Kisah Perjuangan Aktivis 98 di Novel 'Lelaki Di Tengah Hujan' Potret romansa perjuangan Reformasi 1998. (Foto: instagaram@taufikabe)

PENULIS Wenri Wanhar meluncurkan novel berjudul Lelaki Di Tengah Hujan, sebuah novel yang mengangkat kisah-kisah di balik perjuangan aktivis sebelum, ketika dan sesudah Mei 1998.

Wenri Wanhar dalam musyawarah buku di Kantor LBH Pers, Kalibata Timur, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa novel tersebut berisi kisah-kisah perlawanan kaum yang berkesadaran penuh.

"Kaum tersebut meyakini hal yang diyakininya benar dan memperjuangkan itu untuk menuju kemenangan. Garisnya itu," ujar Wenri, Kamis, (16/5).

wenri wanhar
Penulis Wenri Wanhar. (Foto: MP/Ponco)

Novel ini sendiri, lanjut Wenri, dibuka dengan makna azan yang dipahami sebagai 'mantra kaum tertindas'.

"Mantra kaum tertindas, pada masa lahirnya masa azan itu, Bilal. Mantra kaum tertindas menghimpun kekuatan untuk menuju kemenangan," jelas Wenri.

Wenri melanjutkan bahwa novel Lelaki di Tengah Hujan sudah mulai ia garap masa-masa kuliah di sekitar tahun 1999. Ia memulai menulis cerita tersebut dalam sebuah buku catatan.

"Waktu menulis itu juga belum terbayang jadi novel. Gue hanya mencatat aja, menjaga ingatan. Terus kisah itu gue tulis di buku tulis kuliah gue, dan kata-kata pertamanya yang gue tulis itu, dia dulu awalnya berupa puisi," jelas Wenri, "Jadi gue dulu sambil kuliah itu tahun 1999, gue sambil ngamen di Jakarta sini. Ngamen itu ngamen puisi, bawa suling baca puisi," sambung Wenri.

Wenri juga melanjutkan dalam prosesnya menulis novel, dirinya rela menyambangi sejumlah tempat serta saksi hidup terjadinya peristiwa 98.

wenri
Menulis kisah kecil dalam perjuangan yang besar. (Foto: MP/Ponco)

Wenri bahkan sempat datang ke Solo tempat dimana Wiji Tukul tinggal untuk mendalami cerita tersebut dalam novelnya.

"Selama ini kita mengenal syairnya, kita mendengar namanya, tapi bagaimana kisahnya, ya gue ke Solo cari kekuarganya, jumpa sama keluarganya, waktu itu anaknya masih kecil. Wawancara, ya ada proses, tidak langsung gampang- gampang saja wawancaranya," papar Wenri.

Dengan kondisi demikian, Wenri berharap, agar buku ini dapat menyampaikan tentang pemikiranya terkait sejarah reformasi di tahun 1998 kepada generasi penerus bangsa.

"Karena dalam sejarah itu ada pengalaman. Kalau dalam sejarah itu ada hal-hal yang tidak baik ya jangan diulangi. Kalau ada yang baik ya ayok diteruskan," ujar Wenri.

Wenri pun menekankan bahwa sejarah harus dapat menjadi sebuah pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Hal tersebut lantaran selama ini ada yang menarasikan sejarah untuk memercikan dendam.

"Karena hemat saya sejarah ada untuk dipelajari sejernih-jernihnya, di dudukan sebaik-baiknya, kemudian setelah baca sejarah ya sudah memaafkan. Karena kita mau mengedepankan persatuan untuk melangkah maju kedepan" papar Wenri.

aktivis 98 wenri wanhar
Penulis 'Lelaki Di Tengah Hujan' Wenri Wanhar. (Foto: MP/Ponco)

Novel ini menceritakan narasi pinggiran yang tak banyak diketahui dari narasi besar perjuangan 98 selama ini. Kisah sejarah perjuangan para pemuda di sini dibalut dengan sajian fiksi roman dengan tokoh utama Bujang Parewa.

Parewa adalah mahasiswa UNS yang mulai sadar akan ketertindasannya saat ia mulai tergabung dalam kegiatan pers mahasiswa hingga tercebur dalam konsolidasi gerakan mahasiswa.

Berbagai kisah mulai dari peta politik bangsa saat itu, sejarah aktivisme kaum muda yang bergerilya dari kota ke kota, hingga kisah-kisah asmara dan persahabatan semua terekam dalam novel ini sekaligus. (Pon)

Baca Juga : Kawal Pengumuman Hasil Pemilu, Aktivis 98 Bakal Duduki KPU dan Bawaslu

Kredit : ponco


Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH