seorang anggota Sarbumusi berinisial RA memimpin suatu kelompok untuk menghabiskan PKI di Pabrik Gula Tjoekir.

Polisi yang datang dan menyelidiki kasus itu tidak sanggup menangkap RA. Akibatnya, mulai saat itu RA semakin meluas. Rumahnya pun kemudian dijadikan pusat gerakan pembersihan anggota PKI di sekitar kawasan Pabrik Gula Tjoekir. (Zai)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH